Simone Giertz - Penemu MesinTepuk Tangan

Simone Giertz - Penemu MesinTepuk Tangan

Simone Giertz
Simone Giertz (twitter.com)
Simone Giertz adalah seorang penemu dari Stockholm, Swedia. Saat ini menghabiskan sebagian besar waktunya membangun robot buruk dan menjalankan channel Youtube tentang robotika. Ia juga Penangkal rasa takut Skynet sejak 2015.

Perempuan muda yang berprofesi sebagai penemu ini berhasil menciptakan mesin untuk tepuk tangan. Simone Giertz berhasil menciptakan mesin untuk tepuk tangan. Meski mungkin tidak terlalu penting, mungkin alat ini akan berguna jika Anda malas untuk bertepuk tangan di sebuah event.

Ia pun telah menciptakan beberapa alat seperti:
  • Alat pemotong buah dan sayur untuk kebutuhan dapur
  • Robot yang dapat menyuapi makanan ke mulut manusia
  • Robot yang mampu memoles lipstik ke bibir
Hasil temuannya memanglah belum sempurna, bahkan terlihat lucu. NAmun Perempuan muda ini patut diacungi jempol karena penemuan dan semangatnya mencipta.

Simone Giertz memiliki situs / blog pribadi yang beralamat di http://simonegiertz.com/. Didalamnya terdapat banyak penemuann yang ia hasilkan.
Read More
Biografi Bette Nesmith Graham - Penemu Liquid Paper (Tipp-ex)

Biografi Bette Nesmith Graham - Penemu Liquid Paper (Tipp-ex)

Bette Nesmith Graham
Bette Nesmith Graham adalah Seorang juru ketik asal Amerika, seniman komersial, dan penemu dari liquid paper atau yang kita kenal dengan tipp-ex. Dia juga ibu dari musisi dan produser Michael Nesmith dari The Monkees.

Bette Nesmith Graham lahir 23 Maret 1924, di kota Dallas, Texas, AS. Bette dibesarkan di kota kelahirannya oleh kedua orangtuanya, Jesse dan Christine McMurry. Sebagaimana lazimnya pendidikan sangat penting dalam kehidupan, Bette malah nggak suka pendidikan di bangku sekolah. Bahkan, ia harus dikeluarkan dari sekolah tingkat atas pada umur 17 tahun. Namun, minatnya untuk bekerja sangat kuat. Dengan tekun, ia melamar ke beberapa perusahaan yang ingin menampungnya untuk bekerja sebagai sekretaris.

Setelah melamar pekerjaan ke sana-kemari akhirnya ia diterima di sebuah perusahaan. Atas dukungan perusahaan tempatnya bekerja, Bette Graham melanjutkan sekolahnya yang tertunda. Ia kemudian melanjutkan karier intelektualny di sekolah sekretaris. Pada 1943, ia menikah saat berusia 19 tahun dengan Warren Nesmith, salah seorang tentara Amerika yang turut serta dalam Perang Dunia II. Tapi sayang, pernikahannya tidak berlangsung lama.

Setelah cerai pada tahun 1975, Bette Graham diangkat menjadi sekretaris eksekutif di Texas Bank dan Trust di Dallas. Pekerjannya yang memerlukan kecepatan dan ketilitian membuatnya sering melakukan kesalahan dalam pengetikan pada mesin ketik elektrik. Kesalahannya ini juga terjadi pada rekan kerjanya di kantor.


Penemuan Liquid Paper

Suatu hari, Bette Graham melihat pelukis yang menumpuk warna sebuah gambar dengan cat lain. Kemudian, ia terinspirasi untuk menciptakan sesuatu yang bisa menutupi kesalahan dalam pengetikan di kertas. Sebagian literatur menyebutkan, Bette Graham meracik liquid paper dengan memblender cat tempura yang disesuaikan dengan warna kertas dan dimasukkan ke dalam botol-botol kecil agar mudah dibawa kemana-mana. Cairan tersebut dioleskan di atas tempat kesalahan tik. Untuk mengoleskan cat ramuannya, ia menggunakan kuas kecil.

Sebelum dikomersilkan penciptanya, cairan ini dikenal dengan nama Mistake Out. Karya sederhana Bette Graham cukup membantu dalam menyelesaikan pekerjaan yang bertumpuk setiap hari. Ide briliannya banyak diminati pekerja kantor dan sekretaris. Untuk menghasilkan uang atas temuannya ini, ia mulai belajar metode promosi dan pemasaran. Tanpa lelah, Bette terus melakukan penilitian hingga cairan korektor yang dibuatnya semakin sempurna.

Setelah beberapa tahun menyempurnakan temuannya, Bette Graham mulai berani menawarkan Mistake Out kepada perusahaan IBM yang saat itu merajai bisnis peralatan kantor. Namun, usahanya gagal. IBM menolak dengan alasan Mistake Out tidak memiliki nilai jual. Namun, hal tiu tidak melemahkan semangat Bette Graham. Ia kemudian mendirikan usaha Mistak Out Company di rumahnya. Belum lama usahanya berdiri, Bette Graham mendapatkan cobaan yang berat. Ia dipecat dari pekerjaannya karena sebuah kesalahan yang nggak bisa dimaafkan. Nasib buruk ini, dimanfaatkan untuk memasarkan produk buatannya itu.

Dengan modal seadanya, Bette Graham mempromosikan dan memasarkan cairan penutup kesalahan ketikan. Bahkan untuk meningkatkan nilai jual, dia mengganti nama Mistake Out menjadi Liquid Paper dan tetap memproduksi serta menjual produk itu dari dapur dan garasinya hingga 17 tahun berikutnya. Order terbesar pertamanya terjadi pada tahun 1962. Seorang pedagang asal San Antonio memborong produknya.

Pada tahun 1967, perusahannya itu menjadi perusahaan besar dan berhasil memasok produknya ke 31 negara. Bahkan, perusahaan yang kemudian diberi nama Liquid Paper itu pada tahun 1976 sudah mampu menghasilkan keuntungan bersih lebih dari 1,5 juta dolar AS. Tahun 1979, Gillette Corp. membeli seluruh perusahaan Bette dan paten Liquid Paper senilai 47,4 juta dolar AS dan royalti dalam setiap penjualan botolnya. Pada saat itu, perusahaannya mempekerjakan 200 orang dan membuat 25 juta botol Liquid Paper per tahun.


Kematian

Bette Nesmith Graham meninggal pada 12 Mei 1980 saat berusia 56 tahun. Ia dimakamkan di tempat kelahirannya di Richardson, Texas.


Biodata:
  • Nama lahir: Bette Clair McMurray 
  • Tanggal lahir: 23 Maret 1924 Dallas, Texas, AS
  • Meninggal: May 12, 1980 (umur 56) Richardson, Texas, AS
  • Pendidikan: Lulusan SMA
  • Dikenal sebagai: Penemuan Liquid Paper
  • Pasangan: Warren Audrey Nesmith (1919-1984) (m. 1942-1946), Robert Graham (m. 1962-1975)
  • Anak-anak: Michael Nesmith
  • Orangtua: Jesse McMurray, Christine Duval McMurray


Sumber:
Read More
Urbain Le Verrier - Penemu Planet Neptunus

Urbain Le Verrier - Penemu Planet Neptunus

Urbain Le Verrier
Urbain Jean Joseph Le Verrier (pengucapan bahasa Perancis: [yʁbɛ̃ ʒɑ̃ ʒɔzɛf lə vɛʁje]; lahir di Saint-Lô, Perancis, 11 Maret 1811 – meninggal di Paris, Perancis, 23 September 1877 pada umur 66 tahun) adalah seorang matematikawan Perancis yang berkecimpung dalam mekanika benda langit dan dikenal luas karena ambil bagian dalam penemuan planet Neptunus.

