Shams al-Dīn al-Samarqandi - Astronom dan matematikawan Abad ke-13 dari Samarkand

jam astronomi
Shams al-Dīn Muḥammad ibn Ashraf al-Husayni al-Samarqandi (c 1250 -.. C 1310) adalah seorang astronom abad ke-13 dan matematikawan dari Samarkand.

Tidak ada yang diketahui kehidupan al-Samarqandi. Ia diketahui dari tulisan yang merupakan karya-karyanya yang paling penting dalam dua dekade terakhir dari dekade ke-7 dan awal abad ke-8 AH. Dia menulis karya tentang teologi, logika, filsafat, matematika dan astronomi yang telah terbukti penting dan memberikan informasi tentang karya-karya ilmuwan lain dari periode itu.

Al-Samarqandi menulis sebuah karya Risalah fi adab al-bahth yang membahas metode penyelidikan penalaran intelektual menggunakan dialektika. Metode tersebut merupakan penyelidikan yang banyak digunakan oleh orang Yunani kuno. Dia juga menulis Sinopsis astronomi dan menghasilkan katalog bintang untuk tahun 1276-1277.

Dalam matematika al-Samarqandi terkenal untuk karya pendek yang terdiri dari 20 halaman yang membahas 35 dari proposisi Euclid. Meskipun hanya merupakan karya pendek, al-Samarqandi mencari referensi secara luas dari karya-karya matematikawan Muslim lainnya sebelum menulis itu. Misalnya dia merujuk pada tulisan-tulisan karaya Ibn al-Haytham, Omar Khayyam, al-Jawhari, Nasir al-Din al-Tusi, dan Atsir al-Dīn al-Abharī . [Sumber: Wikipedia

Adi Rahman Adiwoso - Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit

Adi Rahman Adiwoso
Adi Rahman Adiwoso
Ir. Adi Rahman Adiwoso M.Sc adalah ilmuwan dan penemu berkebangsaan Indonesia di bidang aeronautika. ia menghasilkan teknologi sekaligus produk baru yang belum ada di pasaran dunia. Inovasi Adi memungkinkan komunikasi lewat telepon genggam bisa dilakukan di mana saja. Ketika jaringan kabel belum menjangkau dan telepon seluler konvensional kehilangan sinyal, sistem telekomunikasi temuannya tetap “on”.

Adi Rahman Adiwoso lahir di Yogyakarta, 26 Juli 1953. Ia mnengenyam pendidikan tinggi di Bachelor of Science dari Universitas Purdue, Amerika Serikat (1975) dan Master of Science Bidang Aeronautika dan Astronautika, Institut Teknologi California, Amerika Serikat. Ia magang di bagian perakitan satelit Hughes Aircraft, salah satu kontraktor pertahanan internasional terbesar yang basisnya ada di California. Setelah 8 tahun berkerja Adi pulang ke tanah kelahirannya, Yogyakarta. Berbekal keahliannya dia lantas menghasilkan teknologi sekaligus produk baru yang belum pernah ada di pasaran dunia. Teknologi ini memungkinkan komunikasi handphone mampu dilakukan di mana saja. Meski jaringan kabel belum menjangkau dan telepon seluler kehilangan sinyal, sistem telekomunikasi temuan ini tetap bisa.

Lama di rantau tak menghilangkan kerinduannya pada kampung halamannya. Ia menampik tawaran green card, tiket menjadi warga negara Amerika Serikat dan memilih bekerja di negeri sendiri. Pada 1982, ia boyongan ke Jakarta. Tapi belum genap sewindu bekerja di Tanah Air, Adi memilih pensiun dini. Kecintaannya pada alam di Tanah Air membulatkan tekadnya untuk berkelana dari Ujung Kulon hingga Maumere. Sampai suatu ketika, Iskandar meminta pendapatnya tentang rencana penjualan satelit Palapa B-1 yang sudah habis masa pakainya. Satelit ”rongsokan” itu sudah ditaksir sebuah perusahaan di Amerika seharga US$ 50,000. Mendapat informasi itu, otak bisnisnya bekerja. ”Ngapain dijual. Kita jalankan saja”, kata Adi. Maka terbentuklah PT Pasifik Satelit Nusantara (PSN) pada 1991. Modal awalnya, dari urunan Adi dan Iskandar untuk membeli Palapa B-1. Lantas titik orbit satelit digeser ke timur, sehingga mampu mencakup pulau-pulau kecil di Pasifik. Namanya berubah jadi satelit Pasifik 1. Adi pun mulai menyetir bisnis ini. Hingga berkembang, dari ”sekadar” mengoperasikan dan menyewakan Pasifik 1, PSN kemudian melangkah ke yang lebih besar jangkauannya. Bersama timnya di PSN, keahliannya di bisnis satelit dieksplorasi lebih intensif lagi dengan mendirikan ACeS pada 1994. Di situ, PSN memegang 35% saham dan menggandeng Lockheed Martin, Philippines Long Distance Global Telecommunications (PLDT) serta Jasmine International (Thailand) sebagai mitra.

Untuk mewujudkan ambisi menciptakan sistem telekomunikasi berbasis satelit dengan teknologi GSM (global system for mobile communication), ACeS juga masuk ke Bursa Nasdaq, New York. Dengan modal US$ 750 juta, meluncurlah Garuda 1 ke angkasa. Tak lama berselang, Byru meluncur pula ke pasar. Keberhasilan Garuda 1 membuat nama ACeS berkibar. Di Tanah Air,  produk layanan PSN berkembang. Selain bermain di bisnis komunikasi satelit, PSN juga masuk ke bisnis multimedia dengan meluncurkan Multi Media Asia. Semuanya berbasis satelit. (A. Kukuh Karsadi) --- Sumber: Majalah Gatra, Edisi Khusus, Agustus 2004.


Penemuan Sistem Telekomunikasi

satelit garuda 1
Ilustrasi Satelit Garuda 1
Alat telekomunikasi bebas blank spot dan hemat tempat ini dimungkinkan berkat ide memasang satelit telekomunikasi di orbit geostationer. Di lintasan imajiner yang letaknya 36.000 km di atas permukaan bumi itulah, Adi menempatkan Satelit Garuda 1. Satelit gagasannya itu berbobot 4,5 ton yang dilengkapi dua antena payung kembar selebar 12 meter dan mampu menjangkau sepertiga kawasan dunia. Karena ukurannya cukup besar, intensitas pancaran sinyalnya juga cukup besar.

Peluncuran satelit sipil terbesar di dunia pada Februari 2000 itu mengejutkan operator telepon satelit dunia. Karena seluruh satelit telekomunikasi dunia diluncurkan di orbit rendah (600 – 1.000 km) dan menengah (7.000 – 10.000 km). Daya jangkau satelit-satelit itu terbatas. Agar dapat meliput satu belahan dunia butuh sekitar 60 satelit berorbit rendah atau 12 satelit berorbit menengah. Kelemahan lain pengoperasian sistem telekomunikasi satelit pada telepon bergerak ketika itu adalah pesawatnya yang tidak praktis. Perangkat telepon bergerak yang bisa digunakan untuk berkomunikasi via satelit ukurannya besar, sebesar ransel. Untuk mengoperasikannya juga perlu stasiun bumi, berupa antena parabola berdiameter satu meter. Terobosan yang dilakukan Adi tak hanya memperluas cakupan satelit, juga memperkecil dimensi pesawat telepon bergerak berbasis satelit ini. Dengan daya pancar 10 kw, sinyal Garuda 1 bisa diterima dengan pesawat telepon genggam yang sekaligus merupakan stasiun bumi. Jaringan telepon satelit itu diberi nama Byru.

