Ibn al-Shatir - Astronom Muslim dari Arab

Ibn al-Shatir - Astronom Muslim dari Arab

Model Ibn al-Shatir untuk penampilan Merkurius, menunjukkan perbanyakan epicycles di perusahaan Ptolemaic
Model Ibn al-Shatir untuk penampilan Merkurius, menunjukkan perbanyakan epicycles di perusahaan Ptolemaic
Ibn al-Shatir atau Ibn ash-Shatir ( Arab : ابن الشاطر; 1304-1375) adalah seorang astronom Arab Islam. Dia bekerja sebagai muwaqqit (موقت, pencatat waktu agama) di Masjid Umayyah di Damaskus dan membangun sebuah jam matahari yang megah untuk menara pada 1371-1372.

RisalahIbn al-Shatir yang paling penting tentang astronomi adalah Kitab Nihayat al-sul fi tashih al-ushul ( "Pertanyaan Akhir Mengenai Perbaikan Prinsip"). Di dalamnya secara drastis ia mereformasi model Matahari karya Ptolemeus, Bulan dan planet-planet, menghilangkan eksentrik dan equant dengan memperkenalkan tambahan epicycles (Episiklus).

Meskipun sistem geosentrisnya tegas (ia telah menghilangkan eksentrik Ptolemaic), rincian matematis sistemnya yang identik dengan yang di Copernicus De revolutionibus.  Tidak diketahui apakah Copernicus baca ibn al-Shatir. (Sumber: https://en.wikipedia.org/wiki/Ibn_al-Shatir
)
Read More
Biografi Ibn al-Majdi - Matematikawan dan Astronom Mesir

Biografi Ibn al-Majdi - Matematikawan dan Astronom Mesir

Masjid Muhammad Ali di Kairo, Mesir
Masjid Muhammad Ali di Kairo, Mesir
Shihab al-Din ibn al-Majdi adalah seorang matematikawan dan astronom Mesir. Ibn al-Majdi adalah seorang pemuka dalam berbagai bidang perhitungan (hisab), geometri (handasah), astronomi (hai’ah, falak), faraid, dan ilmu waktu.

Syiḥābuddīn Abū al-Abbās Ahmad bin Rajab bin Taibugā al-Majdy al-‘Allā’i bin Abdillāh al-Qāhiry asy-Syāfi’i. Populer dengan nama Ibn al-Majdi (Ibn Majdi), nisbah kepada kakeknya (Ibn Taibugā al-Majdi al-‘Allā’i), dilahirkan di kota Kairo pada bulan Dzulhijah tahun 767/1366.

Ia hidup pada masa puncak berkembang dan bergejolaknya ilmu pengetahuan di dunia Arab (abad 8-9/14-15). Pengetahuan luar biasa Ibn al-Majdi ini dapat dibuktikan melalui karya-karya yang ia tinggalkan meski sebagiannya hilang. As-Suyuthi mengatakan, Ibn al-Majdi dengan kecerdasannya begitu unggul dalam berbagai cabang ilmu yang tidak banyak ulama yang mampu mengimbanginya pada masanya. Ibn al-Majdi adalah seorang pemuka dalam berbagai bidang perhitungan (hisab), geometri (handasah), astronomi (hai’ah, falak), faraid, dan ilmu waktu.

Ibn al-Majdi dikenal sangat rajin dalam menuntut ilmu. Al-Sakhāwi (w. 902/1496) dan Al-Syaukāni (w. 1250/1834) menuturkan bahwa Ibn Majdi lebih banyak menghabiskan waktu di kediamannya yang berdekatan dengan Masjid Al-Azhar. Ia dikenal dermawan, gemar memberi bantuan kepada para pelajar yang kurang mampu. Beberapa gurunya adalah: Al-Bulqaini, Ibn Mulaqqin, Al-Kamāl ad-Damīri as-Syarf Mūsā bin al-Bābā, Asy-Syams al-‘Irāqi, At-Taqī bin ‘Izzuddīn al-Hanbali, asy-Syams al-‘Ajami, dan al-Mihyawi al-Qurawi.

Ibn Majdi memiliki pengetahuan luas dalam berbagai disiplin ilmu. Namun demikian keahlian utamanya adalah astronomi dan metematika. Ia hidup pada masa-masa puncak berkembang dan bergejolaknya ilmu pengetahuan dunia yaitu abad 8-9/14-15, era Mamalik. Cakrawala pengetahuan Ibn Majdi dapat terlihat melalui karya-karya yang ia tinggalkan meski sebagian besar telah hilang. Al-Suyūṭi (w. 912/1506) mengatakan, di zamannya Ibn Majdi unggul dalam berbagai cabang ilmu dimana tidak banyak orang yang mampu mengimbanginya. Beberapa literatur bibliografi bahkan menyebutkan Ibn Majdi adalah seorang terkemuka dalam bidang aritmetika, geometri, astronomi, faraid dan tata waktu (mīqāt). Selain itu, ia juga menguasai fikih dan nahwu (bahasa Arab).

Karya spektakulernya adalah koleksi tabel-tabel astronomi hasil observasi benda-benda langit yang ia kumpulkan, dikenal dengan zij. Zij sendiri merupakan karya populer yang pada umumnya ditekuni para astronom waktu itu. Tabel milik Ibn Majdi yang paling terkenal adalah “Ad-Durr al-Yatīm fī Sinā’ah at-Taqwīm” yang memuat data-data astronomis harian planet-planet dan benda-benda langit. Keunggulan zij milik Ibn Majdi ini tampak dari banyaknya ulama yang melakukan penelaahan atasnya di masanya dan masa sesudahnya. Ibn Majdi sendiri tercatat pernah memberi penjelasan (syarh) terhadap zijnya ini.

Berikutnya Izzuddīn al-Wafā’i (w. 874/1469), Ibn Abi al-Fath as-Sūfi (w. 883/1478), Hasan bin Khalīl al-Karādīsi (w. 887/1482) dan lainnya tercatat pernah menelaah dan memberi komentar (syarh) terhadap zij ini. Hal ini tidak lain menunjukkan posisi ilmiah Ibn Majdi dan urgensi “Ad-Durr al-Yatīm fī Sinā’ah at-Taqwīm” dalam sejarah keilmuan astronomi. Al-Suyūṭi dalam “Al-Dau’ al-Lāmi’” secara tegas mengapresiasi karya ini dengan mengatakan “… wa huwa nafīsun fī bābihi” (…buku ini sangat baik dalam tema bahasannya). Di era kontemporer, David King bersama E.S. Kennedy tercatat pernah melakukan penelitian atas karya ini, tertuang dalam sebuah artikel berjudul “Ibn al-Majdi’s Table for Calculating Ephemerides”.


Karya

Seperti dikemukakan, kepiawaian utama Ibn Majdi adalah bidang astronomi dan matematika dimana keduanya berhubungan erat. Dua keahlian keilmuan ini tercermin dalam karya-karya yang ia tulis. Melalui penelaahan beberapa diantaranya, ditemukan gambaran mengenai pengetahuannya, baik dalam ranah teori maupun praktik. Uraiannya terkait perhitungan dan praktik astronomis –khusunya penanggalan (kalender)– terbilang lengkap dan rinci di zamannya. Persoalan ini ia kupas dalam karyanya berjudul “Al-Manhal al-‘Ażb az-Zulāl fī Hall at-Taqwīm wa Ru’yah al-Hilāl” dan “Khulaṣah al-Aqwal fī Ma’rifah al-Waqt wa Ru’yah al-Hilāl”. Keduanya berbicara tentang metode penentuan awal bulan dengan cara mengamati bulan sabit.

Sementara sumbangannya di bidang astronomi teoretis adalah terobosannya terkait perbedaan ukuran jarak terjauh matahari, standardisasi dan interpolasi gerak planet dalam orbitnya yang berbeda antara satu lokasi dengan lokasi lain, penentuan berbagai arah melalui ketinggian kutub, menentukan arah dari berbagai tempat bidang datar maupun bidang miring. Ia juga piawai menentukan ketinggian matahari yang sinarnya tidak jatuh (sampai) di suatu tempat.