Le Verrier memiliki seorang istri dan anak. Ia meninggal dunia di Paris, Perancis dan dimakamkan di Cimetière Montparnasse. Sebuah globe langit besar terbuat dari batu dibangun di atas makamnya. Ia akan terus diingat melalui frasa Arago: "pria yang menemukan planet dengan ujung penanya."


Penemuan Neptunus

Planet Neptunus secara matematika diprediksi sebelum planet tersebut secara langsung diobservasi. Dengan sebuah prediksi buatan Urbain Le Verrier, observasi-observasi teleskoptik mengkonfirmasikan keberadaan sebuah planet utama yang dibuat pada malam 23-24 September 1846, di Observatorium Berlin, oleh astronom Johann Gottfried Galle (dibantu oleh Heinrich Louis d'Arrest), yang bekerja dari kalkulasi Le Verrier. Peristiwa tersebut merupakan sebuah momen konfirmasi sensasional pada abad ke-19 tentang konfirmasi ilmu pengetahuan dan dramatis dari teori gravitasional pakar Newton. Menurut François Arago, Le Verrier telah menemukan sebuah planet "dengan sebuah poin dari penanya".

Penemuan Neptunus disusul dengan penemuan satelit alamnya Triton oleh William Lassell tepat tujuh belas hari kemudian.

Lukisan Galileo menunjukkan bahwa ia pertama melihat Neptunus pada tanggal 28 Desember 1612 dan 27 Januari 1613. Pada kedua hari tersebut, Galileo salah menganggap Neptunus sebagai sebuah bintang tetap ketika planet ini muncul sangat dekat—konjungsi—dengan Yupiter pada langit malam; karena itu, ia tidak dianggap sebagai penemu Neptunus.

Tahun 1845–1846, Urbain Le Verrier, mengembangkan penghitungannya sendiri namun juga mengalami kesulitan memunculkan antusiasme rekannya tersebut. Pada Juni 1846, setelah melihat terbitan perkiraan pertama bujur planet karya Le Verrier dan kesamaan dengan perkiraan Adams, Airy membujuk Direktur Cambridge Observatory, James Challis untuk mencari planet itu. Challis dengan semangat mengamati langit sepanjang Agustus dan September.

Sementara itu, melalui surat, Le Verrier meminta astronom Observatorium Berlin, Johann Gottfried Galle untuk mencari planet ini menggunakan refraktor observatorium. Heinrich d'Arrest, seorang pelajar di observatorium ini, memberitahu Galle bahwa mereka mampu membandingkan carta langit terkini di wilayah lokasi prediksi Le Verrier dengan keadaan langit saat itu untuk menemukan karakteristik perpindahan suatu planet, berbeda dengan bintang tetap. Pada sore 23 September 1846 ketika surat Le Verrier diterima, Neptunus ditemukan 1° dari tempat yang diprediksi Le Verrier, dan sekitar 12° dari prediksi Adams. Challis kemudian menyadari bahwa ia telah mengamati planet ini dua kali pada bulan Agustus dan gagal mengidentifikasinya karena pendekatannya yang kasual terhadap pengamatan tersebut.

Planet NeptunusSetelah penemuan tersebut, muncul persaingan yang lebih nasionalis antara Perancis dan Britania Raya mengenai pihak yang pantas mendapat penghargaan atas penemuan planet ini. Konsensus internasional memutuskan bahwa Le Verrier dan Adams sama-sama berhak mendapat penghargaan. Sejak 1966, Dennis Rawlins mempertanyakan kredibilitas klaim Adams tentang penemuan bersama dan masalah ini dievaluasi kembali oleh sejarawan dengan pengembalian dokumen bersejarah "Neptune papers" pada tahun 1998 ke Royal Observatory, Greenwich. Setelah meninjau dokumen tersebut, mereka menyatakan bahwa, "Adams tidak pantas menerima penghargaan bersama Le Verrier atas penemuan Neptunus. Penghargaan ini berhak diberikan kepada orang yang sama-sama berhasil memprediksikan lokasi planet dan meyakinkan para astronom untuk mencarinya."


Penamaan

Sesaat setelah penemuannya, Neptunus hanya disebut sebagai "planet di luar Uranus" atau "planet Le Verrier". Usulan nama pertama berasal dari Galle, yang mengusulkan Yanus. Di Inggris, Challis mengusulkan Oceanus.

Dengan mengklaim hak pemberian nama temuannya, Le Verrier langsung mengusulkan nama Neptunus untuk planet ini, sementara secara keliru menyatakan bahwa nama tersebut resmi disetujui oleh Bureau des Longitudes Perancis. Pada bulan Oktober, ia mengusulkan agar planet ini diberi nama Le Verrier, sesuai nama dirinya, dan ia mendapatkan dukungan setia dari Direktur Observatorium, François Arago. Usulan ini ditentang di luar Perancis. Almanak Perancis langsung memperkenalkan kembali nama Herschel untuk Uranus, sesuai nama penemunya Sir William Herschel, dan Leverrier untuk planet baru ini.

Struve membawa nama Neptunus kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Saint Petersburg pada 29 Desember 1846. Neptunus kelak menjadi nama yang disetujui secara internasional. Dalam mitologi Romawi, Neptunus adalah dewa laut, yang dapat dikenali dari Poseidon Yunaninya. Permintaan nama mitologi sepertinya mendukung tata nama planet-planet lain, yang semuanya, kecuali Bumi, diberi nama sesuai mitologi Yunani dan Romawi.

Banyak bahasa di dunia saat ini, bahkan di negara-negara yang tidak memiliki hubungan langsung dengan budaya Yunani-Romawi, memakai berbagai varian nama "Neptunus" untuk planet ini; dalam bahasa Cina, Jepang, dan Korea, nama planet ini dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai "bintang raja laut" (海王星), karena Neptunus adalah dewa laut. 


Penghargaan
  1. Gold Medal of the Royal Astronomical Society – 1868 dan 1876
  2. Nama kawah di Bulan dan Mars, Cincin Neptunus, dan asteroid 1997 Leverrier
  3. Satu dari 72 nama yang diukir di Menara Eiffel. 
(Sumber: id.wikipedia.org)
Read More
Frederick William Herschel - Penemu Planet Uranus

Frederick William Herschel - Penemu Planet Uranus

Frederick William Herschel
Sir Frederick William Herschel (lahir di Hannover, 15 November 1738 – meninggal di Slough, 25 Agustus 1822 pada umur 83 tahun) adalah seorang astronom dan komponis kelahiran Jerman-Inggris yang terkenal karena menemukan planet Uranus. Ia juga menemukan radiasi inframerah dan melakukan penemuan lainnya dalam bidang astronomi.

Herschel membangun teleskop besar yang pertama pada tahun 1774, setelah itu ia menghabiskan sembilan tahun melakukan survei langit untuk menyelidiki bintang ganda. Kekuatan teleskop Herschel mengungkapkan bahwa nebula di katalog Messier adalah kelompok bintang. Herschel menerbitkan katalog nebula pada tahun 1802 (2.500 objek) dan pada tahun 1820 (5.000 objek). Dalam perjalanan pengamatan pada 13 Maret 1781 ia menyadari bahwa salah satu benda angkasa yang telah diamati adalah bukan bintang, tapi sebuah planet, Uranus . Ini adalah planet pertama yang ditemukan sejak jaman dahulu dan menjadikan Herschel terkenal. Sebagai hasil dari penemuan ini, George III mengangkatnya menjadi Court Astronomer. Dia terpilih sebagai Fellow dari Royal Society dan hibah yang disediakan untuk pembangunan teleskop baru.
Herschel mempelopori penggunaan spektrofotometri astronomi sebagai alat diagnostik, menggunakan prisma dan suhu peralatan pengukuran untuk mengukur distribusi panjang gelombang dari spektrum bintang. Karya lainnya termasuk penentuan perbaikan dari periode rotasi Mars , penemuan bahwa kutub Mars bervariasi musiman, penemuan Titania dan Oberon (bulan Uranus) dan Enceladus dan Mimas (bulan dari Saturnus ). Selain itu, Herschel menemukan radiasi inframerah. Herschel dibuat seorang Ksatria Kerajaan Guelphic Orde pada 1816. Dia adalah Presiden Royal Astronomical Society yang pertama ketika didirikan pada tahun 1820. Dia meninggal pada bulan Agustus 1822, dan karyanya dilanjutkan oleh anaknya saja, John Herschel.