Cara kerja telepon ini sangat bergantung pada Garuda 1, yang dikendalikan fasilitas pengontrol satelit di pulau Batam. Dikota itu juga dibangun pusat kendali jaringan (network control center – NCC), yakni pengatur arus percakapan dengan panel pengaturnya. Garuda 1 mampu melayani 22.000 pembicaraan pada saat bersamaan. Selain itu, dibangun pula sebuah pintu gerbang (gateway) yang berfungsi sebagai operator lokal. Dengan Byru, pelanggan bisa menghubungi sesama telepon satelit, ke telepon GSM serta ke telepon rumah. Tiap permintaan sambungan akan dilakukan melalui satelit. Permintaan itu dianalisis oleh NCC Batam, untuk menentukan identitas penelepon dan menentukan gateway mana yang cocok dengan tujuan panggilan. Setelah itu, permintaan sambungan akan diteruskan ke telepon tujuan. Pembicaraan pun berlangsung. Semua proses itu berjalan sangat cepat, hanya dalam hitungan detik.

Untuk mewujudkan gagasan itu, Adi memang tak melakukannya sendirian. Meskipun Garuda 1 dibuat oleh Hughes Aircraft (dimana Adi pernah bekerja), Amerika Serikat dan R190 dibuat Ericsson, Swedia, rancangannya dibuat sendiri oleh Adi dan timnya di PT. Pasifik Satelit Nusantara (PSN), yang didirikan Adi dan Iskandar Alisjahbana pada tahun 1991. Bersama guru besar dan mantan Rektor ITB itulah, lahir Byru dan Pasti – merek dagang sistem telepon satelit buatan PSN. Tanpa keberanian memasarkan sendiri, bisa jadi temuan telepon satelit geostationer itu cuma jadi prototipe di laboratorium. Atau menjadi barang milik perusahaan asing yang mampu memodali temuan tersebut. Dengan perangkat telekomunikasi PSN ini, Byru, Pasti (Pasang Telepon Sendiri) dan jasa internet Bina (Balai Informasi Nusantara), penduduk-penduduk daerah yang tak terjangkau jaringan telepon kabel dan nirkabel lainnya tetap bisa bertelepon dan menjelajah informasi lewat internet. Pada akhir tahun 2003, PSM mengklaim telah membebaskan 2.975 desa di 40 kabupaten di Indonesia dari isolasi telekomunikasi dengan perangkatnya yang berbasis satelit.

Sumber:
- Wikipedia
- www.jaist.ac.jp

Alfred Werner - Penemu Struktur Molekul Organik

Alfred Werner
Lahir: 12 Desember 1866 Mulhouse, Alsace

Meninggal: 15 November 1919 (umur 52) Zurich, Swiss

Kebangsaan: Swis

Bidang: Kimia anorganik

Lembaga: University of Zurich

Alma mater: University of Zurich, ETH Zurich

Penasihat Doktor: Arthur Rudolf Hantzsch, Marcellin Berthelot

Dikenal untuk: konfigurasi logam transisi kompleks

Penghargaan: Hadiah Nobel untuk Kimia (1913)
Alfred Werner (1866-1918) adalah seorang kimiawan Swiss. Menerima Penghargaan Nobel Kimia 1913 untuk penemuan struktur molekul organik olehnya. Werner merupakan orang pertama yang mengajukan struktur sesunggunya dari senyawa koordinasi yang mengandung ion kompleks, di mana sebuah atom logam transisi pusat dikelilingi oleh ligan netral atau anion. Ia juga mempersiapkan kompleks itu dengan isomer optik, dan pada tahun 1914 ia melaporkan senyawa chiral sintetis pertama yang kekurangan karbon, dikenal sebagai heksol dengan rumus kimia [Co(Co(NH3)4(OH)2)3]Br6. Dia adalah ahli kimia anorganik pertama yang memenangkan hadiah Nobel, dan satu-satunya sebelum 1973.


Biografi

Werner dilahirkan di Mulhouse, Alsace (yang kemudian bagian dari Perancis, tapi dianeksasi oleh Jerman pada tahun 1871) pada 12 Desember 1866. Ia dibesarkan dalam keluarga Katolik Roma. Ia pergi ke Swiss untuk belajar kimia di Institut Federal Swiss (Polytechnikum) di Zurich, disana ia memperoleh gelar doktor pada tahun 1890 di lembaga yang sama. Setelah studi postdoctoral di Paris, ia kembali ke Federal Institute Swiss untuk mengajar (1892), pada tahun 1893 ia pindah ke Universitas Zurich dan menjadi profesor pada tahun 1895. Pada tahun yang sama ia menjadi warga negara Swiss.


Penelitian

Kimia koordinasi 

Alfred Werner merupakan salah satu pakar kimia yang merupakan pesaing dalam Jorgensen dalam mengemukakan konstitusi atom-atom dalam suatu senyawa kompleks atau struktur senyawa kompleks. Dia sangat terkesan dengan fakta eksperimen berkaitan dengan senyawa-senyawa kompleks dari CoCl3 denga ligan NH3, khususnya senyawa kompleks CoCl3?3NH3. Cukup lama waktu yang dia habiskan untuk memecahkan masalah itu sampai akhirnya pada akhir tahun 1892, sekitar jam 02.00 pagi, dia terbangun dari tidurnya setelah ia mendapat ilham dalam mimpinya yang dating padanya secepat kilat, sewaktu dia tidur, tentang konstitusi atom-atom dalam senyawa kompleks dari CoCl3 dengan NH3. berdasarkan ilham yang dia peroleh, Werner langsung menganalisis konstitusi semua senyawa kompleks dari CoCl3 dengan NH3 dan etilenadiamina, serta senyawa-senyawa kompleks lainnya, lalu hasil analisisnya ditulis dalam bentuk artikel. Werner menulis artikelnya dengan sekuat kemampuannya dan tanpa adanya interupsi, sehingga artikel itu dapat diselesaikan pada jam 17.00 hari berikutnya. Jadi, Werner berhasil menyelesaikan analisis dan menuangkannya dalam bentuk tulisan dalam waktu hanya 39 jam. Artikel tersebut berjudul : “Beitrag zur Konstitution Anorganischer Verbindungen”, yang berarti “Kontribusi terhadap Konstitusi senyawa-senyawa Anorganik”. Artikel ini merupakan artikel paling masyhur dari semua artikel yang ditulis oleh Werner. Artikel inilah yang akhirnya menjadi landasan untuk munculnya teori koordinasi Werner. Teori koordinasi Werner muncul sebelum ditemukannya elektron oleh J. J Thompson pada tahun 1896.