Sumbangan lainnya adalah Ibn Majdi tercatat pernah memberi koreksi (tanqīh) terhadap teori-teori yang dikemukakan Ptolemeus. Berikutnya King menyebut Ibn Majdi sebagai prototipe (namūżaj) astronomi di era Mamalik.

Astronomi sebagai disiplin ilmu yang paling ditekuni Ibn Majdi pada akhirnya membuatnya banyak menulis karya di bidang ini. Berdasarkan informasi tertulis, karya-karya Ibn Majdi saat ini tersebar di berbagai negara: Mesir, Suriah, Irak, Belanda, Inggris, dan Prancis.

Beberapa karyanya - seperti tertera dalam buku-buku bibliografi - adalah: Irsyād as-Sā’il ilā Uṣūl al-Masā’il, Irsyād al-Hā’ir ilā Takhṭīṭ Faḍl ad-Dā’ir, Zād al-Musāfir li Ma’rifah Faḍl ad-Dā’ir,
Kitāb al-‘Amal bi Rub’ al-Muqanṭarāt, Tuhfah al-Habīb fī Naṣb al-Bāżāhij wa al-Mihrāb, Khulaṣah al-Aqwāl fī Ma’rifah al-Waqt wa Ru’yah al-Hilāl, Ar-Rauḍ al-Azhār fī al-‘Amal bi ar-Rub’ al-Musattar, Al-Fuṣūl al-‘Asyrah fī al-‘Amal bi ar-Rub’ al-Muqanṭarāt fī ‘Ilm al-Mīqāt li Ma’rifah al-Waqt wa al-Qiblah, Al-Manhal al-‘Ażb az-Zulāl fī Ma’rifah Hisāb al-Hilāl, Al-Qaul al-Mufīd fī Jāmi’ al-Uṣūl wa al-Mawālid, Ad-Durar fī Mubāsyir al-Qamar, Risālah fī al-‘Amal bi al-Jaib, Ad-Dau’ al-Lā’ih fī Waḍ’ al-Khuṭuṭ ‘ala Safā’ih, Risālah fī ar-Rub’ al-Hilāli, Risālah fī Istikhrāj at-Tawārikh Ba’ḍuhā min Ba’ḍ, Risālah fī Ikhrāj al-Qiblah min Gair Dā’irah Iṡnā ‘Asyara Baitan, At-Tashīl wa Taqrīb fī Turuq al-Hall wa at-Tarkīb, Al-Isyārāt fī Kaifiyyah al-‘Amal bi al-Mahlūlāt, Ad-Durr al-Yatīm fī Sinā’ah at-Taqwīm, Kasyf al-Haqā’iq fī Hisāb ad-Duruj wa ad-Daqā’iq, Al-Kawākib al-Muḍi’ah fī al-‘Amal bi al-Masā’il ad-Dauriyyah, Ta’dīl az-Zuhal, Ta’dīl al-Qamar al-Muhkam, Risālah fī al-Mizwalah al-Mu’iddah li Ma’rifah al-Auqāt, Waraqāt fī Kaifiyyat Rasm ad-Dustūr wa Waḍ’ mā Yahtāj Ilaihi li Taqwīm al-Qamar Sanah Kāmilah, Gunyah al-Fahīm wa aṭ-Tarīq Ilā Hall at-Taqwīm.

“Gunyah al-Fahīm wa aṭ-Tarīq Ilā Hall at-Taqwīm” adalah satu diantara karya Ibn Majdi yang sejak tahun 2009 berhasil ditelaah secara akademis. Buku ini berisi pembahasan ragam dan corak penanggalan berbagai peradaban. Bab pertama buku ini berbicara mengenai sistematika penanggalan dengan model kabisat dan basitatnya. Juga penjadwalan waktu (momen) hari-hari besar, pergantian musim, terbit-tenggelam manzilah bulan-matahari dan meteorologi. Bab kedua tentang penanggalan tujuh planet populer di zaman itu, juga pembahasan mengenai “ar-rujū’”, “al-istiqāmah”, “al-jauzahr”, “al-kaid” dan lain-lain. Sementara bab ketiga (bab terakhir) berbicara tentang efek gerak posisi planet pada waktu diam dan bergerak, pembahasan satelit, pergantian musim, rukyatul hilal, jadwal konjungsi dan oposisi, gerhana (bulan dan matahari), dan lain-lain.

Ibn al-Majdi wafat di kota Kairo,Mesir pada malam Sabtu, 11 Dzulhijah 850/1447, ia hidup hingga mencapai usia 84 tahun.

Sumber: Museum Astronomi Islam, "Ibn Majdi (w. 850/1447) : Astronom Muslim Abad Pertengahan", Penulis: Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar
Read More
Ibn Al Banna al Marrakushi - Ahli Matematika, Astronomi & Metafisika Muslim

Ibn Al Banna al Marrakushi - Ahli Matematika, Astronomi & Metafisika Muslim

Masjid di Maroko

Ibn al‐Bannāʾ al‐Marrākushī al-Azdi, juga dikenal dengan nama Abu'l-Abbas Ahmad ibn Muhammad ibn Uthman al-Azdi (Arab: ابن البنّاء‎‎) (654-721 H / 29 December 1256 - 1321 M), adalah Seorang cendekiawan terkemuka asal Maroko. Ia termasyhur karena keahliannya dalam matematika, astronomi, astrologi dan metafisika. Ibnu al-Banna al-Marrakushi dikenal sebagai matematikus Muslim legendaris dari Maroko pada abad ke-13 M.

Sebuah kawah di bulan, Al-Marrakushi adalah nama dari Ilmuwan ini.


Biografi

Abu al abbas Ahmad bin Muhammad bin utsman al Azdi ibn al banna al marakhusi lahir di kota Marrakesh Maroko pada 654  / 29 December 1256 M. Ada pula yang menyebut al-Banna terlahir di Granada di Spanyol dan kemudian hijrah ke Afrika Utara untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman hidup. Al-Banna menghabiskan sebagian besar hidupnya di Maroko.

Setelah belajar ilmu keagamaan (fiqih, hadits, tafsir dan lain-lain) dikampungnya, ia kemudian mendalami matematika dan ilmu kedokteran.

Ia pernah dekat dengan Saint Aghmat, Abu Zayd Abdurrahman al hazmiri yang selalu mengarahkan dan memanfaatkan pengetahuannya untuk tujuan ramalan / prediksi. Ia beberapa kali memenuhi undangan sultan Marinid di Fez, sekaligus untuk mengumpulkan murid-muridnya yang ada di Fez dan maroko.

Para ahli biografi memuji dalam kerendahan hatinya, kesalehan dan kealimannya. Pribadi dan tingkah lakunya hampir tanpa cela. Sebagai seorang ilmuwan yang hebat, al-Banna pernah mendapat penghargaan yang tinggi dari Ibnu Khaldun. Ibnu Khaldun berharap agar karya-karya al-Banna dapat dikembangkan para ilmuwan sepeninggalnya.

Untuk mengenang jasa-jasanya bagi kemajuan matematika, para ilmuwan dunia mengabadikan namanya di salah satu kawah bulan yang diberi nama al-Marrakushi.

Al-Banna menjadi satu dari 24 ilmuwan Muslim legendaris yang namanya diabadikan di kawah bulan. Ia meninggal di Maroko pada 721 H / 1321 M.


Pemikiran

Ibn Al Banna merupakan penulis produktif yang telah menghasilkan karya lebih dari 80 judul buku dalam berbagai cabang ilmu yang bervariasi: Nahwu, balaghah, fiqih, kalam, tafsir, logika, magic, faraid, ramalan, astronomi, meteorologi dan matematika. Ia juga menulis ringkasan karya Al ghazali, Ihya Ulumuddin. Namun hanya sebagian karyanya yang dapat bertahan sampai sekarang ini. Dari sekian banyak karyanya, yang paling penting adalah Talkhis fi Amal al-Hisab, yang menjadi perhatian para ilmuwan. Karyanya itu juga telah diterjemahkan oleh A Marre, dan diterbitkan secara terpisah, di Roma pada 1865.