Penemuan Planet Uranus

Sir William Herschel mengamati sebuah planet (yang nantinya diberi nama Uranus) pada 13 Maret 1781 saat berada di taman di rumahnya di 19 New King Street di kota Bath, Somerset (sekarang Herschel Museum of Astronomy), namun mulanya melaporkannya (pada 26 April 1781) sebagai sebuah "komet". Herschel "melakukan serangkaian pengamatan terhadap paralaks pada bintang-bintang yang tetap", menggunakan teleskop yang ia desain sendiri.

Dia mencatat dalam jurnalnya "Pada kuartil dekat ζ Tauri … bisa merupakan bintang Nebula atau sebuah komet". Tanggal 17 Maret, dia mencatat, "Aku mencari Komet atau Bintang Nebula itu dan menemukan bahwa ia adalah sebuah Komet, karena ia berubah letaknya". Saat dia mempresentasikan penemuannya pada Royal Society, ia terus menegaskan bahwa dia telah menemukan sebuah komet sementara secara implisit membandingkannya pada planet.

Herschel memberitahu Astronomer Royal, Nevil Maskelyne, akan penemuannya dan menerima jawaban keheranan ini darinya pada tanggal 23 April: "Aku tidak tahu menyebutnya apa. Mungkin ia planet reguler yang bergerak pada orbit yang hampir melingkar pada Matahari karena Komet bergerak pada elips yang sangat eksentrik. Aku belum melihat koma atau ekor apapun padanya".

Sementara Herschel secara hati-hati terus menggambarkan objek baru ini sebagai sebuah komet, para astronom lain sudah mulai menduga secara lain. Astronom Rusia Anders Johan Lexell memperkirakan jaraknya 18 kali jarak Matahari dari Bumi dan belum satu kometpun yang diamati dengan perihelion empat kali jarak Bumi-Matahari. Astronom Berlin Johann Elert Bode mendeskripsikan penemuan Herschel sebagai "bintang bergerak yang dapat dianggap hingga sekarang ini objek tak diketahui mirip planet yang berkeliling di luar orbit Saturnus". Bode menyimpulkan bahwa orbitnya yang hampir berbentuk lingkaran lebih mirip sebuah planet daripada komet.

Objek itu dengan segera diterima secara universal sebagai sebuah planet. Tahun 1783, Herschel sendiri mengakui fakta ini kepada direktur Royal Society Joseph Banks.

Herschel memutuskan untuk menamai objek itu Georgium Sidus (Bintangnya George), atau "Planet Georgian" untuk menghormati penyokong dirinya yang baru, Raja George III.

Nama yang diusulkan Herschel tidak populer di luar Britania dan beberapa alternatif segera diusulkan. Astronom Jérôme Lalande mengusulkan planet itu dinamai Herschel untuk menghormati penemunya. Namun, Bode, memilih Uranus, versi Latin dewa langit Yunani, Ouranos. Bode berargumen bahwa seperti Saturnus yang merupakan ayah dari Jupiter, planet baru itu mesti diberi nama dari nama ayah Saturnus. Pada tahun 1789, kolega Bode dari Royal Academy, Martin Klaproth menamai unsur yang baru ditemukan dengan "uranium" untuk mendukung pilihan Bode. Pada akhirnya, saran Bode menjadi yang paling luas digunakan dan menjadi universal pada 1850 saat HM Nautical Almanac Office, yang terakhir yang tidak menggunakannya, beralih dari menggunakan Georgium Sidus kepada Uranus.

Sumber: en.wikipedia.org  "William Herschel"
Read More
Nama Nama Penemu Planet

Nama Nama Penemu Planet

Sistim Tata surya
Planet (dari bahasa Yunani Kuno αστήρ πλανήτης (astēr planētēs), berarti "bintang pengelana") adalah benda astronomi yang mengorbit sebuah bintang atau sisa bintang yang cukup besar untuk memiliki gravitasi sendiri, tidak terlalu besar untuk menciptakan fusi termonuklir, dan telah "membersihkan" daerah sekitar orbitnya yang dipenuhi planetesimal.

Kata planet sudah lama ada dan memiliki hubungan sejarah, sains, mitologi, dan agama. Oleh peradaban kuno, planet dipandang sebagai sesuatu yang abadi atau perwakilan dewa. Seiring kemajuan ilmu pengetahuan, pandangan manusia terhadap planet berubah.

Pada tahun 2006, Persatuan Astronomi Internasional (IAU) mengesahkan sebuah resolusi resmi yang mendefinisikan planet di Tata Surya. Definisi ini dipuji namun juga dikritik dan masih diperdebatkan oleh sejumlah ilmuwan karena tidak mencakup benda-benda bermassa planet yang ditentukan oleh tempat atau benda orbitnya. Meski delapan benda planet yang ditemukan sebelum 1950 masih dianggap "planet" sesuai definisi modern, sejumlah benda angkasa seperti Ceres, Pallas, Juno, Vesta (masing-masing objek di sabuk asteroid Matahari), dan Pluto (objek trans-Neptunus yang pertama ditemukan) yang dulunya dianggap planet oleh komunitas ilmuwan sudah tidak dipermasalahkan lagi.

Ptolomeus menganggap planet mengelilingi Bumi dengan gerakan deferen dan episiklus. Walaupun ide planet mengelilingi Matahari sudah lama diutarakan, baru pada abad ke-17 ide ini terbukti oleh pengamatan teleskop Galileo Galilei. Dengan analisis data observasi yang cukup teliti, Johannes Kepler menemukan bahwa orbit planet tidak berbentuk lingkaran, melainkan elips. Seiring perkembangan peralatan observasi, para astronom mengamati bahwa planet berotasi pada sumbu miring dan beberapa di antaranya memiliki beting es dan musim layaknya Bumi. Sejak awal Zaman Angkasa, pengamatan jarak dekat oleh wahana antariksa membuktikan bahwa Bumi dan planet-planet lain memiliki tanda-tanda vulkanisme, badai, tektonik, dan bahkan hidrologi.


Merkurius - Orang Sumeria,  milenium ke tiga sebelum masehi

Merkurius (0,4 SA dari Matahari) adalah planet terdekat dari Matahari serta juga terkecil (0,055 massa bumi). Merkurius tidak memiliki satelit alami dan ciri geologisnya di samping kawah meteorid yang diketahui adalah lobed ridges atau rupes, kemungkinan terjadi karena pengerutan pada perioda awal sejarahnya. Atmosfer Merkurius yang hampir bisa diabaikan terdiri dari atom-atom yang terlepas dari permukaannya karena semburan angin surya. Besarnya inti besi dan tipisnya kerak Merkurius masih belum bisa dapat diterangkan. Menurut dugaan hipotesa lapisan luar planet ini terlepas setelah terjadi tabrakan raksasa, dan perkembangan ("akresi") penuhnya terhambat oleh energi awal Matahari.