Pada tahun 1893, Werner adalah orang pertama yang mengusulkan struktur yang benar untuk senyawa koordinasi yang mengandung ion-ion kompleks, di mana pusat transisi atom logam dikelilingi oleh netral atau ligan anionik.

Dalam teori koordinasi, Werner mempostulasikan adanya dua macam valensi, yaitu valensi primer dan valensi sekunder. Dua macam valensi ini hanya dimiliki oleh atom logam dalam senyawa kompleks. Valensi primer dari suatu atom logam hanya dapat dipenuhi oleh anion. Valensi sekunder disebut juga dengan bilangan koordinasi. Valensi sekunder dapat dipenuhi oleh anion atau molekul netral. Lebih lanjut Werner mengemukakan bahwa valensi sekunder dari suatu atom logam adalah diarahkan pada posisi tertentu dalam ruang disekitar atom logam yang disebut sebagai atom pusat. Atom pusat dengan anion atau molekul netral yang terikat pada atom pusat tersebut membentuk suatu kompleks. Kompleks yang atom pusatnya memiliki bilangan koordinasi empat struktur khasnya adalah tetrahedral atau bujur sangkar. Dalam larutan pada umumnya kompleks ini terdapat sebagai partikel-partikel diskrit.


Sifat valensi

Sebelum Werner, ahli kimia mendefinisikan valensi dari unsur sebagai jumlah obligasi tanpa membedakan berbagai jenis obligasi. Namun, dalam kompleks seperti [Co (NH 3) 6] Cl 3 misalnya, Werner menganggap bahwa obligasi Co-Cl sesuai dengan sebuah "primer" valensi 3 di jarak jauh, sedangkan Co-NH 3 obligasi yang sesuai dengan valensi "sekunder" atau lemah dari 6 pada jarak yang lebih pendek. Valensi sekunder dari 6 ia disebut sebagai bilangan koordinasi yang didefinisikan sebagai jumlah molekul (di sini dari NH 3) langsung terkait dengan atom logam pusat. Di kompleks lain ia menemukan nomor koordinasi 4 atau 8.

Pada pandangan ini, dan pandangan yang serupa, pada tahun 1904 Richard Abegg dirumuskan apa yang sekarang dikenal sebagai aturan Abegg yang menyatakan bahwa perbedaan antara positif dan negatif valensi maksimum dari unsur sering delapan. Aturan ini digunakan kemudian pada tahun 1916 ketika Gilbert N. Lewis merumuskan " oktet aturan "dalam bukunya teori kubus atom.

Dalam terminologi modern valensi utama Werner sesuai dengan keadaan oksidasi, dan valensi sekundernya disebut bilangan koordinasi. Obligasi Co-Cl (dalam contoh di atas) kini digolongkan sebagai ion, dan masing-masing obligasi Co-N adalah ikatan kovalen koordinat antara Lewis asam Co 3+ dan basa Lewis NH 3.

3 postulat Werner adalah:
  1. Unsur logam memiliki 2 macam valensi, yaitu valensi primer dan valensi sekunder (dalam istilah sekarang masing-masing disebut bilangan oksidasi dan bilangan koordinasi).
  2. Setiap unsur cenderung memenuhi valensi primer maupun valensi sekundernya.
  3. Valensi sekunder diarahkan kepada posisi tertentu dalam ruangan.

Pekerjaan

Lehrbuch der Stereochemie. Fischer, Jena 1904 Digital Edisi oleh University dan Perpustakaan Negara Düsseldorf

Sumber:
Wikipedia
- Sejarah Senyawa Koordinasi

Daftar Ilmuwan Indonesia yang Mendunia

scince loop
Mungkin kita sering melihat dan mempelajari segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmuwan berasal dari luar negeri atau barat. Namun sesungguhnya orang Indonesiapun sudah banyak yang menjadi ilmuwan terkenal yang menghasilkan penemuan yang menakjubkan. Di bawah ini Saya cantumkan daftar para ilmuwan dan para penemu yang telah berjasa untuk manusia.


Keterangan: Ketuk nama Ilmuwan untuk mengetahui biografi, biodata serta penemuannya.
  1. Adi Rahman Adiwoso - Penemu Teknologi Baru dalam Telepon Bergerak Berbasis Satelit
  2. Alex Kawilarang Warouw Masengi - penemu kapal ikan bersirip 
  3. Ali Zum Mashar - Penemu Mikroba Penyubur Tanah
  4. Andreas Barus (ahli nuklir dunia), 
  5. Arief Mulyana Djumra (penemu pemacu produktifitas udang), 
  6. Andrias Wiji Setio Pamuji - Penemu Reaktor Biogas 
  7. Azhari Sastranegara (ilmuwan Jepang), 
  8. Bambang Widiatmoko (ilmuwan laser OFCG Jepang, 30 hak paten), 
  9. BJ. Habibie. Prof. (mantan Presiden RI, ilmuwan 46 paten), 
  10. Daniel Murdiyarso (ilmuwan CIFOR),  
  11. Dani Hilman (penemu indikator alam terhadap gempa), 
  12. Dasep Ahmadi (ilmuwan mobil), 
  13. Djoko Sungkono. Prof.  (penemu alat hemat BBM), 
  14. Djuanda Suraatmadja (Penemu Beton Polimer Ramah Lingkungan ), 
  15. Eko Supriyanto. Prof.  (Dekan UTM Malaysia, 14 hak paten biomedis), 
  16. Evvy Kartini (Penemu Penghantar Listrik Berbahan Gelas)
  17. Fajar Budiprasetyo (pencipta game di Facebook), 
  18. Fuad Affandi. KH. (penemu pupuk MFA), 
  19. GA. Siwabessy (ahli nuklir),
  20. Gunawan Indrayanto (87 riset farmasi),
  21. Harry Sutjahyo - Fisikawan Partikel Elementer
  22. Haryo Sumowidagdo (ilmuwan CERN Swiss),
  23. Herawati Sudoyo (ilmuwan DNA Eijkman), 
  24. Hokky Situngkir (ilmuwan fisika), - Penemu Metode Motif Batik Fraktal
  25. I Gede Ngurah Widiana (penemu formula minyak oles), 
  26. I Made Budi (penemu formula buah merah).
  27. Ika Dewi Ana - Penemu Serbuk Penambal Tulang dan Gigi "Gama-CHA"
  28. Irwandi Jaswir (ilmuwan pangan terbaik WHRS), 
  29. Joe Hin Tjio (ilmuwan penemu 23 kromosom), 
  30. Johny Setiawan (penemu planet baru HIP 13044b), 
  31. Jose Rizal (dokter dunia), 
  32. Irawan Satriotomo (ilmuwan neurosains University Wisconsin AS), 
  33. Kaharuddin Djenod (arsitek 350 kapal Jepang), 
  34. Khoirul Anwar. Prof.  (ilmuwan 2 paten 4G OFDM NAIST Jepang), 
  35. Lindarti Purwaningsih (ilmuwan Max Planck Jerman), 
  36. Linus Nara Pradhana - Penemu Helm Berpendingin 
  37. M. Arief Budiman (ilmuwan genetika Orion Genomics AS), 
  38. Michael Iskandar (ilmuwan otomotif, penemu mesin Bing Bang), 
  39. M. Reza (ilmuwan ABB Swedia). 
  40. Mulyoto Pangestu (penemu teknik sperma beku), 
  41. Mumu Sutisna (penemu hormon penyubur padi).
  42. M. Warsianto (ilmuwan pencipta rokok A Mild-Star Mild-Clas Mild), 
  43. Nurul Taufiqu - Pakar Nanoteknologi Indonesia
  44. Pantur Silaban (ilmuwan fisika terbaik),
  45. Rahmiana Zein (penemu Krematografi tercepat di dunia), 
  46. Ratno Nuryadi (penemu Nanoscope), 
  47. Ruby Alamsyah (ahli teknologi komputer), 
  48. Ricky Elson (ilmuwan otomotif, 14 paten dunia),
  49. Robert Manurung (penemu minyak jarak murni).
  50. Sedyatmo (penemu pondasi cakar ayam), 
  51. Septinus George Saa (ilmuwan fisika AS), 
  52. Sutiman Bambang (penemu filter rokok sehat), 
  53. Sutjipto (penemu pondasi gempa), 
  54. Taruna Ikrar (ilmuwan otak AS), 
  55. Tetuko Sri Sumantyo (penemu radar satelit bumi di 118 negara), 
  56. Tjandramukti (ilmuwan mixed farming, penemu varietas kedelai baru), 
  57. Tjokorda Sukawati (penemu Sosrobahu), 
  58. Umar Saputra (penemu nutrisi Saputra), 
  59. Warsito Taruno (penemu ECVT 4D NASA dan alat terapi kanker), 
  60. Yaya Rukayadi (ilmuwan Yonsei University), 
  61. Yudi Utomo (Dirut Batantek, penemu kontainer nuklir)
  62. Yogi Erlangga (ilmuwan rumus Helhmholtz), 
  63. Yohannes Surya (ilmuwan fisika). 
  64. Zahlul Badaruddin (penemu Zahlul Integrated Unit), 
  65. Zamrisyaf (ilmuwan penemu listrik laut), 