Ia dikenal sebagai figur legendaris dan dianggap sebagai seorang ahli magic yang mampu melakukan hal-hal yang luar biasa yang dilakukan dengan cara penerapan pengetahuan ilmiyahnya.

Dalam bidang matematika, Kontribusinya bagi pengembangan matematika sungguh sangat tak ternilai. Ia membuat beberapa rumus aljabar tingkat tinggi, khususnya perhitungan yang melibatkan pecahan dan akar pangkat dua. Ia juga ilmuwan besar yang mampu menguraikan prinsip-prinsip perhitungan bentuk ghubar (Hisab ghubar adalah suatu cara perhitungan yang berasal dari Persia).

Lewat kitab yang ditulisnya bertajuk Talkhis Amal al-Hisab (Ringkasan dari Operasi Aritmatika) dan Raf al-Hijab, ia memperkenalkan beberapa notasi matematika yang membuat para sejarawan sains dan ilmuwan percaya bahwa simbolisme Aljabar pertama kali dikembangkan peradaban Islam. Menurut sejumlah catatan sejarah, Al-Banna dan A-Qalasadi merupakan penemu notasi matematika. Dedikasinya dalam mengembangkan matematika telah diakui dunia.


Karya
  • Risalah fi al Ahwa - Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Prancis dengan judul Le Calenderier ‘Ibn al banna al marrokech, oleh HPJ Renand, Paris, 1948.
  • Talkhis fi Amal al-Hisab
  • Raf al hijab ‘an Ilm al Hisab
  • Masa’il fi al adad at tamim wa an Naqis
  • Qanun li fasl asy Syam wa al Qomar wa awqat al Layl wa an Nahar
  • Minhaj at Talin li Ta’dil al kawakib, tentang tabel astronomi.
  • Risalah fi Ilm al-Masaha,
  • al-Maqalat fi al-Hisab,
  • Tanbih al-Albab, Mukhtashar Kafi li al-Mutallib,
  • Kitab al-Ushul al-Muqaddamat fi al-Jabr wa al-Muqabala,
  • Kitab Minhaj li Ta’dil al-Kawakib,
  • Qanun li Tarhil asy-Syams wa al-Qamar fi al-Manazil wa ma Kifat Auqat al-Lain wa al-Nahar,
  • Kitan al-Yasar Taqwim al-Kawakib as-Sayyara,
  • Madkhal an-Nujum wa Taba’i al-Huruf,
  • Kitab fi Ahkam al-Nujum
  • Kitab al-Manakh

Sumber: www.ensikperadaban.com, "Ibn Al Banna al Marrakushi"
Read More
Al-Samawal al-Maghribi - Matematikawan Muslim, Astronom dan Dokter Keturunan Yahudi

Al-Samawal al-Maghribi - Matematikawan Muslim, Astronom dan Dokter Keturunan Yahudi

Al-Samawal al-Maghribi
Masjid Casablanca di Maroko
Al-Samaw'al bin Yahya al-Maghribi ( Arab :.. السموأل بن يحيى المغربي; c 1130 - c 1180), umumnya dikenal sebagai Samau'al al-Maghribi, adalah matematikawan Muslim , astronom dan dokter. Meskipun lahir dari keluarga Yahudi, ia menyembunyikan masuk Islam selama bertahun-tahun karena takut menyinggung ayahnya, kemudian secara terbuka memeluk Islam pada 1163 setelah ia bermimpi ayahnya menyuruhnya untuk melakukannya. ayahnya adalah seorang Rabbi dari Maroko.

Al-Samaw'al menulis risalah matematika al-Bahir fi'l-jabr, yang berarti "brilian dalam aljabar", pada usia sembilan belas. Ia juga mengembangkan konsep bukti matematika dengan induksi, yang digunakan untuk memperluas bukti teorema binomial dan segitiga Pascal yang sebelumnya diberikan oleh al- Karaji.

Argumen induktif Al-Samaw'al adalah hanya langkah pendek dari bukti induktif penuh dari teorema binomial umum.

Dia juga menggunakan dua konsep dasar induksi matematika, meskipun tanpa menyatakan secara eksplisit. Dia menggunakan ini untuk memperpanjang hasil untuk teorema binomial hingga n = 12 dan segitiga Pascal sebelumnya diberikan oleh al-Karaji.


Polemik

Ia juga menulis buku polemik terkenal dalam bahasa Arab memperdebatkan agama Yahudi dikenal sebagai Ifḥām al-Yahud (Confutation orang Yahudi) atau dalam bahasa Spanyol Epistola Samuelis Maroccani dan kemudian dalam bahasa Inggris dikenal sebagai The Yahudi diberkati Maroko.

Ayah Al-Samawal adalah Abul-Abbas Yahya al-Maghribi, seorang sarjana Yahudi bidang agama dan sastra. Abul-Abbas lahir di Fez di Maroko dan kemudian pindah ke Baghdad di mana ia tinggal pada saat kelahiran al-Samawal's. Ibu Al-Samawal, Anna Levi Ishak, telah pindah dari Basra di Irak. Tentu saja Al-Samawal dibesarkan di sebuah keluarga di mana belajar sangat dihargai dan topik pertama yang menarik baginya adalah obat.

Mungkin daya tarik utama dari topik ini berasal dari fakta bahwa ia memiliki paman seorang dokter medis. Pada waktu yang sama seperti ia mulai belajar ilmu kedokteran,  Al-Samawal juga mulai belajar matematika. Kira-kira tiga belas tahun ketika ia mulai belajar serius, dimulai dengan metode perhitungan Hindu dan studi tabel astronomi.

Saat itu, Baghdad bukanlah pusat terbesar untuk belajar matematika, dan Al-Samawal telah segera menguasai semua matematika yang diajarkan guru-gurunya, mencakup beragam topik termasuk pengantar survei, aljabar dasar, dan geometri dari beberapa buku pertama dari Elemen Euclid.

Dalam rangka mengambil studi matematika lebih lanjut, Al-Samawal harus belajar sendiri. Ia membaca karya Abu Kamil, al-Karaji, dan lain-lain sehingga pada saat ia berusia delapan belas tahun, ia telah membaca hampir semua literatur matematika yang tersedia.

Pekerjaan yang paling terkesan baginya adalah al-Karaji, namun ia mendapati dirinya kurang puas dengan itu dan mulai bekerja di luar perbaikan untuk dirinya sendiri. Paling terkenal risalahnya al-Bahir fi'l-Jabr, Artinya cemerlang dalam aljabar, ditulis ketika Al-Samawal berusia sembilan belas tahun. Ini adalah pekerjaan yang sangat penting baik yang yang mengandung ide-ide asli dan juga untuk informasi bahwa catatan tentang bekerja dengan al-Karaji yang sekarang hilang.


Risalah Al - Bahir

Al-Bahir terdiri dari empat buku: (1) premis, perkalian, pembagian dan akar kuadrat, (2) akar pangkat tak hingga, (3) Jarak irrational, dan (4) Klasifikasi masalah. Pendahulu Al-Samawal sudah mulai berkembang apa yang disebut oleh para sejarawan hari ini "arithmetisation aljabar". Bahkan Al-Samawal adalah orang pertama yang memberikan perkembangan ini gambaran yang tepat ketika ia menulis bahwa:

Setelah menulis al-Bahir, Al-Samawal bepergian ke banyak negara seperti Irak, Suriah, Kohistan (daerah pegunungan di Pakistan dan Afghanistan) dan Azerbaijan (barat laut Iran). Kita tahu dari tulisannya sendiri bahwa ia berada di Maraghah di Azerbaijan pada tanggal 8 November 1163, karena pada tanggal tersebut Al-Samawal membuat komitmen kepada iman Islam. Keputusan ini tidak diambil tanpa banyak pemikiran oleh Al-Samawal. Dia telah menaruh banyak upaya ke pengujian validitas klaim yang dibuat oleh agama-agama besar dan ia melaporkan bahwa pada tanggal 8 November 1163 ia memutuskan bahwa Islam adalah yang paling memuaskan. Dia menulis karya bantahan tegas orang-orang Kristen dan Yahudi. Kebanyakan dari karya-karya Al-Samawal telah hilang, tapi ia dilaporkan telah menulis 85 buku atau artikel.