Pengamatan tercatat dari Merkurius paling awal dimulai dari zaman orang Sumeria pada milenium ke tiga sebelum masehi. Bangsa Romawi menamakan planet ini dengan nama salah satu dari dewa mereka, Merkurius (dikenal juga sebagai Hermes pada mitologi Yunani dan Nabu pada mitologi Babilonia). Lambang astronomis untuk merkurius adalah abstraksi dari kepala Merkurius sang dewa dengan topi bersayap di atas caduceus. Orang Yunani pada zaman Hesiod menamai Merkurius Stilbon dan Hermaon karena sebelum abad ke lima sebelum masehi mereka mengira bahwa Merkurius itu adalah dua benda antariksa yang berbeda, yang satu hanya tampak pada saat Matahari terbit dan yang satunya lagi hanya tampak pada saat Matahari terbenam. Di India, Merkurius dinamai Budha (बुध), anak dari Candra sang bulan. Di budaya Tiongkok, Korea, Jepang dan Vietnam, Merkurius dinamakan "bintang air". Orang-orang Ibrani menamakannya Kokhav Hamah (כוכב חמה), "bintang dari yang panas" ("yang panas" maksudnya Matahari). Diameter Merkurius 40% lebih kecil daripada Bumi (4879,4 km), dan 40% lebih besar daripada Bulan. Ukurannya juga lebih kecil (walaupun lebih padat) daripada satelit Yupiter, Ganymede dan satelit Saturnus, Titan.


Venus - Pythagoras, abad ke-6

Venus (0,7 SA dari Matahari) berukuran mirip bumi (0,815 massa bumi). Dan seperti bumi, planet ini memiliki selimut kulit silikat yang tebal dan berinti besi, atmosfernya juga tebal dan memiliki aktivitas geologi. Akan tetapi planet ini lebih kering dari bumi dan atmosfernya sembilan kali lebih padat dari bumi. Venus tidak memiliki satelit. Venus adalah planet terpanas dengan suhu permukaan mencapai 400 °C, kemungkinan besar disebabkan jumlah gas rumah kaca yang terkandung di dalam atmosfer. Sejauh ini aktivitas geologis Venus belum dideteksi, tetapi karena planet ini tidak memiliki medan magnet yang bisa mencegah habisnya atmosfer, diduga sumber atmosfer Venus berasal dari gunung berapi.

Venus disebut Sukra dalam astrologi Hindu kuno. Hal ini diamati oleh Babel di 1600BC awal dan disebut planet Ishtar, dewi cinta dan kewanitaan.

Venus dikenal sebagai bintang mengembara jauh sebelum penemuan teleskop. Orang barat berpikir Venus ada dua planet yang berbeda pada pagi dan sore. Pythagoras adalah yang pertama untuk mengetahui di abad ke-6 yang merupakan salah satu planet. Dia berpikir bahwa Venus mengorbit di sekitar Bumi. Galileo melihat pada abad ke 17 bahwa Venus memiliki sifat-sifat seperti bulan.


Bumi

Bumi (1 SA dari Matahari) adalah planet bagian dalam yang terbesar dan terpadat, satu-satunya yang diketahui memiliki aktivitas geologi dan satu-satunya planet yang diketahui memiliki mahluk hidup. Hidrosfer-nya yang cair adalah khas di antara planet-planet kebumian dan juga merupakan satu-satunya planet yang diamati memiliki lempeng tektonik. Atmosfer bumi sangat berbeda dibandingkan planet-planet lainnya, karena dipengaruhi oleh keberadaan mahluk hidup yang menghasilkan 21% oksigen. Bumi memiliki satu satelit, bulan, satu-satunya satelit besar dari planet kebumian di dalam Tata Surya.


Mars

Mars (1,5 SA dari Matahari) berukuran lebih kecil dari bumi dan Venus (0,107 massa bumi). Planet ini memiliki atmosfer tipis yang kandungan utamanya adalah karbon dioksida. Permukaan Mars yang dipenuhi gunung berapi raksasa seperti Olympus Mons dan lembah retakan seperti Valles marineris, menunjukan aktivitas geologis yang terus terjadi sampai baru belakangan ini. Warna merahnya berasal dari warna karat tanahnya yang kaya besi. Mars mempunyai dua satelit alami kecil (Deimos dan Phobos) yang diduga merupakan asteroid yang terjebak gravitasi Mars.

Penemuan satelit Mars, Phobos dan Deimos, terjadi di 1877 ketika ahli astronomi asal Amerika Serikat bernama Asaph Hall, Sr. mengidentifikasi setelah pencarian lama, walaupun keberadaannya pernah di spekulasi sebelumnya.


Yupiter- Astronom Babilonia, abad ke-7 atau ke-8 SM

Yupiter (5,2 SA), dengan 318 kali massa bumi, adalah 2,5 kali massa dari gabungan seluruh planet lainnya. Kandungan utamanya adalah hidrogen dan helium. Sumber panas di dalam Yupiter menyebabkan timbulnya beberapa ciri semi-permanen pada atmosfernya, sebagai contoh pita pita awan dan Bintik Merah Raksasa. Sejauh yang diketahui Yupiter memiliki 63 satelit. Empat yang terbesar, Ganymede, Callisto, Io, dan Europa menampakan kemiripan dengan planet kebumian, seperti gunung berapi dan inti yang panas. Ganymede, yang merupakan satelit terbesar di Tata Surya, berukuran lebih besar dari Merkurius.

Di sekeliling Yupiter terdapat cincin yang tipis dan magnetosfer yang kuat. Selain itu terdapat paling tidak 67 satelit alami, termasuk empat satelit besar yang disebut satelit-satelit Galileo yang pertama kali ditemukan oleh Galileo Galilei pada tahun 1610. Satelit terbesar Yupiter, yaitu Ganymede, memiliki diameter yang lebih besar daripada planet Merkurius.

Pengamatan terhadap Yupiter telah dilakukan oleh astronom-astronom Babilonia dari abad ke-7 atau ke-8 SM. Sejarawan astronomi Cina Xi Zezong telah mengklaim bahwa astronom Cina Gan De telah menemukan satu satelit Yupiter pada tahun 362 SM tanpa menggunakan teleskop. Jika benar, penemuan ini mendahului Galileo selama dua milenium. Dalam karyanya pada abad ke-2 yang berjudul Almagest, astronom Yunani Claudius Ptolemaeus membuat model planet geosentrik berdasarkan deferen dan episiklus untuk menjelaskan pergerakan Yupiter relatif terhadap Bumi, dan memberinya periode orbit selama 4332,38 hari atau 11,86 tahun. Pada tahun 499, matematikawan dan astronom India Aryabhata juga menggunakan model geosentrik untuk memperkirakan periode orbit Yupiter sebesar 4332,2722 hari atau 11,86 tahun.

Pada tahun 1610, Galileo Galilei menemukan empat satelit terbesar Yupiter, yaitu Io, Europa, Ganymede, dan Callisto, yang diduga merupakan pengamatan satelit di luar Bumi pertama dengan menggunakan teleskop. Galileo juga menemukan bahwa Bumi tidak dikelilingi oleh planet-planet dan Matahari. Pendapatnya yang mendukung teori heliosentrisme Copernicus membuatnya terancam diinkuisisi oleh gereja.

Selama tahun 1660-an, Cassini menggunakan teleskop baru untuk menemukan bintik-bintik dan pita-pita berwarna di Yupiter dan menemukan bahwa planet ini berbentuk pepat. Ia juga dapat memperkirakan periode rotasi planet Yupiter. Lebih lagi, pada tahun 1690, Cassini menyadari bahwa atmosfer Yupiter mengalami rotasi diferensial.

Bintik Merah Besar, yaitu kenampakan berbentuk oval di belahan selatan Yupiter, telah diamati pada tahun 1664 oleh Robert Hooke dan pada tahun 1665 oleh Giovanni Cassini, walaupun hal ini masih diperdebatkan. Heinrich Schwabe sendiri memproduksi gambar yang menunjukkan detail Bintik Merah Besar pada tahun 1831.