Fritz Haber - Bapak Perang Kimia Penemu Proses Ammonia

Fritz Haber
Fritz Haber
Lahir: 9 Desember 1868 Breslau, Prussia

Meninggal: 29 Januari 1934 (umur 65) Basel, Swiss

Kebangsaan: Jerman

Bidang: Kimia fisika

Lembaga: Swiss Federal Institute of Technology, University of Karlsruhe

Alma mater: University of Heidelberg, Humboldt University of Berlin, Technical University of Berlin

Penasihat Doktor: Robert Bunsen

Dikenal untuk: Haber process(Proses Haber), Born-Haber cycle, Fertilizer, Haber–Weiss reaction, Chemical warfare, Explosives

Penghargaan: Nobel Kimia (1918), Rumford Medal (1932)

Istri: Clara Immerwahr (1901-1915; kematiannya, 1 anak)  Charlotte Nathan (1917-1927; bercerai, 2 anak-anak)
Fritz Haber adalah seorang kimiawan Jerman keturunan Yahudi yang menerima Hadiah Nobel Kimia tahun 1918 tentang pengembangan untuk sintesis amonia, yang berguna untuk pupuk dan bahan peledak. Produksi pangan untuk setengah populasi dunia saat ini tergantung pada metode ini untuk memproduksi pupuk. Haber, bersama dengan Max Born mengusulkan siklus Born-Haber sebagai metode untuk mengevaluasi energi kisi dari ion yang solid.

Haber dikenal juga sebagai sebagai "father of chemical warfare" ("bapak perang kimia ") selama bertahun-tahun kerjanya merintis pengembangan dan weaponizing klorin dan gas beracun lainnya selama Perang Dunia I, serta pendiri ketua dari DEGESCH Perusahaan , yang (dua dekade setelah masa Haber) sengaja menghasilkan hidrogen sianida berbasis Zyklon B gas yang digunakan untuk membunuh jutaan orang di kamar gas dari Holocaust.


Awal kehidupan dan pendidikan

Fritz Haber lahir di Breslau, Prussia (sekarang Wroclaw, Polandia) pada 9 Desember 1868, menjadi keluarga kaya Yahudi.Fritz Haber adalah anak dari Siegfried dan Paula Haber. Ayah Fritz Siegfried adalah seorang pedagang terkenal di kota, yang telah mendirikan bisnis dalam pigmen pewarna, cat dan farmasi.

Fritz menghadiri sekolah dasar di Johanneum School, sebuah "sekolah simultan" terbuka sama Katolik, Protestan, dan mahasiswa Yahudi. Pada usia 11, ia  sekolah di sekolah klasik St Elizabeth, di kelas merata dibagi antara Protestan dan mahasiswa Yahudi.

Fritz Haber berhasil lulus ujiannya di St Elisabeth High School di Breslau pada September 1886. Fritz belajar kimia di Universitas Friedrich Wilhelm di Berlin (sekarang, Humboldt University of Berlin), dengan direktur Institute for Chemistry, AW Hofmann. Ia kemudian belajar di Universitas Heidelberg untuk semester musim panas tahun 1887 di bawah bimbinga Robert Bunsen. Dia kemudian kembali ke Berlin, dengan Technical College of Charlottenburg (sekarang, Technical University of Berlin). Pada musim panas 1889 ia meninggalkan universitas untuk mengikuti pelayanan sukarela di Keenam Artileri Medan Resimen selama satu tahun. Setelah selesai, ia kembali ke Charlottenburg dan menjadi mahasiswa Carl Liebermann. Selain kuliah Liebermann pada kimia organik, Haber juga menghadiri ceramah Otto Witt pada teknologi pewarna kimia. Liebermann ditugaskan Haber untuk bekerja pada reaksi dengan Piperonal untuk topik tesisnya, diterbitkan sebagai Über einige turunan des Piperonals ( Sekitar Beberapa Derivatif Piperonal) pada tahun 1891.  Haber menerima gelar doktor dengan predikat cum laude dari Universitas Friedrich Wilhelm Mei 1891, setelah menyajikan karyanya kepada dewan penguji dari Universitas Berlin, karena Charlottenburg belum terakreditasi untuk memberikan gelar doktor.


Proses Haber-Bosch

Sebelum memulai karier akademinya sendiri ia bekerja pada bisnis kimia ayahnya dan di Institut Teknologi di Zürich dengan Georg Lunge. Selama masa itu di Karlsruhe dari 1894 sampai 1911 ia dan Carl Bosch mengembangkan proses Haber, yang merupakan pembentukan katalis amonia dari hidrogen dan nitrogen atmosfer ke bawah keadaan suhu dan tekanan tinggi. Pada 1918, ia menerima Hadiah Nobel Kimia untuk karyanya. Proses Haber-Bosch merupakan tonggak sejarah dalam kimia industri, karena memisahkan produksi produk nitrogen, seperti pupuk, bahan peledak dan makanan kimia, dari deposit alam, khususnya sodium nitrat ('Caliche'), yang mana Chili merupakan penghasil utama. Ketersediaan mendadak dari pupuk nitrogen yang murah dipuji dengan mencegah malapetaka Malthus, atau krisis penduduk.