Sumber:
Read More
Ibn al-Wardi - Ilmuwan Muslim, Ahli Ilmu Bumi (Peta Dunia)

Ibn al-Wardi - Ilmuwan Muslim, Ahli Ilmu Bumi (Peta Dunia)

Altlas karya Ibn al-Wardi
Atlas Ibn al-Wardi tentang dunia, naskah disalin di abad ke-17
Biodata Ibn al-Wardi
  • Bidang: Ahli sejarah
  • Lahir: 1292, Maarrat al-Nu'man, Suriah
  • Meninggal: 1349, Aleppo, Suriah
  • Orang tua: Muẓaffar bin Amr bin Muhammad Ibn Abi Alfawares
Abu Hafsh Zayn al-Din 'Umar ibn al-Muzaffar Ibn al-Wardi ( Arab : عمر ابن مظفر ابن الوردي), dikenal sebagai Ibn al-Wardi, adalah seorang sejarawan Arab yang hidup antara tahun 691 (1291/1292) - 749 (1348 / 1349).


Karya:
  • Kharîdat al-'Ajâ'ib wa farîdat al-gharâib (Arab: خريدة العجائب وفريدة الغرائب). ( "Mutiara keajaiban dan Keunikan hal-hal aneh"). Karya ini disertai dengan peta dunia berwarna dan gambar Ka'bah. Merangkum pengetahuan geografis dunia Arab waktu itu, mengacu pada iklim, medan, fauna dan flora, populasi, cara hidup, negara yang ada dan pemerintah mereka di masing-masing daerah di dunia. Penulis juga berbicara tentang Slavia dan gaya hidup mereka dan menyebutkan al-Mahdiyya sebagai kediaman dinasti Fatimiyah. Oleh karena itu, buku ini lebih tua dari kota Kairo (didirikan pada 969 CE). Al-Warda membuat referensi dalam karyanya untuk buku oleh al-Mas'udi.
  • Tarikh Ibn al-Wardi (The History oleh Ibn al-Wardi).
Sumber: en.wikipedia.org
Read More
Biografi Ibnu Hawqal - Ahli Geografi Muslim Pembuat Peta / Atlas Dunia

Biografi Ibnu Hawqal - Ahli Geografi Muslim Pembuat Peta / Atlas Dunia

Peta dunia abad ke-10 oleh Ibnu Hawqal.
Peta dunia abad ke-10 oleh Ibnu Hawqal. 
Muhammad Abul Qasim Ibnu Ḥawqal atau Mohammed Abul-Kassem ibnu Hawqal ( Arab : محمد أبو القاسم بن حوقل, ) atau dalam sejarah peradaban Islam biasa disebut Ibnu Hawqal, adalah seorang seorang Ilmuwan Muslim, ahli geografi yang meluncurkan surat Al-ardh atau ‘peta bumi’ yang ditulisnya pada tahun 977 M. Kitab berisi peta bumi yang ditulisnya seringkali disebut sebagai al- Masalik wa al-Mamalik. Selain, dikenal sebagai geografer fenomenal, Ibnu Hawqal dikenal sebagai saudagar dan penjelajah kenamaan dari dunia Arab. Ibnu Hawqal juga tercatat sebagai seorang sastrawan Arab terkemuka. Namun, sebagian besar hidupnya didedikasikan untuk me ngembangkan geografi. 

Ibnu Hawqal lahir di Nisibis, sebuah kota di Provinsi Mardin, sebelah tenggara Turki pada 15 Mei 943 M. Kisah hidupnya tak banyak terungkap. Bahkan, kisah masa kecilnya nyaris tak pernah ada. Yang terungkap hanyalah kisah perjalanan yang mem buatnya dikenal sebagai geografer dan penjelajah ulung.

Hampir 30 tahun sisa hidupnya digunakan untuk melakukan perjalanan dan petualangan mengelilingi sebagian besar dunia. Atas permintaan geografer Muslim bernama Al- Istakhri (951 M), Ibnu Hawqal pun melakukan penjelajahan hingga ke Spanyol. Perjalanan itu dilakukannya untuk memperbaiki peta-peta dan teks penjelasan geografinya. Ibnu Hawqal kemudian menulis ulang seluruh buku itu, lalu menerbitkannya kembali dengan judul al-Masalik wa al-Mamalik (Jalan dan Kerajaan), demikian Philip Khuri Hitti dalam karyanya History of the Arabs.


Perjalanan selama 30 tahun

Asia - Afrika - Selama 30 tahun berpetualang menelusuri negara demi negera, membuat Ibnu Hawqal sempat menginjakan kakinya di kawasan Asia dan Afrika yang terpencil sekalipun. Dalam salah satu penjelajahan, Ibnu Hawqal terbawa sampai ke daerah yang berlokasi di 20 derajat selatan dari khatulistiwa sepanjang pantai Afrika Timur. Kemudian Ibnu Hawqal menggambarkannya dalam peta serta menuliskan secara rinci kelebihan dan bentuk negara tersebut. Menurutnya, di wilayah itu terdapat orang-orang Yunani yang bekerja menggunakan logika dibandingkan pengalaman.

Sicilia - Salah satu kehebatan Ibnu Hawqal adalah mampu menjelaskan sebuah wilayah secara akurat. Tak heran, jika peta yang diciptakannya telah berhasil memandu para wisatawan dan penjelajah. Surat Alardh yang diciptakannya mampu menjelaskan secara rinci wilayah Spanyol Muslim, Italia dan khususnya Sicilia, serta ‘’Tanah Romawi’‘ istilah yang digunakan dunia Muslim untuk menjelaskan kekaisaran Byzantium.

Lewat catatan perjalanannya, Ibnu Hawqal mengisahkan hasil pengamatannya yang menyebutkan tak kurang ada 360 bahasa yang digunakan masyarakat di Kaukasus  bahasa Azeri dan Persia menjadi bahasa pergaulan masyarakat di wilayah itu. Ia juga memberikan gambaran mengenai Kiev, dan telah menyebutkan rute dari Volga Bulgars dan Khazars. Ia juga memaparkan tentang Sicilia wilayah otonom di Italia Selatan.

Peta abad ke-10 dari laut Kaspia, oleh Ibn Hawqal
Peta abad ke-10 dari laut Kaspia, oleh Ibn Hawqal
Palermo - Ibnu Hawqal sangat mengaggumi Palermo, ibukota Sicilia. Kota dengan 300 masjid, begitulah di menjuluki kota yang sempat dikuasai umat Islam itu. Secara mengagumkan, Ibnu Hawqal mampu menggambarkan suasana Palermo pada tahun 972 M. Dalam catatan perjalanannya bertajuk, Al-Masalik wal Mamlik, Ibnu Hawqal mengaku tak pernah menemukan sebuah kota Muslim dengan jumlah masjid sebanyak itu, sekalipun luasnya dua kali lebih besar dari Palermo.

Pada saat yang sama, pelancong Muslim kondang itu juga menyaksikan kehebatan University of Balerm sebuah perguruan tinggi Islam terkemuka di kota Palermo, Sicilia. Hampir selama tiga abad lamanya, umat Muslim di era keemasan berhasil mengibarkan bendera kejayaan dengan peradabannya yang terbilang sangat tinggi di wilayah otonomi Sicilia.

Basrah, Irak - Ibnu Hawqal juga termasuk dalam sederet ilmuwan terkemuka yang telah mengharumkan nama Islam di Basrah, Irak. Kota yang dikenal sebagai penghasil kurma berkualitas tinggi itu di dirikan oleh umat Islam pada 636 M era kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Sejak dahulu kala, Basrah sangat terkenal dengan saluran atau kanal airnya. Pada abad ke-10 M, jumlah kanal yang ada di kota itu mencapai 100 ribu. Sebanyak 20 ribu di antaranya bisa dilalui kapal. Nahr Ma’kil merupakan saluran utama yang menghubungkan Basrah ke Baghdad, jelas Ibnu Hawqal menggambarkan kota yang kerap dijuluki Venesia Timur Tengah itu.