Saturnus

Saturnus (9,5 SA) yang dikenal dengan sistem cincinnya, memiliki beberapa kesamaan dengan Yupiter, sebagai contoh komposisi atmosfernya. Meskipun Saturnus hanya sebesar 60% volume Yupiter, planet ini hanya seberat kurang dari sepertiga Yupiter atau 95 kali massa bumi, membuat planet ini sebuah planet yang paling tidak padat di Tata Surya. Saturnus memiliki 60 satelit yang diketahui sejauh ini (dan 3 yang belum dipastikan) dua di antaranya Titan dan Enceladus, menunjukan activitas geologis, meski hampir terdiri hanya dari es saja. Titan berukuran lebih besar dari Merkurius dan merupakan satu-satunya satelit di Tata Surya yang memiliki atmosfer yang cukup berarti.

Saturnus telah diketahui sejak zaman prasejarah. Pada zaman kuno, planet ini adalah planet terjauh dari 5 planet yang diketahui di tata surya (termasuk Bumi) dan merupakan karakter utama dalam berbagai mitologi. Pada mitologi Kekaisaran Romawi, Dewa Saturnus, di mana nama Planet ini diambil dari namanya, adalah dewa pertanian dan panen. Orang Romawi menganggap Saturnus sama dengan Dewa Yunani Kronos. Orang Yunani mengeramatkan planet terluar untuk Kronos, dan orang Romawi mengikutinya.

Cincin Saturnus membutuhkan paling sedikit teleskop dengan diameter 75 mm untuk menemukannya dan cincin tersebut tidak diketahui sampai ditemukan oleh Galileo Galilei tahun 1610. Galileo sempat bingung dengan cincin Saturnus dan mengira bahwa Saturnus bertelinga. Christian Huygens menggunakan teleskop dengan perbesaran yang lebih besar dan ia menemukan bahwa cincin itu adalah cincin Saturnus. Huygens juga menemukan satelit dari Saturnus, Titan. Tidak lama, Giovanni Domenico Cassini menemukan 4 satelit lainnya, Iapetus, Rhea, Tethys dan Dione. Pada tahun 1675, Cassini juga menemukan celah yang disebut dengan divisi Cassini.

Tidak ada penemuan lebih lanjut sampai tahun 1789 ketika William Herschel menemukan 2 satelit lagi, Mimas dan Enceladus. satelit Hyperion, yang memiliki resonansi orbit dengan Titan, ditemukan tahun 1848 oleh tim dari Britania Raya.

Pada tahun 1899, William Henry Pickering menemukan satelit Phoebe. Selama abad ke-20, penelitian terhadap Titan mengakibatkan adanya konfirmasi pada tahun 1944 bahwa Titan memiliki atmosfer yang tebal, di mana Titan menjadi satelit yang unik di antara satelit di Tata Surya lainnya.


Uranus - William Herschel (Kelahiran Jerman-Inggris), 1781

Uranus (19,6 SA) yang memiliki 14 kali massa bumi, adalah planet yang paling ringan di antara planet-planet luar. Planet ini memiliki kelainan ciri orbit. Uranus mengedari Matahari dengan bujkuran poros 90 derajat pada ekliptika. Planet ini memiliki inti yang sangat dingin dibandingkan gas raksasa lainnya dan hanya sedikit memancarkan energi panas. Uranus memiliki 27 satelit yang diketahui, yang terbesar adalah Titania, Oberon, Umbriel, Ariel dan Miranda.

Uranus telah diamati pada banyak kesempatan sebelum penemuannya sebagai planet, namun ia dianggap secara salah sebagai bintang. Pengamatan yang tercatat paling awal adalah pada tahun 1690 saat John Flamsteed mengamati planet itu sedikitnya enam kali, mengkatalogkannya sebagai 34 Tauri. Astronom Perancis, Pierre Lemonnier, mengamati Uranus setidaknya dua puluh kali antara tahun 1750 dan 1769, termasuk pada empat malam berturut-turut.

Sir William Herschel mengamati planet itu pada 13 Maret 1781 saat berada di taman di rumahnya di 19 New King Street di kota Bath, Somerset (sekarang Herschel Museum of Astronomy), namun mulanya melaporkannya (pada 26 April 1781) sebagai sebuah "komet". Herschel "melakukan serangkaian pengamatan terhadap paralaks pada bintang-bintang yang tetap", menggunakan teleskop yang ia desain sendiri.

Dia mencatat dalam jurnalnya "Pada kuartil dekat ζ Tauri … bisa merupakan bintang Nebula atau sebuah komet". Tanggal 17 Maret, dia mencatat, "Aku mencari Komet atau Bintang Nebula itu dan menemukan bahwa ia adalah sebuah Komet, karena ia berubah letaknya". Saat dia mempresentasikan penemuannya pada Royal Society, ia terus menegaskan bahwa dia telah menemukan sebuah komet sementara secara implisit membandingkannya pada planet.

Herschel memberitahu Astronomer Royal, Nevil Maskelyne, akan penemuannya dan menerima jawaban keheranan ini darinya pada tanggal 23 April: "Aku tidak tahu menyebutnya apa. Mungkin ia planet reguler yang bergerak pada orbit yang hampir melingkar pada Matahari karena Komet bergerak pada elips yang sangat eksentrik. Aku belum melihat koma atau ekor apapun padanya".

Sementara Herschel secara hati-hati terus menggambarkan objek baru ini sebagai sebuah komet, para astronom lain sudah mulai menduga secara lain. Astronom Rusia Anders Johan Lexell memperkirakan jaraknya 18 kali jarak Matahari dari Bumi dan belum satu kometpun yang diamati dengan perihelion empat kali jarak Bumi-Matahari. Astronom Berlin Johann Elert Bode mendeskripsikan penemuan Herschel sebagai "bintang bergerak yang dapat dianggap hingga sekarang ini objek tak diketahui mirip planet yang berkeliling di luar orbit Saturnus". Bode menyimpulkan bahwa orbitnya yang hampir berbentuk lingkaran lebih mirip sebuah planet daripada komet.

Objek itu dengan segera diterima secara universal sebagai sebuah planet. Tahun 1783, Herschel sendiri mengakui fakta ini kepada direktur Royal Society Joseph Banks.

Herschel memutuskan untuk menamai objek itu Georgium Sidus (Bintangnya George), atau "Planet Georgian" untuk menghormati penyokong dirinya yang baru, Raja George III.

Nama yang diusulkan Herschel tidak populer di luar Britania dan beberapa alternatif segera diusulkan. Astronom Jérôme Lalande mengusulkan planet itu dinamai Herschel untuk menghormati penemunya. Namun, Bode, memilih Uranus, versi Latin dewa langit Yunani, Ouranos. Bode berargumen bahwa seperti Saturnus yang merupakan ayah dari Jupiter, planet baru itu mesti diberi nama dari nama ayah Saturnus. Pada tahun 1789, kolega Bode dari Royal Academy, Martin Klaproth menamai unsur yang baru ditemukan dengan "uranium" untuk mendukung pilihan Bode. Pada akhirnya, saran Bode menjadi yang paling luas digunakan dan menjadi universal pada 1850 saat HM Nautical Almanac Office, yang terakhir yang tidak menggunakannya, beralih dari menggunakan Georgium Sidus kepada Uranus.


Neptunus - Le Verrier, 1845–1846

Neptunus (30 SA) meskipun sedikit lebih kecil dari Uranus, memiliki 17 kali massa bumi, sehingga membuatnya lebih padat. Planet ini memancarkan panas dari dalam tetapi tidak sebanyak Yupiter atau Saturnus. Neptunus memiliki 13 satelit yang diketahui. Yang terbesar, Triton, geologinya aktif, dan memiliki geyser nitrogen cair. Triton adalah satu-satunya satelit besar yang orbitnya terbalik arah (retrogade). Neptunus juga didampingi beberapa planet minor pada orbitnya, yang disebut Trojan Neptunus. Benda-benda ini memiliki resonansi 1:1 dengan Neptunus.