Fritz Haber aktif dalam penelitian reaksi pembakaran, pemisahan emas dari air laut, pengaruh adsorpsi, dan elektrokimia. Sebagian besar pekerjaannya dari 1911 sampai 1933 dikerjakan di Institut untuk Fisika dan Elektrokimia di Berlin-Dahlem. Haber memainkan peran utama dalam pengembangan perang kimia dalam PD I. Bagian kerjanya termasuk pengembangan topeng gas dengan penyaring absorban. Perang gas dalam PD I ialah, dalam beberapa hal, perang para kimiawan, dengan Haber yang beradu dengan pemenang Nobel Kimia asal Perancis Victor Grignard. Istrinya menentang pekerjaannya pada gas beracun dan berkeputusan bunuh diri dengan senjata dinasnya setelah ia sendiri menjaga penggunaan pertama klorin di Ypres.


Proses ammonia untuk gas beracun

PD I usai, Nobel Kimia kembali diberikan pada tahun 1918. Penerimanya adalah kimiawan anorganik Fritz Haber. Penghargaan ini mungkin yang paling kontroversial dalam sejarah Nobel Kimia. Proses ammonia yang ditemukan Haber memang berguna bagi agrikultur untuk pembuatan pupuk. Tapi prosesnya ini juga digunakan untuk membuat gas beracun semasa perang. Sejarawan Elizabeth Crawford menunjukkan bahwa Komite Nobel sebenarnya tidak akan memberikan penghargaan Nobel ke Haber jika saja ada dukungan internasional untuk kandidat yang lain.

Dalam studinya mengenai gas beracun, Haber menemukan hubungan matematika yang mudah antara konsentrasi (C) gas dan jumlah waktu (t) yang mana itu dihirup, diperlihatkan sebagai C x t = k, di mana k ialah tetapan. Dengan kata lain, pembukaan pada tingkat rendah gas selama masa panjang dapat menyebabkan akibat yang sama (misal kematian) sebagai pembukaan konsentrasi tinggi selama waktu singkat. Hubungan ini dikenal sebagai kaidah Haber. Haber membela perang gas terhadap dakwaan bahwa itu tak berperikemanusiaan, berkata bahwa kematian ialah kematian, dengan cara apapun yang ditimbulkan. Pada 1920an, ia mengembangkan pembentukan gas sianida Zyklon B, yang digunakan sebagai insektisida.

Pada tahun 1933, NAZI mengambil alih kekuasaan di Jerman. Hitler sebagai pemimpin NAZI pernah melaksanakan program “Pemurnian Ras Arya”. Salah satu tindakan Hitler yang paling kejam adalah pembantaian umat Yahudi dengan menggunakan gas beracun. Satu persatu umat Yahudi digiring ke sebuah kamp militer, lalu mereka dimasukkan ke dalam ruangan tertutup yang dipenuhi gas beracun. Saat Hitler memegang tampuk kekuasaan pada tahun 1933, Fritz Haber tengah menjabat sebagai direktur Institute for Physical and Electrochemistry di Berlin-Dalhem. Demi mewujudkan ambisinya, Hitler memerintahkan Fritz Haber untuk menembak mati seluruh pekerja keturunan Yahudi yang bekerja di institutnya. Haber yang juga keturunan Yahudi menolak melakukannya, bahkan ia rela mengundurkan diri dari jabatannya. Kemudian ia menulis surat, “Selama lebih dari 40 tahun, saya telah memilih rekan-rekan kerja saya berdasarkan kepandaian dan karakter mereka. Saya tidak pernah memilih rekan kerja berdasarkan latar belakang nenek moyang mereka dan saya tidak ingin mengubah metode ini yang menurut saya sangat tepat.”

”For more than 40 years, I have selected my collaborators on the basis of their intelligence and their character and not on the basis of their grandmothers, and I am not willing to change this method which I have found so good.”

Tindakan Haber ini membuat NAZI marah besar tetapi mereka tidak menghukum Fritz Haber. NAZI tidak memberikan sanksi apapun kepada Fritz Haber karena mereka mempertimbangkan jasa dan reputasi Fritz Haber di mata internasional.


Kematian

Setelah mengundurkan diri, kondisi jantung Fritz Haber memburuk. Karena kondisi kesehatan yang semakin melemah akhirnya Fritz Haber menghembuskan nafas terakhirnya pada tanggal 29 Januari 1934 di Basle. Tidak lama setelah kematiannya, Asosiasi Kimia Jerman (German Chemical Society) mengadakan suatu acara seremonial untuk mengenang dan menghormati Fritz Haber. NAZI langsung naik pitam ketika mendengar rencana ini. Mereka marah karena Asosiasi Kimia Jerman memberikan suatu penghormatan yang sangat besar kepada seseorang yang telah menentang NAZI. NAZI mengancam akan menangkap semua orang yang menghadiri acara itu. Walaupun diancam, para ahli Kimia tidak takut dan tetap menghadiri acara itu. Melihat banyaknya ahli Kimia yang hadir, NAZI mengurungkan niat untuk menangkap dan menghukum mereka. NAZI sadar bahwa para ahli Kimia adalah tulang punggung dari rekonstruksi Jerman setelah Jerman hancur di Perang Dunia I. Tanpa adanya ahli Kimia, NAZI sulit membangun kembali kekuatannya.

Pada tahun 1933, selama kehidupan singkat Haber di Inggris, Chaim Weizmann menawarinya jabatan direktur di Sieff Research Institute (sekarang Weizmann Institute) di Rehovot  dalam Wajib Palestina. Dia menerima, dan berangkat ke Timur Tengah pada bulan Januari 1934 bersama saudara tirinya, Lain Haber Freyhahn. Pada tanggal 29 Januari 1934, pada usia 65, ia meninggal karena gagal jantung, saaat pertengahan perjalanan, di Basel Hotel. Fritz dikremasi dan dimakamkan di Basel Hörnli Cemetery pada 29 September 1934, dan dikebumikan ulang pada 27 Januari 1937. Fritz Haber mewariskan perpustakaan pribadinya yang luas dengan Sieff Institute, di mana ia mendedikasikan sebagai Perpustakaan Fritz Haber pada 29 Januari 1936.

Beberapa anggota keluarga Haber meninggal di kamp konsentrasi , termasuk Hilde Glucksmann, suaminya, dan dua anak mereka. Salah satu anak-anaknya, Ludwig ("Lutz") Fritz Haber (1921 -2004), menjadi seorang sejarawan terkemuka dari perang kimia dalam Perang Dunia I dan menerbitkan sebuah buku berjudul The Poisonous Cloud (1986).