Ahli Geografi Muslim

Ibnu Hawqal adalah seorang ahli Geografi Muslim yang unik. Peta yang dihasilkannya memiliki nilai artistik yang tinggi, dengan skema gambar yang unggul. Pada zaman itu, kompas sangat diperlukan untuk menentukan letak sebuah wilayah secara akurat. Peta yang dibuatnya begitu jelas. Ia menunjukkan perjalanannya melalui peta yang berisi petunjuk jalan dan kota-kota.

Sayangnya, Ibnu Hawqal belum mencantumkan jarak antara satu kota dengan kota lainnya. Peta yang dibuatnya kerap disebut sebagai Atlas Islam. Tak heran, jika peta yang diciptakan Ibnu Hawqal banyak di sadur orang dan dijadikan model lain Arab dan Persia.

Peta abad ke-10 dari laut Kaspia, oleh Ibn Hawqal
Peta abad ke-10 dari laut Kaspia, oleh Ibn Hawqal
Ibnu Hawqal dalam risalahnya al-Masalik wa al-Mamalik, mengatakan, dalam perjalanan dari lembah Indus, Ibnu Hawqal bertemu dan Al- lstakhri. Saat itu Al-Istakhri memberikannya pelajaran penting. Dia (Istakhri) menunjukkan saya peta geografis dalam karyanya, dan saya diminta memberi komentar,’‘ ungkap Ibnu Hawqal. Keduanya lalu bersepakat, Ibnu Hawqal diminta untuk melengkapi karya al- Istakhri itu. Berkat sentuhannya, karya geografi yang dirintis Al-Istakhri itu menjadi lebih maju dan bagus. Ibnu Hawqal mengatakan, Saya telah menjelaskan semua mengenai bumi. Saya telah memberikan pandangan tentang provinsi-provinsi yang ada di wilayah dunia Islam.’‘ Ia menyadari satu hal yang kurang dari karyanya itu. ‘’Saya tidak melakukan pembagian iklim, untuk menghindari kebingungan.’‘ Menurut Ibnu Hawqal, dirinya telah mengilustrasikan setiap wilayah di peta. ‘’Saya telah menunjukkan posisi masing-masing, dibandingkan dengan negara-negara lain. Batas tanah, kota-kota, air sungai, danau dan kolam dengan permukaan yang berbeda-beda. Saya telah mengumpulkan semua yang pernah dibuat geografi baik untuk kepentingan raja atau orang, jelasnya. Semua itu membuktikan bahwa Ibnu Hawqal sebagai seorang ahli Geografi Muslim ulung di zamannya.

Ibnu Hawqal yang telah melakukan perjalanan atara tahun 943-969 CE, meninggal setelah tahun 368 H / 978 M.


Sumber:

Read More
Al-Nayrizi - Matematikawan dan Astronom Persia

Al-Nayrizi - Matematikawan dan Astronom Persia

Abu'l-Abbas al-Fadl ibn Hatim al-Nairīzī

Abu'l-Abbas al-Fadl ibn Hatim al-Nairīzī ( Arab : أبو العباس الفضل بن حاتم النيريزي, Latin : Anaritius, Nazirius, 865-922) adalah Matematikawan dan Astronom Persia abad ke-9-10 dari Nayriz, provinsi Fars, Iran.

Dia berkembang saat berkuasannya Khalifah al-Mu'tadid 892-902. Ia menyusun tabel astronomi, menulis sebuah buku untuk al-Mu'tadid pada fenomena atmosfer.

Nayrizi menulis komentar tentang Ptolemy dan Euclid. Yang terakhir diterjemahkan oleh Gerard dari Cremona. Nairizi menggunakan umbra (versa), yang setara dengan tangen, sebagai garis trigonometri asli (tapi ia diantisipasi dalam hal ini dengan al-Marwazi).

Dia menulis sebuah risalah pada bola astrolabe yang sangat rumit dan tampaknya menjadi subyek yang terbaik Persia. Hal ini dibagi menjadi empat buku:
  1. Historis dan kritis pengantar.
  2. Deskripsi astrolabe bola; keunggulannya atas pesawat astrolab dan semua instrumen astronomi lainnya.
  3. Aplikasi.
  4. Aplikasi.
Dia memberikan bukti dari teorema Pythagoras menggunakan ubin Pythagoras.

Ibn al-Nadim menyebutkan Nayrizi sebagai astronom yang membedakan dengan delapan karya olehnya tercantum dalam bukunya al-Fihrist. Wikipedia
Read More
Phoebe Snetsinger - Pengamat Burung yang Telah Mencatat 8.398 Spesies Burung

Phoebe Snetsinger - Pengamat Burung yang Telah Mencatat 8.398 Spesies Burung

Phoebe Snetsinger

Phoebe Snetsinger adalah seorang pengamat burung yang telah mencatat 8.398 spesies burung di dunia. Hingga saat ini, jumlah itu merupakan temuan burung paling banyak di dunia, bahkan untuk ahli burung (ornitolog) sekalipun. Tiga dari empat anak Snetsinger adalah peneliti burung di Amerika Serikat. Thomas J. Snetsinger, anaknya, mengkhususkan diri dalam burung endemik Hawaii yang terancam.

Perjalanan hidup Phoebe Snetsinger tergolong luar biasa bagi seseorang yang sangat suka dengan burung. Buku "Life List" (2010) karya Olivia Gentile menceritakan kehidupan Phoebe Snetsinger secara lengkap.


Biografi

Phoebe Snetsinger lahir pada 9 Juni 1931 di Lake Zurich, Illinois, Amerika Serikat. Snetsinger menuntut ilmu di sekolah dasar kecil di Danau Zurich dengan hanya dua siswa lainnya. Pada usia 11, ia bertemu calon suaminya di 4-H klub. Dia melanjutkan studi di Universitas Swarthmore dan lulus sebagai German major.

Snetsinger menuntut ilmu hingga mendapatkan gelar sarjana sastra Jerman di Swarthmore College, Pennsylvania, AS. Setelah suaminya mengikuti wajib militer ke Korea, ia kemudian melanjutkan studi masternya dan mengambil minat literatur bahasa Jerman.

Kesukaanya terhadap burung tumbuh pada tahun 1965, atau saat ia berusia 34 tahun yakni sejak ia mengamati gerak-gerik burung blackburnian warbler (Setophaga fusca). Blackburnian warbler adalah burung pekicau kecil khas Amerika Utara. Burung ini masuk dalam ordo Passeriformes atau satu ordo dengan burung gereja yang umum ditemukan di Indonesia.

Kehidupannya berbalik tajam pada saat usianya 50 tahun, saat ia sudah seharusnya menikmati masa tua dengan 4 orang anaknya. Melanoma, kanker yang menyerang kulit terus menggerogotinya. Saat itu, Snetsinger mengatakan bahwa ia hanya memiliki sisa waktu kurang dari setahun masa hidupnya. Untuk mengisi "sisa hidupnya" itu, Snetsinger kemudian memutuskan untuk berpetualang berkeliling dunia menekuni hobinya mengamati burung. Alaska dipilihnya sebagai destinasi pertama untuk mengamati burung di sana.

Apa yang telah divonis dokter ternyata keliru. Umurnya tak sebatas satu tahun seperti yang telah diperkirakan sebelumnya. Dengan penuh semangat, Snetsinger berkelana hingga 18 tahun untuk mengamati burung-burung penuh warna yang telah memperindah dunia. Dalam petualangannya, ia pernah diserang malaria di Zambia, hampir mati di Zaire, hingga diculik dan diperk0sa di pinggiran Port Moresby, Papua Nugini. Namun, itu semua tak menghentikan antusiasmenya terhadap pengamatan burung.

Snetsinger memang hobi melakukan perjalanan di daerah-daerah yang tak umum dijelajahi kebanyakan orang. Sejumlah tempat termasuk daerah konflik atau daerah dengan kondisi lingkungan buruk pernah ditelusurinya. Sebagai ornotolog amatir, ia mulai rutin mencatat burung yang ditemuinya setiap hari, terutama burung dari subspesies langka. Semangat dan antusiasme Snetsinger terhenti justru bukan karena kanker kulit yang menyerangnya.