Lukisan Galileo menunjukkan bahwa ia pertama melihat Neptunus pada tanggal 28 Desember 1612 dan 27 Januari 1613. Pada kedua hari tersebut, Galileo salah menganggap Neptunus sebagai sebuah bintang tetap ketika planet ini muncul sangat dekat—konjungsi—dengan Yupiter pada langit malam; karena itu, ia tidak dianggap sebagai penemu Neptunus. Pada masa pengamatan pertamanya bulan Desember 1612, Neptunus bersifat tetap di langit karena planet ini baru saja mengalami penghuluan pada hari itu. Gerakan ke belakang ini terbentuk ketika orbit Bumi membawa Bumi melewati planet terluar. Karena Neptunus baru saja memulai siklus penghuluan tahunannya, gerakan planet ini terlalu sulit dilacak menggunakan teleskop kecil Galileo. Pada Juli 2009, fisikawan Universitas Melbourne, David Jamieson mengumumkan adanya bukti baru yang menyatakan bahwa Galileo setidaknya sadar bahwa bintang yang ia amati telah berpindah relatif terhadap bintang tetap.

Tahun 1821, Alexis Bouvard menerbitkan tabel astronomi orbit tetangga Neptunus, yaitu Uranus. Pengamatan selanjutnya menemukan pergeseran dari tabel tersebut, sehingga mendorong Bouvard berhipotesis bahwa suatu benda tak diketahui sedang melakukan perturbasi pada orbitnya melalui interaksi gravitasi. Tahun 1843, John Couch Adams mulai mengamati orbit Uranus menggunakan data yang ia miliki. Melalui James Challis, ia meminta Sir George Airy, Astronomer Royal, mengirimkan data tersebut pada Februari 1844. Adams terus melakukan pengamatannya pada 1845–1846 dan menghasilkan beberapa perkiraan yang berbeda tentang sebuah planet baru, namun tidak menanggapi permintaan dari Airy tentang orbit Uranus.

Tahun 1845–1846, Urbain Le Verrier, terlepas dari Adams, mengembangkan penghitungannya sendiri namun juga mengalami kesulitan memunculkan antusiasme rekannya tersebut. Pada Juni 1846, setelah melihat terbitan perkiraan pertama bujur planet karya Le Verrier dan kesamaan dengan perkiraan Adams, Airy membujuk Direktur Cambridge Observatory, James Challis untuk mencari planet itu. Challis dengan semangat mengamati langit sepanjang Agustus dan September.

Sementara itu, melalui surat, Le Verrier meminta astronom Observatorium Berlin, Johann Gottfried Galle untuk mencari planet ini menggunakan refraktor observatorium. Heinrich d'Arrest, seorang pelajar di observatorium ini, memberitahu Galle bahwa mereka mampu membandingkan carta langit terkini di wilayah lokasi prediksi Le Verrier dengan keadaan langit saat itu untuk menemukan karakteristik perpindahan suatu planet, berbeda dengan bintang tetap. Pada sore 23 September 1846 ketika surat Le Verrier diterima, Neptunus ditemukan 1° dari tempat yang diprediksi Le Verrier, dan sekitar 12° dari prediksi Adams. Challis kemudian menyadari bahwa ia telah mengamati planet ini dua kali pada bulan Agustus dan gagal mengidentifikasinya karena pendekatannya yang kasual terhadap pengamatan tersebut.

Setelah penemuan tersebut, muncul persaingan yang lebih nasionalis antara Perancis dan Britania Raya mengenai pihak yang pantas mendapat penghargaan atas penemuan planet ini. Konsensus internasional memutuskan bahwa Le Verrier dan Adams sama-sama berhak mendapat penghargaan. Sejak 1966, Dennis Rawlins mempertanyakan kredibilitas klaim Adams tentang penemuan bersama dan masalah ini dievaluasi kembali oleh sejarawan dengan pengembalian dokumen bersejarah "Neptune papers" pada tahun 1998 ke Royal Observatory, Greenwich. Setelah meninjau dokumen tersebut, mereka menyatakan bahwa, "Adams tidak pantas menerima penghargaan bersama Le Verrier atas penemuan Neptunus. Penghargaan ini berhak diberikan kepada orang yang sama-sama berhasil memprediksikan lokasi planet dan meyakinkan para astronom untuk mencarinya."


Penamaan

Sesaat setelah penemuannya, Neptunus hanya disebut sebagai "planet di luar Uranus" atau "planet Le Verrier". Usulan nama pertama berasal dari Galle, yang mengusulkan Yanus. Di Inggris, Challis mengusulkan Oceanus.

Dengan mengklaim hak pemberian nama temuannya, Le Verrier langsung mengusulkan nama Neptunus untuk planet ini, sementara secara keliru menyatakan bahwa nama tersebut resmi disetujui oleh Bureau des Longitudes Perancis. Pada bulan Oktober, ia mengusulkan agar planet ini diberi nama Le Verrier, sesuai nama dirinya, dan ia mendapatkan dukungan setia dari Direktur Observatorium, François Arago. Usulan ini ditentang di luar Perancis. Almanak Perancis langsung memperkenalkan kembali nama Herschel untuk Uranus, sesuai nama penemunya Sir William Herschel, dan Leverrier untuk planet baru ini.

Struve membawa nama Neptunus kepada Akademi Ilmu Pengetahuan Saint Petersburg pada 29 Desember 1846. Neptunus kelak menjadi nama yang disetujui secara internasional. Dalam mitologi Romawi, Neptunus adalah dewa laut, yang dapat dikenali dari Poseidon Yunaninya. Permintaan nama mitologi sepertinya mendukung tata nama planet-planet lain, yang semuanya, kecuali Bumi, diberi nama sesuai mitologi Yunani dan Romawi.

Banyak bahasa di dunia saat ini, bahkan di negara-negara yang tidak memiliki hubungan langsung dengan budaya Yunani-Romawi, memakai berbagai varian nama "Neptunus" untuk planet ini; dalam bahasa Cina, Jepang, dan Korea, nama planet ini dapat diterjemahkan secara harfiah sebagai "bintang raja laut" (海王星), karena Neptunus adalah dewa laut. 

Sumber: https://id.wikipedia.org
Read More
Ekavianty Prajatelistia - Penemu Obat Alami Gigi Sensitif

Ekavianty Prajatelistia - Penemu Obat Alami Gigi Sensitif

Ekavianty Prajatelistia
Ekavianty Prajatelistia, Kemlu.go.id
Ekavianty Prajatelistia adalah orang Indonesia yang menjadi mahasiswi S3 yang tergabung dalam Laboratory for Biomimetic and Environmental Materials (LBEM), Pohang University of Science and Engineering (POSTECH), Korea Selatan. Ia berhasil menemukan bahan alami yang mampu mengatasi masalah gigi sensitif. Hasil penelitiannya terbit di jurnal kesehatan. Diliput berbagai media Korsel. Dan telah dipatenkan di Korean Patent.

Selain menjadi mahasiswi dan peneliti, Eka juga berperan ganda mengasuh putrinya, Kayyisha (3 tahun), dan menjadi istri dari Andrieanto, mahasiswa Indonesia di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST) yang juga sedang melanjutkan studi S3. Eka dan Andri pun aktif bergabung dalam Persatuan Pelajar Indonesia di Korea (PERPIKA).

Sebelumnya, telah banyak para produsen pasta gigi yang mengklaim bahwa produknya dapat mengatasi rasa ngilu aibat gigi sensitif. Namun sebagian besar memiliki kandungan bahan aktif yang berkonentrasi tinggi.

Ekavianty berhasil memecahkan permasalahan gigi sensitif dengan menggunakan bahan alami dari tunicate. Ini adalah salah satu hewan laut dan merupakan makanan yang lazim dimakan di restoran-restoran seafood di Korea.

Kemampuan tunicate yang mampu menyembuhkan luka di tubuhnya sendiri tergolong unik. Hal ini menginspirasi Eka melakukan penelitian tentang bagaimana tunicate menyembuhkan dirinya sendiri, untuk kemudian diaplikasikan ke gigi manusia agar dapat menumbuhkan mineral yang hilang pada gigi secara alami.