Penghargaan dan Prestasi
  • Foreign Honorary Member, American Academy of Arts and Sciences(1914)
  • Nobel Prize in Chemistry (1918)
  • Bunsen Medal of the Bunsen Society of Berlin, with Carl Bosch (1918)
  • President of the German Chemical Society (1923)
  • Honorary Member, Société Chimique de France (1931)
  • Honorary Member, Chemical Society of England (1931)
  • Honorary Member, Society of Chemical Industry, London, (1931)
  • Rumford Medal, American Academy of Arts and Sciences (1932)
  • Foreign Associate Member, National Academy of Sciences, USA (1932)
  • Honorary Member, USSR Academy of Sciences (1932)
  • Board of Directors, International Union of Pure and Applied Chemistry, 1929-1933; Vice-President, 1931
  • Goethe-Medaille für Kunst und Wissenschaft (Goethe Medal for Art and Science) from the President of Germany.
[Sumber: Wikipedia]

Ibnu Al-Shatir - Penemu Jam Astrolab

Model Ibn al-Shatir untuk penampilan dari Merkurius , menunjukkan perbanyakan epicycles menggunakan Tusi-couple , sehingga menghilangkan eksentrik Ptolemaic dan equant .
Model Ibn al-Shatir untuk penampilan dari Merkurius, menunjukkan perbanyakan epicycles menggunakan Tusi-couple, sehingga menghilangkan eksentrik Ptolemaic dan equant.
Ala Al-Din Abu'l-Hasan Ali ibnu Ibrahim ibnu al-Shatir atau lebih dikenal dengan nama Ibnu Al-Shatir merupakan seorang astronomer Muslim Arab, ahli matematika, ahli mesin teknik dan penemu.

Peradaban Barat kerap mengklaim Nicolaus Copernicus (1473 – 1543 M)  sebagai tokoh pencetus teori heliosentrisme Tata Surya.  Sejarawan astronomi menemukan fakta,  ide matematika antara buku Copernicus yang berjudul “De Revolutionibus” memiliki kesamaan dengan sebuah buku yang pernah ditulis seratus tahun sebelumnya oleh ilmuwan Muslim Arab, Ibnu Al-Shatir (1304-1375 M).

Kitab yang menjadi rujukan Copernicus itu  bertajuk  “Kitab Nihayat Al-Sul Fi Tashih al-Usul”. Itu berarti, pemikiran  al-Shatir telah mempengaruhi Copernicus.

Ibnu Al-Shatir hidup diantara tahun 1304 – 1375. Ia penemu Muslim Arab yang bekerja sebagai muwaqqit (موقت, pengatur waktu ibadah) di Masjid Umayyah di Damaskus, Suriah.


Astronomi

Ibnu Al-Shatir merombak habis Teori Geosentris yang dicetuskan Claudius Ptolemaeus atau Ptolemy (90 SM– 168 SM). Secara matematis, al-Shatir memperkenalkan adanya epicycle yang rumit (sistem lingkaran dalam lingkaran). Al-Shatir mencoba menjelaskan bagaimana gerak merkurius jika bumi menjadi pusat alam semestanya dan merkurius bergerak mengitari bumi.

Model bentuk Merkurius Ibnu al-Shatir menunjukkan penggandaan dari epicycle menggunakan Tusi-couple, sehingga menghilangkan eksentrik dan equant teori Ptolemaic. Menurut George Saliba dalam karyanya  A History of Arabic Astronomy: Planetary Theories During the Golden Age of Islam, Kitab Nihayat al-Sul fi Tashih al-Usul, merupakan risalah astronomi Ibnu Al-Shatir yang paling penting.

"Dalam kitab itu,  secara drastis ia mereformasi model matahari, bulan, dan planet Ptolemic. Dengan memperkenalkan sendiri model non-Ptolemic yang menghapuskan epicycle pada model matahari, yang menghapuskan eksentrik dan equant. Dengan memperkenalkan epicycle ekstra pada model planet melalui model Tusi-couple, dan yang menghilangkan semua eksentrik/eccentric, epicycle dan equant di model bulan," jelas Saliba.

Sebelumnya, aliran Maragha hanya berpatokan pada model yang sama dengan model Ptolemaic. Model geometris Ibnu al-Shatir merupakan karya pertama yang benar-benar unggul daripada model Ptolemaic karena modelnya ini lebih baik sesuai dengan pengamatan empiris.


Filsafat

Ibnu al-Shatir juga berhasil melakukan pemisahan filsafat alam dari astronomi dan menolak model empiris Ptolemic dibanding filsafat dasar. Tidak seperti astronomer sebelumnya, Ibnu al-Shatir tidak peduli dengan mempertahankan teori prinsip kosmologi atau filsafat alam (atau fisika Aristoteles), melainkan untuk memproduksi sebuah model yang lebih konsisten dengan pengamatan empiris.

Modelnya menjadi lebih baik sesuai dengan pengamatan empiris daripada model-model sebelumnya yang diproduksi sebelum dia. Saliba menambahkan karyanya tersebut menjadi karya penting dalam astronomi, yang dapat dianggap sebagai sebuah "Revolusi ilmiah sebelum Renaissance".

Dalam membuat model barunya tersebut, Ibnu al-Shatir melakukan pengujian dengan melakukan pengamatan empiris. Tidak seperti astronomer sebelumnya, Ibnu al-Shatir umumnya tidak keberatan terhadap falsafah astronomi Ptolemaic, tetapi ia ingin menguji seberapa jauh teori Ptolemy cocok dengan pengamatan empirisnya.

Dia menguji model Ptolemaic, dan jika ada yang tidak cocok dengan pengamatannya, maka ia akan merumuskan sendiri model non-Ptolemaic pada bagian yang tidak cocok dengan pengamatannya.  Pengamatannya yang akurat membuatnya yakin untuk menghapus epicycle dalam model matahari Ptolemaic.

Ibnu al-Shatir juga merupakan astromer pertama yang memperkenalkan percobaan dalam teori planet untuk menguji model dasar empiris Ptolemaic. Saat menguji model matahari Ptolemaic, Ibnu al-Shatir memaparkan ''pengujian nilai Ptolemaic untuk bentuk dan ukuran matahari dengan menggunakan pengamatan gerhana bulan."

"Karyanya tentang percobaan dan pengamatannya memang telah musnah, namun buku  The Final Quest Concerning the Rectification of Principles adalah milik al-Shatir,'' papar Saliba.
Pengaruh Karya Ibnu Al-Shatir

"Meskipun sistemnya merupakan geosentri yang kuat, dia telah menghapuskan equant dan accentric Ptolemaic dan rincian sistem matematikanya hampir serupa dengan karya  Copernicus' De revolutionibus," jelas V  Roberts and E. S. Kennedy dalam karyanya "The Planetary Theory of Ibn al-Shatir".

Menurut Saliba, model bulan Copernicus juga tidak berbeda dengan model Ibnu al-Shatir. Dengan demikian dapat percaya bahwa model Ibnu al-Shatir telah diadaptasi oleh Copernicus dalam model heliocentric.