Kematian

Phoebe Snetsinge meninggal dunia pada 23 November 1999, di Madagaskar. Saat itu, mobil van yang ditumpanginya saat mengamati burung terbalik. Ia dilaporkan tewas di tempat kejadian. Burung terakhir yang sempat ia catat adalah red-shouldered vanga (Calicalicus rufocarpalis), burung pekicau kecil yang keberadaannya kini cukup rentan di alam. Burung ini termasuk dalam ordo Passeriformes, burung pekicau favorit Snetsinger, juga tergolong spesies burung langka dan baru ditemukan tahun 1997.

Memoar Snetsinger, berjudul Birding on Borrowed Time, diterbitkan secara anumerta pada tahun 2003 oleh Amerika Birding Association (ABA). ABA menjelaskan pekerjaan ini sebagai "Lebih dari sekedar cerita perjalanan, buku ini juga dokumen manusia mendalam bergerak, seperti rincian bagaimana obsesi Phoebe Snetsinger dengan burung menjadi cara mengatasi penyakit terminal."

Pada tahun 2003, Asosiasi Pengamat Burung Amerika (American Birding Association/ABA) menerbitkan buku "Birding on Borrowed Time" karya Phoebe Snetsinger. ABA sangat menghargai perjuangan Snetsinger tak hanya sebagai petualang naratif tapi juga pencatat dokumen perjalanan manusia.
Google Doodle, Hari Lahir Phoebe Snetsinger ke-85
Google Doodle, Hari Lahir Phoebe Snetsinger ke-85
Pada 9 Juni, 2016 halaman depan Google menampilkan animasi burung-burung cantik kaya warna, di belakang burung-burung itu, tampak seorang pengamat yang meneropong sembari mencatat burung-burung itu. Google mendedikasikan doodle mereka untuk Phoebe Snetsinger, seorang pengamat burung yang telah mencatat 8.398 spesies burung di dunia. Karena perjuangan, antusiasme, dan dedikasi semasa hidup jauh lebih berharga dibandingkan hanya duduk manis menunggu kematian. (sumber: wikipedia)
Read More
Biografi Al-Tabari - Pencetus Terapi Penyakit Jiwa

Biografi Al-Tabari - Pencetus Terapi Penyakit Jiwa

Masjid Shah di Iran
Masjid Shah di Iran
Abu al-Hasan Ali bin Sahl Rabban al-Tabari atau yang lebih dikenal dengan nama Al-Tabari adalah seorang hakim, ulama Muslim, dokter dan Psikolog legendaris Muslim dari abad ke-9 M. Selain dikenal sebagai seorang psikolog, al-Tabari juga menguasai ilmu lain yakni, fisika dan kedokteran. Namanya tetap dikenang berkat karya-karya tulisnya yang sangat berpengaruh.


Biografi

Al-Tabari lahir pada tahun 838 M, berasal dari keturunan Yahudi Persia yang menganut aliran Zoroaster. Nama belakang al-Tabari adalah kenangan bahwa dia keturunan Yahudi yang berasal dari Merv di Tabaristan.

Ia lahir dari keluarga ilmuwan. Ayahnya, Sahl Ibnu Bishr adalah ahli pengobatan, astrolog dan ahli matematika yang terkenal. Dia tergolong keluarga bangsawan dan orang-orang di sekitar memanggilnya Raban yang artinya pemimpin kami.

Sang ayah adalah guru pertama bagi al-Tabari. Dari ayahnya, ia mempelajari ilmu pengobatan dan kaligrafi. Sebagai seorang pemuda yang cerdas, Ali juga sangat mahir berbahasa Suriah dan Yunani. Nama besarnya dicatat dan diabadikan dalam karya muridnya Muhammad Ibnu Zakariya al-Razi alias Rhazes, fisikawan agung.

Al-Tabari lalu mengabdi di istana khalifah Dinasti Abbasiyah hingga kepemimpinan al-Mutawakkil (847-861). Diperkirakan saat itulah, dia memutuskan hijrah ke dunia Islam pada saat Khalifah Abbasiyah, Al-Mu'tasim (833-842) berkuasa.


Pencetus terapi penyakit jiwa

Dunia psikologi Islam mengenal Al-Tabari sebagai pencetus terapi penyakit jiwa. Selain dikenal sebagai seorang psikolog, ia juga menguasai ilmu lain yakni, fisika dan kedokteran. Namanya tetap dikenang berkat karya-karya tulisnya yang sangat berpengaruh. Lewat kitab Firdous al-Hikmah yang di tulisnya pada abad ke-9 M, dia telah mengembangkan psikoterapi untuk menyembuhkan pasien yang mengalami gangguan jiwa. Al-Tabari menekankan kuatnya hubungan antara psikologi dengan kedokteran. Ia berpendapat, untuk mengobati pasien gangguan jiwa membutuhkan konseling dan dan psikoterapi.

Al-Tabari menjelaskan, pasien kerap kali mengalami sakit karena imajinasi atau keyakinan yang sesat. Untuk mengobatinya, kata al-Tabari, dapat dilakukan melalui "konseling bijak". Terapi ini bisa dilakukan oleh seorang dokter yang cerdas
dan punya humor yang tinggi. Caranya dengan membangkitkan kembali kepercayaan
diri pasiennya. Pemikirannya di abad ke-9 M ternyata masih relevan hingga sekarang.

Al-Tabari dinilai muridnya sebagai seorang guru yang berdedikasi tinggi. Tak heran, jika murid-muridnya juga meraih ke suksesan seperti dirinya, salah satunya al-Razi.
Ia mengajari al-Razi ilmu pengobatan saat menetap di wilayah Rai. Lalu dia hijrah ke Samarra dan menjadi sekretarisnya Mazyar ibnu Marin. Meski begitu, ia kalah pamor dibanding, muridnya al-Razi.


Kitab Firdous al-Hikmah

Kitab "Firdous al-Hikmah" atau (Paradise of Wisdom) merupakan adikarya sang
psikolog. Ia menghasilkan karya pertamanya dalam bidang pengobatan. Dia merupakan orang pertama yang mengusung ilmu kesehatan anak-anak dan bidang pertumbuhan anak, ujar Amber Haque dalam bukunya berjudul Psychology from
Islamic Perspec tive: Contributions of Early Muslim Scholars and Challenges to
Contemporary Muslim Psychologists.

Kitabnya yang monumental itu juga diterjemahkannya ke dalam bahasa Suriah. Al-Tabari memiliki dua kompilasi untuk karya nya yang dinamakan Deen-al-Doulat dan al-Sehhat. Adikarya sang ilmuwan itu bisa ditemukan di perpustakaan Universitas Oxford, Inggris. Al-Tabari tutup usia pada tahun 870 M, namun namanya hingga kini tetap abadi.

Firdous al-Hikmah berisi tentang sistem pengobatan yang dibuat dalam tujuh bagian. Buku yang ditulis dalam bahasa Arab ini disebut juga Al-Kunnash. Buku ini dikategorikan sebagai ensiklopedia kedokteran dan dibuat dalam tujuh volume dan
30 bagian, dengan total 360 bab.

Dalam kitabnya itu, al-Tabari membagi ilmu pengobatan dalam beberapa bagian, antara lain: ilmu kesehatan anak dan pertumbuhan anak serta psikologi dan psikoterapi. Di bagian pengobatan dan psikoterapi, al-Tabari menekankan kekuatan antara psikologi dan pengobatan, dan kebutuhan psikoterapi dan konseling pada pelayanan pengobatan pasien. Ia juga menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Syria untuk memperluas informasi ini sekaligus penggunaannya. Informasi dalam buku Firdous al-Hikmah ini tidak pernah masuk ke lingkaran pengetahuan dunia barat karena tidak pernah diterjamahkan dan diedit, baru pada abad ke 20 dikenal di dunia barat, ketika Mohammed Zubair Siddiqui berusaha mengedit sekaligus membaginya dalam lima bagian kecil.