Tunicate
Tunicate
Hasil penelitian Eka di bawah bimbingan Professor Hwang Dong Soo ini telah terbit di jurnal Advanced Healthcare Materials. Penelitian tersebut, yang bahkan telah dipatenkan di Korean Patent, juga tidak luput dari liputan media-media di Korea Selatan seperti KBS, MBC, dan YTN.

Eka menjelaskan bahwa penelitiannya menarik karena dengan memakan tunicate, dipadu dengan bahan makanan yang mengandung metal ion seperti yang terkandung dalam vitamin dan suplemen, dengan konsentrasi rendah, dapat menutup pori-pori dentin hanya dalam waktu 4 menit dengan cukup berkumur.

Bahan aktif tersebut akan membentuk senyawa kompleks dan menutup pori-pori dentin sebanyak ~50%. Lalu, tanpa berkumur, liur atau saliva dalam mulut akan membantu menumbuhkan mineral gigi selama 7 hari, dan pada akhirnya, sebanyak ~87% pori-pori dentin yang terekspos tersebut akan tertutupi dengan mineral pembentuk gigi.

Menariknya, ternyata lapisan yang terbentuk tidak merusak warna gigi, sehingga tidak merusak estetika pada gigi.


Dalam akun Facebooknya, Eka menerangkan tentang temuannya ini:

ketika seseorang memakan sesuatu yg panas atau dingin, bagi beberapa orang mungkin ada yang merasa nyut-nyutan, nah itu terjadi kemungkinan karena dentin tube nya terekspos karena tidak terlindungi enamelnya.

Eksperimen saya ini berkisah dari kejadian diatas, yang mana kalau kita memakan tunicate, dicampur dengan vitamin atau suplemen lainnya, bisa menutup eksposed dentin tersebut dalam waktu 4 menit berkumur2 saja^^

lebih lanjut, selama 7 hari 80% nyut2annya mungkin akan hilang hanya dengan bantuan saliva dalam mulut kita.


Sumber: Kemlu.go.id "Mahasiswi RI di Korea Temukan Obat Alami Atasi Gigi Sensitif"
Read More
Yuke Fadhillah Kirana - Penemu Plastik Degradable Dari Limbah Kulit Udang

Yuke Fadhillah Kirana - Penemu Plastik Degradable Dari Limbah Kulit Udang

Yuke Fadhillah Kirana
www.facebook.com
Yuke Fadhlillah Kirana adalah seorang Siswi  SMA Kharisma Bangsa Pamulang, Tangsel. Ia dikenal karena telah  membuat plastik degradable yang terbuat dari limbah kulit udang.

Yuke Fadhillah Kirana, siswi kelas XII SMA Kharisma Bangsa berinovasi membuat plastik degradable yang cepat hancur. Plastik degradable ini dibuat Yuke dari tiga bahan utama, yaitu Polyvinylalkohol (PVA), Kitosan yang berasal dari limbah kulit udang dan pati onggok. Pembuatan plastik yang mudah terurai ini berwal dari seringnya ia makan udang tanpa kulit. Ia berpikir memanfaatkan kulit udang yang bisanya terbuang menjadi benda yang bermanfaat.


Proses pembuatan

Yuke memberi nama temuannya yakni "Plastik degradable", dibuat dari tiga bahan utama, yaitu Polyvinylalkohol (PVA), Kitosan yang berasal dari limbah kulit udang dan pati onggok.

Dalam proses pembuatannya, pertama-tama Yuke mengekstraksi pati onggok dan kitosan, kemudian hasilnya dicampur dan diaduk menggunakan stirer sampai membentuk bahan cair.

Setelah itu, ditambahkan sebuah bahan kimia agar cairannya menjadi elastis, kemudian dituangkan ke sebuah media cetak. Setelah itu dikeringkan dengan cara dioven selama dua hari atau lebih, tergantung ukuran plastiknya.

Ide pembuatan kantong polastik berawal saat di sekolahnya ada penelitian. Kebetulan Yuke suka sekali makan udang tanpa kulit. Jadi, ia manfaatkan limbah kulit udang untuk dibuat plastik.

Plastik degradable karya Yuke telah diuji ketahanannya di Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), di mana hasilnya menunjukkan bahwa plastik tersebut mampu membawa delapan air mineral dalam kemasan sekaligus. Meskipun berasal dari limbah udang, plastik ini tidak berbau udang. Kantong plastik ini juga bisa digunakan untuk membawa makanan seperti kue-kue atau makanan dalam kemasan.


Polyvinyl Alcohol merupakan polimer kimia dari vinyl alcohol. Polivinil alkohol memiliki sangat banyak manfaat, diantaranya:
  • Lem Kertas jika di tambahkn dengan asam borat
  • Pengental dan modifikator dalam lem polivinil asetat
  • Bahan tambahan industri tekstil
  • Pelapisan Kertas
  • Untuk packaging detergent
  • bahan produk pembalut biodegradable
  • Pelindung CO2 dalam botol PET
  • Sebagai film dalam proses water transfer process
  • Salah satu bahan baku untuk Slime
  • Digunakan dalam tetes mata dan larutan pembilas kontak lens
  • Bahan mentah dari polyninyl nitrate
  • Sebagai surfaktan untuk pembentukan suatu polimer
  • Digunakan sebagai zat pelindung dalam sarung tangan kimia 
  • Jika di kombinasikan dengan Iodine , bisa digunakan untuk polarisasi cahaya
  • sebagai bahan dalam 3d printing

Chitosan adalah Sebuah senyawa yang ditemukan dalam kulit binatang berkulit keras dan bagian-bagian serangga, bentuk yang lebih tahan dari chitin, yang oleh para peneliti di Wyss Institute for Biologically Inspired Engineering di Harvard dikatakan "bahan organik paling berlimpah kedua di Bumi." Chitin merupakan polisakarida keras yang ditemukan dalam cangkang atau kulit binatang berkulit keras.

Pati Onggok dibuat dari sari pati batang aren atau tumbuhan penghasil kolang-kaling.


Referensi:
  • http://bisakimia.com/2015/02/09/jual-pva-polyvinyl-alcohol/
  • http://www.timesindonesia.co.id/baca/110310/20151203/151758/siswa-sma-ciptakan-plastik-ramah-lingkungan-dari-kulit-udang/
  • http://www.voaindonesia.com/content/kulit-udang-bisa-jadi-alternatif-bahan-plastik-yang-terurai-alami/1910128.html
  • http://medialingkungan.com/index.php/news/informasi-teknologi/wow-kantong-plastik-dari-kulit-udang
  • http://www.antaranews.com/berita/533005/siswi-sma-sulap-limbah-kulit-udang-jadi-plastik-ramah-lingkungan
  • http://krjogja.com/read/177679/bendo-sentra-industri-pati-onggok.kr
Read More
William McCrum - Penemu Tendangan Penalti

William McCrum - Penemu Tendangan Penalti

William McCrum adalah orang Irlandia produsen kain dan olahragawan yang kaya. Ia merupakan salah satu pengurus Asosiasi Sepakbola Irlandia. Ia dikenal karena menjadi penemu tendangan penalti dalam olah raga sepak bola pada tahun 1890.
Dalam pertandingan sepakbola tendangan penalti merupakan salah satu hukuman terhadap pemain yang melakukan pelanggaran di kotak pertahanan timnya sendiri.

Penalti memberikan keuntungan bagi tim yang pemainnya dilanggar. Sebagian besar sepakan melalui titik penalti berbuah gol. Tentu menjadi kerugian bagi tim yang pemainnya melanggar.


Biografi

William adalah putra dari jutawan linen Robert GARMANY McCrum, yang merupakan pembangun model desa dari Milford dan tinggi Sheriff dari Armagh era Victoria. Ia belajar di The Royal School, Armagh dan kemudian Trinity College, Dublin dan kemudian bekerja untuk bisnis keluarga termasuk salah satu direktur pengelolaan produsen linen McCrum, Watson dan Merver. William tidak sukses dalam menjalankan bisnis keluarga dan harus menjual pabrik Milford pada tahun 1931.