"Walaupun masih belum jelas bagaimana ini dapat terjadi, diketahui bahwa manuskrip Byzantine Yunani yang berisi  Tusi-couple tempat Ibnu al-Shatir bekerja telah mencapai Italia pada abad ke-15 M," jtutur AI Sabra dalam karyanya  "Configuring the Universe: Aporetic, Problem Solving, and Kinematic Modeling as Themes of Arabic Astronomy".

Saliba menambahkan, diagram model heliocentric yang dikembangkan Copernicus, termasuk tanda-tanda dari poin,  hampir sama dengan diagram dan tanda-tanda yang digunakan Ibnu al-Shatir pada model geosentrisnya. "Sehingga sangat mungkin bahwa Copernicus terpengaruh karya Ibnu al-Shatir," ujarnya.

YM Faruqi dalam karyanya " Contributions of Islamic scholars to the scientific enterprise", mengungkapkan, "Teori pergerakan bulan Ibnu al-Shatir sangat mirip dengan yang dicetuskan Copernicus sekitar 150 tahun kemudian".  Begitulah  Ilmuwan Muslim al-Shatir mampu memberi pengaruh bagi dunia Barat.


Kontribusi Al-Shatir  dalam Bidang Teknik

Jam Astrolab

David A King dalam bukunya bertajuk  The Astronomy of the Mamluks menjelaskan bahwa Ibnu al-Shatir menemukan jam astrolabe pertama di awal abad ke-14 M.

Jam Matahari

Menurut catatan sejarah, sundial atau jam matahari merupakan jam tertua dalam peradaban manusia. Jam ini telah dikenal sejak tahun 3500 SM. Pembuatan jam matahari di dunia Islam dilakukan oleh Ibnu al-Shatir, seorang ahli Astronomi Muslim ( 1304-1375 M). "Ibnu al-Shatir merakit jam matahari yang bagus sekali untuk menara Masjid Umayyah di Damaskus," ujar David A King dalam karyanya bertajuk  The Astronomy of the Mamluks.

Berkat penemuannya itu, ia kemudian dikenal sebagai  muwaqqit (pengatur waktu ibadah) pada Masjid Umayyah di Damaskus, Suriah. Jam yang dibuat Ibnu al-Shatir itu masih tergolong jam matahari kuno yang didasarkan pada garis jam lurus. Ibnu al-Shatir membagi waktu dalam sehari dengan 12 jam, pada musim dingin waktu pendek, sedangkan pada musim panas waktu lebih panjang. Jam mataharinya itu merupakan polar-axis sundial paling tua yang masih tetap eksis hingga kini.

"Jam mataharinya merupakan jam tertua polar-axis sundial yang masih ada. Konsep kemudian muncul di Barat jam matahari pada 1446," ungkap Jones, Lawrence dalam karyanya  "The Sundial And Geometry".

Kompas

David A.King  mengatakan Ibnu al-Shatir juga menemukan kompas, sebuah perangkat pengatur waktu yang menggabungkan jam matahari dan kompas magnetis  pada awal abad ke-14 M.

Instrumen Universal

Ibnu al-Shatir menjelaskan instrumen astronomi lainnya yang ia disebut sebagai "instrumen universal''.  Penemuan al-Shatir ini kemudian dikembangkan  seorang astronomer dan rekayawasan legendaris di era kekhalifahan Turki  Usmani,  Taqi al-Din. Iinstrumen itu digunakandi observatorium al-Din Istanbul 1577-1580 M. [sumber: Republika online]

Biografi Hans Wospakrik - Fisikawan Teoritis Indonesia Asal Papua

Hans Wospakrik
Hans Jacobus Wospakrik adalah seorang fisikawan Indonesia yang merupakan dosen fisika teoritik di Institut Teknologi Bandung.

Hans lahir di Serui, Papua, pada 10 September 1951. Ia adalah seorang yang mendapatkan penghargaan fisikawan terbaik oleh Universitas Atma Jaya Jakarta atas pengabdian, konsistensi, dan dedikasinya yang tinggi dalam penelitian di bidang fisika teori. Ia memberi sumbangan berarti kepada komunitas fisika dunia berupa metode-metode matematika guna memahami fenomena fisika dalam partikel elementer dan Relativitas Umum Einstein. Hasil-hasil penelitiannya ini dipublikasikannya di jurnal-jurnal internasional terkemuka, seperti Physical Review D, Journal of Mathematical Physics, Modern Physics Letters A, dan International Journal of Modern Physics A.

Hans adalah fisikawan Indonesia yang mengambil spesialisasi dan menguasai fisika teori. Di kalangan dosen dan mahasiswanya, Hans dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Para mahasiswa ITB kerap melihat Hans di malam hari pulang berjalan kaki ke rumahnya yang terletak sekitar enam kilometer dari almamaternya, kampus Ganesha ITB.


Riwayat pendidikan

Hans muda pertama kali tertarik dengan teori relativitas saat guru fisikanya di SMA Negri Manokwari memperkenalkan konsep garis lengkung sebagai penghubung terpendek dua titik, hal yang membekuk perhatiannya sebab pemahaman awam dan ilmu ukur yang dipelajarinya sampai tingkat sekolah menengah menakrifkan bahwa penghubung terpendek dua titik mestilah suatu garis lurus. Pengetahuan baru itu terus mengobarkan api kuriositas di pedalaman korpusnya.

Setamat SMA ia memiliki tekad untuk menggeledah misteri itu. Pada awal 1970-an ia diterima sebagai mahasiswa Teknik Perminyakan ITB, simbol kemakmuran pada masa itu, namun gaya tarik relativitas rupanya lebih deras menyedotnya dalam rute yang kelak memandunya sebagai ilmuwan. Atas rekomendasi seorang fisikawan teori di Departemen Fisika ITB, permohonan Hans pindah jurusan dikabulkan oleh pihak rektorat.

Tahun 1971 Hans masuk ITB dengan mengambil jurusan Teknik Pertambangan, yang tidak diminatinya sehingga pindah pada tahun berikutnya ke jurusan Fisika. Tahun 1976 ia menyelesaikan pendidikan sarjananya. Pada akhir tahun 1970–an, ia pergi ke Belanda dalam rangka melanjutkan studi pascasarjana di bidang fisika teoritik. Semenjak tahun 1999 Hans pergi ke Universitas Durham, Inggris. Tapi baru tahun 2002 ia mengambil program doktor di universitas yang sama. Awal tahun 1980–an, sembari melanjutkan studi pascasarjananya, Hans pernah mengadakan riset bersama Martinus JG Veltman (tahun 1999, Veltman meraih Nobel Fisika), di Utrecht, Belanda, dan di Ann Arbor, Michigan, Amerika Serikat (AS) .


Dari Atomos Hingga Quark

Dari Atomos Hingga Quark adalah sebuah buku hasil karya Hans yang menceritakan mengenai pencarian manusia sepanjang sejarah mengenai penyusun terkecil dari materi-materi alam ini. Berawal dari Yunani di mana para filsuf saat itu berfilsafat mengenai penyusun terkecil setiap materi, Jazirah Arab yang disinggung oleh Hans sebagai pemegang "obor pengetahuan" berikutnya setelah Yunani, ilmu alkemi, reaksi nuklir yang "menceritakan" pada kita tentang keberadaan atom, proton dan neutron, sampai temuan saat ini mengenai satuan materi yang lebih kecil, yaitu quark.