Menurut Amber Haque, al-Tabari menuliskan dalam risalahnya, untuk mengobati pasien gangguan jiwa membutuhkan konseling dan dan psikoterapi. Ia melakukan pendekatan terhadap pasien dengan bantuan konseling, atau mencoba pasiennya mengungkapkan isi hati serta perasaan yang menggangu. Ia juga mengajarkan agar para dokter, memberikan perhatian, tidak hanya dalam bentuk pengobatan, namun juga dalam bentuk berdialog. Inilah upaya yang diyakini Ali akan membantu suksesnya sebuah pengobatan.


Kitab El-Mansuri dan Al-Hawi

Pemikirannya dalam bidang psikologi banyak mempengaruhi al-Razi. Melalui kitabnya El-Mansuri dan Al-Hawi, al-Razi juga berhasil mengungkapkan definisi symptoms (gejala) dan perawatannya untuk menangani sakit mental dan masalah-masalah yang berhubungan dengan kesehatan mental. Al-Razi juga tercatat sebagai dokter atau psikolog pertama yang membuka ruang psikiatri di sebuah rumah sakit di Kota Baghdad.

Pemikir Muslim lainnya di masa ke emasan Islam yang turut menyumbangkan pemikirannya untuk pengobatan penyakit ke jiwaan adalah Al-Farabi. Ilmuwan termasyhur ini secara khusus menulis risalah terkait psikologi sosial dan berhubungan dengan studi kesadaran.

Hingga kini, sebanyak lima karya al-Tabari masih tetap tersimpan di perpustakaan. Dr Mohammed Zubair Siddiqui telah membandingkan dan mengedit manuskrip karya al-Tabari. Dalam kata pengantarnya, Siddiqui mengaku sangat kagum dengan karya sang ilmuwan dari abad ke-9 M itu. Menurut dia, buah pikir al-Tabari sungguh sangat berguna.


Alquran di Mata Al-Tabari 

Ali bin Rabban al-Tabari awalnya adalah penganut Zoroaster. Ia lalu memutuskan untuk masuk Islam, karena begitu kagum dengan Alquran. Sang psikolog
terkemuka itu mengaku tidak pernah menemukan tulisan maupun bahasa yang lebih
hebat dan sempurna dari Alquran.

Pengakuan al-Tabari terhadap kehebatan Alquran itu dikutip MSM Saifullah dalam karyanya bertajuk Topics Relating to The Qur'an: I'jaz, Grammarians & Jews. "Apa yang dikatakan Quran itu adalah benar. Kenyataannya adalah saya tidak menemukan satu buku pun dalam bahasa Arab dan Persia serta dalam bahasa India atau Yunani yang sempurna seperti Alquran," tuturnya.


Karyanya:
  • Firdous al-Hikmah (Paradise of Wisdom)
  • Tuhfat al-Muluk (The King's Present)
  • Hafzh al-Sihhah (The Proper Care of Health), mengikuti pengarang Yunani dan Indian.
  • Kitab al-Ruqa (Book of Magic or Amulets)
  • Kitab fi al-hijamah (Treatise on Cupping)
  • Kitab fi Tartib al-'Ardhiyah (Treatise on the Preparation of Food)

Referensi:
Read More
Al Dinawari - Ilmuwan Muslim, Ahli Botani, Astronom, Metalurgi, Geografi, Matematika, dan Sejarawan

Al Dinawari - Ilmuwan Muslim, Ahli Botani, Astronom, Metalurgi, Geografi, Matematika, dan Sejarawan

Masjid Shah - Iran
Masjid Shah, Iran
Imam Abu Hanifah Ahmad bin Dawud Dīnawarī, Abu Hanifah Dinawari, atau cukup disebut Al Dinawari adalah seorang cendikiawan, astronom, ahli botani, metalurgi, geografi, matematika, dan sejarawan pada zaman keemasan Islam yang hidup pada 815-896.

Ia belajar astronomi, matematika dan mekanik di Isfahan dan filologi dan puisi di Kufah dan Basra. Dia meninggal di Dinawar. Kontribusi yang paling terkenal adalah Kitab Tanaman, yang ia dianggap sebagai pendiri dari botani Arab. Ia juga menulis sebuah buku tentang nenek moyang dari suku Kurdi berjudul Ansab al-Akrad. 


Biografi

Al Dinawari adalah seorang ilmuwan muslim yang ahli dibidang tumbuh-tumbuhan. Beliau lahir pada tahun 820 H di Kota Dinawari yang pernah hancur karena serangan bangsa Mongol. Beliau memiliki nama lengkap Ahmad bin Daud al-Dinawari Al Hanafi atau Abu Hanifah.

AL Dinawari terkenal sangat cerdas dan aktif pada masanya. Beliau mempelajari ilmu astronomi, matematika, dan mesin di Isfahan Irak.  Disamping itu, beliau juga belajar ilmu Bahasa dan Puisi di Kufa dan Basra, Irak.  Sehingga tak heran jika Al Dinawari menjadi ahli diberbagai bidang seperti astronomi, ilmu hwan, sejarah, ilmu humi, bahasa dan etnografi (ilmu tentang kebudayaan suku-suku bangsa).

Beliau juga dikenal sebagai ahli tumbuh-tumbuhan. Beliau memiliki minat yang besar pada dunia tumbuh-tumbuhan. Beliau banyak melakukan penelitian untuk mendalami tempat tumbuh-tumbuhan itu hidup dan iklim yang sesuai untuk pertumbuhan tumbuh-tumbuhan tersebut. Untuk mendukung penelitian, beliau menggunakan hadis-hadis dan syair-syair tentang tumbuh-tumbuhan. Al Dinawari juga mencatat berbagai nama tumbuhan dan nama buah-buahan.


Karya

Al Dinawari telah banyak menulis karya di bidang ilmu pengetahuan. Karya-karya beliau di bidang ilmu murni (Matematika & Ilmu Alam), adalah sebagai berikut:
  1. Kitab Al Jabar wa 'l-Muqabala (Buku Al-Jabar)
  2. Kitab al-Nabat (Buku tumbuh-tumbuhan)
  3. Kitab al-Kusuf (Buku tentang gerhana matahari)
  4. Kitab al-Radd ala Rasad al-Isfahani (Pertentangan tentang observasi-observasi Isfahani)
  5. Kitab al-Hisab (Buku tentang Kalkulus)
  6. Baht fi Hizab al-Hind (Analisa tentang kalkulus India)
  7. Kitab al-Jam Wa'l-Tafriq (Buku tentang aritmatika)
  8. Kitab al-Qibla wa'lZiwal (Buku orientasi bintang-bintang)
  9. Kitab al-Anwa (Buku tentang cuaca)
  10. Islah al-Mantiq (Perbaikan berdasarkan logika)

Beliau juga banyak menyusun buku di bidang sosial dan sastra (Ilmu sosial dan humaniora). Karya-karyanya adalah sebagai berikut:
  1. Akhbar al-Tiwal (Sejarah umum)
  2. Kitab al-Kabir (Buku sejarah ilmu pengetahuan)
  3. Kitab al-Fisha (Buku tentang cara berpidato)
  4. Kitab al-Buldan ( Buku tentang geografi)
  5. Kitab al-Shi'r wa'l-Shu'ara (Buku tentang puisi dan sajak)
  6. Ansab al-Akrad (Keturunan suku-suku kurdi)

Kitab Tanaman

Botani

Salah satu karya Al Dinawari yang terkenal dalam bidang tumbuh-tumbuhan adalah kitab Al-nabat.  Kitab ini membahas lebih dari sembilan ratus tiga puluh tumbuh-tumbuhan. Diantaranya adalah bawang putih, delima, jagung, kacang, kelapa, pisang, sawi dan wortel.  Kitab ini memiliki keunikan karena adanya penyebutan nama-nama tumbuhan yang berurutan berdasarkan abjad huruf Arab. Hal ini dimaksudkan untuk menerangkan berbagai jenis tumbuh-tumbuhan yang disebut oleh para penyair Arab.