Ia banyak menghabiskan sebagian besar hidupnya di Milford sana dia menjadi seorang hakim perdamaian dan perwakilan dari banyak klub olahraga dan komite termasuk Milford Football Club , Milford dan Armagh kriket klub, dan Armagh Rugby Football Club . Ia bermain catur untuk Armagh dan berpartisipasi dalam permainan individu dan kompetisi tim.

Selama bertahun-tahun ia bermain sebagai kiper untuk Milford FC termasuk di musim pertama dari Irish Football League (1890-1891). Milford selesai bawah liga dengan 0 poin dari 14 pertandingan, setelah kebobolan 62 gol dan hanya mencetak 10.

William McCrum meninggal setelah lama sakit pada bulan Desember 1932 di sebuah rumah kos Armagh. Rumah keluarga The McCrum di Milford, Manor House menjadi rumah sakit-perawatan khusus, tetapi sekarang terlantar.


Tendangan penalti 

Tendangan Penalti
Tendangan Penalti
Saat menjadi salah satu pengurus Asosiasi Sepakbola Irlandia, McCrum mengusulkan gagasan agar tendangan penalti diberlakukan sebagai bentuk hukuman bagi pemain yang melakukan pelanggaran di area terlarang. Ide itu disampaikan pada pertemuan bulan Juni 1890 dari Dewan Asosiasi Sepakbola Internasional oleh Sekjen Irlandia FA dan perwakilan IFAB Jack Reid.

Gagasan tersebut mendapat respon positif dari berbagai federasi sepakbola di dunia. Pada 1891, insan sepakbola di dunia akhirnya menyetujui diberlakukannya tendangan penalti dalam pertandingan.
Tendangan Penalti adalah metode menendang dalam pertandingan sepak bola, yang dilakukan dari titik penalti berjarak 11 meter menuju gawang.
Tendangan penalti dilakukan selama permainan berlangsung. Hal ini diberikan ketika pelanggaran dengan hukuman tendangan bebas terjadi dalam area penalti. Tendangan yang sama yang dibuat dalam adu penalti di beberapa sistem kompetisi untuk menentukan tim pemenang setelah pertandingan berakhir imbang; meskipun sama dalam penerapan, adu penalti memiliki batasan-batasan yang sedikit berbeda.

Dalam prakteknya, hukuman lebih sering menjadi gol daripada tidak, bahkan terhadap kiper kelas dunia, yang berarti bahwa pemberian tendangan penalti sering menentukan, terutama dalam permainan yang sedikit menghasilkan gol. Tendangan penalti yang berhasil sering mematahkan semangat pada pemain lawan karena dianggap dimudahkan untuk mencetak gol.

Tendangan penalti pertama pada sebuah laga resmi di dunia diberikan kepada tim Skotlandia, Airdrieonians pada tahun 1891 di Broomfield Park. tendangan penalti pertama di liga diberikan kepada Wolverhampton Wanderers dalam pertandingan mereka melawan Accrington di Stadion Molineux pada tanggal 14 September 1891. Hukuman itu diambil dan dicetak gol oleh Billy Heath ketika Wolves memenangkan pertandingan dengan skor 5-0. Terdapat beberapa teknik dalam tendangan penalti yang langka diterapkan seperti menendang bola pelan untuk kemudian ditendang oleh pemain lain ke arah gawang, seperti percobaan tendangan penalti yang dilakukan Robert Pires yang menendang bola secara pelan untuk ditendang Thierry Henry dalam pertandingan di Liga Primer Inggris antara Arsenal dan Manchester City di Highbury, meskipun tendangan ini tak berhasil menghasilkan gol.


Sumber: 
Read More
Alfian Mizar - Penemu 25 Teknologi Tepat Guna

Alfian Mizar - Penemu 25 Teknologi Tepat Guna

Lambang Universitas Negeri Malang
Dr M Alfian Mizar MP adalah doktor lulusan Jurusan Mekanisasi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) dan dosen di Universitas Negeri Malang (UM). Dia juga seorang penemu 25 jenis teknologi tepat guna yang sudah diakui nasional. Selain itu ia juga menulis buku.

Alfian Mizar lahir di Tuban, pada 24 Maret 1963. Sejak kecil sudah suka terhadap dunia permesinan. Sehingga dia memutuskan untuk mengambil kuliah di IKIP Malang (kini UM) Jurusan Teknik Mesin. Lalu dia melanjutkan studinya di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jurusan Mekanisasi Pertanian.

Sejak 1988, dia mengabdikan diri menjadi dosen di Universitas Negeri Malang (UM). Dia mengajar Komputer Aided Design (CAD). Bahkan, dia sukses membuat buku dengan judul yang sama. Selain itu, dia juga mengajar Perencanaan Permesinan. Pada 2015, dia terpilih menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Bidang Sains, Teknologi, Industri, dan Hak Kekayaan Intelektual (P3STIHKI UM) untuk mengoordinasi penelitian-penelitian dalam bidang yang terkait.

Alfian memang sudah hobi di dunia penelitian sejak kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM), hobinya tersebut terus diasah saat mengemban amanah di UM bidang penelitian. Hingga saat ini, jumlah karya yang dihasilkan Alfian sejak mengabdi di UM sudah mencapai 25 karya. Semua karya tersebut lolos program hibah Dikti Jakarta untuk diabdikan kepada masyarakat. Ia juga menjadi kepala pusat penelitian dan pengabdian masyarakat bidang sains teknologi, industri dan HaKI di bidang teknologi tepat guna UM. Alfian juga menjadi dewan juri Pimnas sejak tahun 2013 hingga sekarang.


Hasil Penemuan:
  • Dowel, adalah pembuat tongkat yang lebih efisien dibandingkan yang sudah ada saat ini (seperti menggunakan bubut). Dengan menggunakan Dowel, dalam satu jam bisa mencapai 150 buah tongkat. Atau perbandingannya 1:5 dari alat yang sudah ada (menggunakan bubut, Red). Kita tinggal memasukkan kayu berbentuk balok ke dalam Dowel, saat keluar dari alat itu, kayu berbentuk balok tadi sudah berubah menjadi bulat panjang.
  • Glassing. Alat untuk membersihkan dan mengkilapkan kulit, sehingga perajin kulit bisa lebih mudah menghilangkan bulu di kulit hewan dan membuat mengkilap kulit tersebut. Cara kerja: pengguna tinggal mengarahkan kulit hewan di bawah alat seperti untuk mengecat tembok.Saat diaktifkan, alat ini akan bergerak dengan sendirinya untuk mencabuti bulu atau membuat warna kulit mengkilap.
  • Kincir angin double acting, Alat tersebut untuk petani garam. Sistem kerjanya saat kincir ditiup angin, maka alat pompa yang dipasang di bagian kanan dan kiri kincir akan mengeluarkan air untuk dibuat garam tadi. Kincirnya dibuat fleksibel (bergerak sesuai arah angin).
  • Mesin Pengupas Kulit Kacang, Mesin ini dapat mengupas kulit kacang tanah hingga 40 kilogram dalam satu jam. Dalam sekali proses, empat hingga lima kilogram kacang tanah dapat masuk ke mesin tersebut. Dan hanya membutuhkan waktu delapan menit, kulit kacang sudah terlepas dari bijinya. Proses awal, kacang tanah disiram dengan air panas, lalu dibiarkan terendam dalam waktu lima hingga sepuluh menit. Setelah itu, kacang tanah yang telah basah itu dimasukkan ke dalam mesin. Lalu dalam waktu delapan menit, biji kacang tanah akan keluar tanpa kulit. 

Sumber: http://radarmalang.co.id
Read More