Kitab al-Nabat ini juga berisi kumpulan lengkap jenis tumbuh-tumbuhan yang tidak hanya dari Arab saja, tetapi juga berasal dari negara-negara lain sesuai dengan iklim negara Arab. Al-Dinawari juga menyebutkan tentang kegunaan kayu arak dalam beberapa halaman Kitab Al-Nabat. Yaitu sebagai alat untuk bersuci (gosok gigi) dan dapat dimanfaatkan sebagai obat berbagai penyakit.

Kitab al-Nabat tidak hanya berisi tentang tumbuh-tumbuhan. Dalam bab ketiga dan awal bab kelima diulas mengenai serangga. Al-Dinawari mengulas tentang belalang secara detail. Beliau juga membahas tentang lebah dengan memusatkan pengamatan pada jenis dan sifat lebah.

Sampai sekarang kitab al-nabat masih menjadi rujukan para ilmuwan Arab Muslim. Kitab ini merupakan ensiklopedi tumbuh-tumbuhan Arab kelas tinggi. Sayangnya kitab Al-Nabat hanya sedikit menyebutkan tumbuh-tumbuhan untuk menyembuhkan penyakit.


Astronomi dan Meteorologi

Al-Dinawari juga memiliki ketertarikan yang besar pada astronomi. Beliau menekuni astronomi sejak pindah ke Isfahan pada tahun 850 Masehi. Di sana beliau banyak melakukan penelitian terhadap-bintang-bintang. Buku-buku hasil penelitiannya tentang astronomi berjudul Al-Anwa, Al-Qibla wa Al-Ziwal, dan Zij Abu Hanifa.

Bagian dari Kitab Tanaman al-Dinawari berkaitan dengan aplikasi astronomi Islam dan meteorologi untuk pertanian. Ini menggambarkan karakter astronomi dan meteorologi dari langit, planet-planet dan rasi bintang, matahari dan bulan, fase lunar menunjukkan musim dan hujan, anwa (hujan benda-benda langit), dan fenomena atmosfer seperti angin, guntur, petir, salju, banjir, lembah, sungai, danau, sumur dan sumber air lainnya.


Ilmu bumi

Bagian dari Kitab Tanaman al-Dinawari berkaitan dengan ilmu bumi dalam konteks pertanian. Ia menganggap bumi, batu dan pasir, menggambarkan berbagai jenis tanah, yang menunjukkan jenis yang lebih nyaman bagi tanaman dan kualitas dan sifat tanah yang baik.


Wafat

Al-Dinawari  meninggal di kota kecil di wilayah Hamadan, Iran pada tanggal 24 Juli 896 Masehi. Hasil pemikiran dan penelitian beliau tentang tumbuh-tumbuhan memberikan sumbangan besar terhadap sejarah dan kebudayaan dunia.  Selain itu, beliau menghasilkan juga karya-karya lain di bidang fikih dan tafsir Alqur'an berjumlah 1 jilid.


Sumber:
  • en.wikipedia.org, Abu Hanifah Dinawari 
  • Tim Pustaka Fathin (2006). Buku Imuwan Muslim Pembuka Cakrawala Ilmu Pengetahuan Dunia Al-Dinawari. Tiga Serangkai, Solo.
Read More
Mobil Listrik Sudah Ada Sejak Tahun 1880

Mobil Listrik Sudah Ada Sejak Tahun 1880

Thomas Edison dan sebuah mobil listrik tahun 1913 (sumber dari National Museum of American History)
Thomas Edison dan sebuah mobil listrik tahun 1913 (sumber dari National Museum of American History)
Mobil listrik adalah mobil yang digerakkan dengan motor listrik, menggunakan energi listrik yang disimpan dalam baterai atau tempat penyimpan energi lainnya.

Banyak yang mengira kalau mobil listrik itu adalah teknologi baru, namun ternyata mobil listrik sudah ada sejak tahun 1880.

Mobil listrik pertama kali diperkenalkan pada tahun 1880. Thomas Edison sudah memperkenalkan mobil listrik karyanya, Edison Baker, pada tahun 1895.

Baca: "Thomas Alva Edison - Penemu Bola Lampu Modern"

Kala itu, mobil listrik sudah mampu melesat hingga kecepatan maksimal 32 km/jam.
Puncak penjualan dari mobil listrik saat itu adalah tahun 1910. Bahkan di AS kala itu 38% mobil di sana adalah bertenaga listrik. Namun seiring waktu, karena harga mobil BBM semakin terjangkau dan mampu berjalan jarak jauh, akhirnya penggunaan mobil listrik berkurang.

Mobil listrik sangat populer pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, tapi kemudian popularitasnya meredup karena teknologi mesin pembakaran dalam yang semakin maju dan harga kendaraan berbahan bakar bensin yang semakin murah. Krisis energi pada tahun 1970-an dan 1980-an pernah membangkitkan sedikit minat pada mobil-mobil listrik, tapi baru pada tahun 2000-an lah para produsen kendaraan baru menaruh perhatian yang serius pada kendaraan listrik listrik. Hal ini disebabkan karena harga minyak yang melambung tinggi pada tahun 2000-an serta banyak masyarakat dunia yang sudah sadar akan buruknya dampak emisi gas rumah kaca.

Sampai bulan Novemver 2011, model-model listrik yang tersedia dan dijual di pasaran beberapa negara adalah Tesla Roadster, REVAi, Renault Fluence Z.E., Buddy, Mitsubishi i MiEV, Tazzari Zero, Nissan Leaf, Smart ED, Wheego Whip LiFe, Mia listrik, dan BYD e6. Nissan Leaf, dengan penjualan lebih dari 20.000 unit di seluruh dunia (sampai November 2011), dan Mitsubishi i-MiEV, dengan penjualan global lebih dari 17.000 unit (sampai Oktober 2011), adalah kedua mobil listrik paling laris di dunia.


Kelebihan mobil listrik

Mobil listrik memiliki beberapa kelebihan yang potensial jika dibandingkan dengan mobil bermesin pembakaran dalam biasa. Yang paling utama adalah mobil listrik tidak menghasilkan emisi kendaraan bermotor. Selain itu, mobil jenis ini juga mengurangi emisi gas rumah kaca karena tidak membutuhkan bahan bakar fosil sebagai penggerak utamanya. Pada akhirnya, ketergantungan minyak dari luar negeri pun berkurang, karena bagi beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan banyak negara Eropa, kenaikan harga minyak dapat memukul ekonomi mereka. Bagi negara berkembang, harga minyak yang tinggi semakin memberatkan neraca pembayaran mereka, sehingga menghambat pertumbuhan ekonomi mereka.

Meskipun mobil listrik memiliki beberapa keuntungan potensial seperti yang telah disebutkan di atas, tapi penggunaan mobil listrik secara meluas memiliki banyak hambatan dan kekurangan. Sampai pada tahun 2011, harga mobil listrik masih jauh lebih mahal bila dibandingkan dengan mobil bermesin pembakaran dalam biasa dan kendaraan listrik hibrida karena harga baterai ion litium yang mahal. Meskipun begitu, saat ini harga baterai mulai turun karena mulai diproduksi dalam jumlah besar. Faktor lainnya yang menghambat tumbuhnya penggunaan mobil listrik adalah masih sedikitnya stasiun pengisian untuk mobil listrik, ditambah lagi ketakutan pengendara akan habisnya isi baterai mobil sebelum mereka sampai di tujuan.


Mobil Listrik Di Indonesia

Di negara Indonesia sendiri, pada tanggal 1 April 2012 pemerintah kucurkan 100 miliar rupiah untuk riset mobil listrik. Lalu pada tanggal 10 Juni 2013 pemerintah tegaskan kendaraan listrik bebas pajak. Dan kemudian pada tanggal 12 Juni 2013 Zbee dari Swedia resmi membuka pabrik kendaraan listrik dengan nama PT Lundin Industry, yang terletak di Kota Banyuwangi, Jawa Timur, dan target produksi minimal 100.000 unit per tahun. (Baca: Dasep Ahmadi - Kreator Mobil Listrik Nasional)

Sumber: Wikipedia, "Mobil listrik"
Read More