Quark (dibaca/ 'kwɔː(r)k/  /ˈkwɑrk/), sebagaimana dijelaskan dalam model standar pada fisika partikel, gabungan antar Quark membentuk partikel komposit bernama Hadron. Partikel Hadron yang paling stabil berupa Proton & Neutron yang merupakan komponen pembentuk inti atom. Quark tidak pernah diteliti atau ditemukan secara langsung secara isolasi. Quark hanya ditemukan di dalam Hadron, seperti Barion, dan Meson.

Terdapat 6 jenis quark, yaitu Up, Down, Strange, Charms, Bottoms dan Top. Up dan Down memiliki massa yang terlemah.

Di antara keenam jenis quark, quark terberat berubah jenis menjadi quark up dan down melalui proses peluruhan partikel, transformasi quark terberat menjadi quark teringan. Karena inilah quark up maupun quark down merupakan jenis quark terstabil di antara keenam jenis quark dan yang paling umum dijumpai di alam. Sedangkan quark Strange, Charms, Bottoms dan Top hanya dapat ditemukan atau dihasilkan di high energy collision (tumbukan berenergi tinggi, seperti Sinar kosmik dan di partikel akselerator/LHC). Hanya quark-lah yang memenuhi keempat interaksi fundamental, dikenal juga sebagai gaya fundamental (elektromagnetik, gravitasi, interaksi kuat, dan interaksi lemah). Dan untuk setiap jenis quark terdapat jenis lawannya yaitu antiquark.

Model kuark secara independen diajukan oleh fisikawan bernama Murray Gell-Mann dan George Zweig pada tahun 1964. Quark diperkenalkan sebagai bagian dari skema penyusunan hadron dan terdapat sedikit bukti keberadaan fisik mereka sampai dilakukannya eksperimen hamburan inelastis di Stanford Linear Accelerator Center di tahun 1968. Percobaan Accelerator telah memberikan bukti untuk semua enam rasa. Top quark adalah yang terakhir yang ditemukan di Fermilab di tahun 1995.


Karya-karya
  • Hans J. Wospakrik,, Nonrecursive zeta-function regularization of the Fujikawa anomaly factor, Phys. Rev. D 40, 1367 - 1369 (1989)
  • Tracy LaQuey, Sahabat Internet: Pedoman bagi Pemula untuk Memasuki Jaringan Global, diterjemahkan oleh Hans J. Wospakrik, Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Penerbit ITB, 1997; Judul asli: Tracy LaQuey, Internet Companion: A Beginner's Guide to Global Networking. Copyright ©1994 by Tracy LaQuey and Editorial Inc. First published by Addison-Wesley Publishing Company, Inc., Reading, Massachusetts, USA
  • Hans J. Wospakrik, Freddy P. Zen, Inhomogeneous Burgers Equation and the Feynman-Kac Path Integral, arXiv.org, solv-int/9812014 (December 1998)
  • Hans J. Wospakrik, Path Integral Evaluation of the Free Propagator on the (D-1)-dimensional Pseudosphere, arXiv.org, quant-ph/9903005 (March 1999)
  • Hans J. Wospakrik and Freddy P. Zen, CPT Symmetries and the Backlund Transformations, arXiv.org, solv-int/9909007 (September 1999)
  • Hans J. Wospakrik, Classical Equation Of Motion Of A Spinning Nonabelian Test Body In General Relativity, Phys.Rev.D26:523-526,1982.
  • Hans J. Wospakrik, Dispersive Derivation Of The Triangle Anomaly, Mod.Phys.Lett.A1:403-407,1986.
  • Hans J. Wospakrik, Nonrecursive Zeta Function Regularization Of The Fujikawa Anomaly Factor, Phys.Rev.D40:1367-1369,1989.
  • Hans J. Wospakrik, Solutions For the SU(2) Chiral Field Equations Without Spatial Symmetry, Mod.Phys.Lett.A4:1915-1922,1989.
  • Hans J. Wospakrik, A direct heat kernel method for generating the conserved quantities of the ZS-AKNS system, Int.J.Mod.Phys.A6:163-170,1991.
  • Hans J. Wospakrik, Wojtek J. Zakrzewski, Alternative SU(N) Skyrme models and their solutions, J.Math.Phys.42:1066-1084,2001.
  • Hans J. Wospakrik, Wojtek J. Zakrzewski, SU(N) skyrmions from harmonic maps S(2) --> Gr(2,N), J.Math.Phys.43:1856-1874,2002.
  • Miftachul Hadi, Hans J. Wospakrik, SU(2) Skyrme Model for Hadron, IPS Journal, 2004.
  • Hans J. Wospakrik, Solutions of the massive SU(N) Yang-Mills equations by harmonic maps, J.Math.Phys.46:102306, 2005.
  • Hans J. Wospakrik, Particle and Soliton, IPS Journal, 2005.
  • Hans J. Wospakrik, Louis de Broglie : Perintis Kuantum Terakhir, Kompas, 8 Juli 1987, Arsip: Artikel-artikel populer LIPI,15 Maret 2005

Meninggal dunia

Dr Hans Jacobus Wospakrik meninggal dunia pada hari Selasa 11 Januari 2005 dalam usia 53 tahun di Rumah Sakit Dharmais, Jakarta, setelah tiga hari dirawat karena leukemia. Meninggalkan seorang istri, Regina Wospakrik-Sorentau, dan dua anak, Willem yang mahasiswa Jurusan Matematika ITB dan Marianette yang mahasiswa Jurusan Fisika ITB.

Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Hans_Wospakrik
http://www.penerbitkpg.com/penulis/detil/63/Hans.-J.-Wospakrik

Biografi John Tyndall - Penemu Efek Tyndall

John Tyndall 
Lahir:  2 Agustus 1820 Leighlinbridge, County Carlow, Irlandia

Meninggal: 4 Desember 1893 (umur 73) Haslemere, Surrey, Inggris

Bidang: Fisika , Kimia

Lembaga: Royal Institution of Great Britain

Alma mater: University of Marburg

Dikenal untuk: Efek Tyndall, diamagnetisme, radiasi inframerah, Tyndallization

Penghargaan: Royal Medal (1853), Rumford Medal (1864)
John Tyndall  ialah seorang ilmuwan Inggris yang mengemukakan peristiwa penghamburan cahaya oleh partikel koloid yang dikenal dengan Efek Tyndall. Efek Tyndall dapat digunakan untuk membedakan sistem koloid dan larutan sejati. Ia juga dikenal sebagai Pionir Kimia Lingkungan

Ketenaran ilmiah awalnya muncul di tahun 1850-an dari studi tentang diamagnetisme. Kemudian ia membuat penemuan di alam radiasi inframerah dan sifat fisik udara. Tyndall juga menerbitkan lebih dari selusin buku ilmu yang membawa negara-of-the-art abad ke-19 percobaan fisika ke khalayak luas. Dari 1853-1887 dia profesor fisika di Royal Institution of Great Britain di London.

Hasil penemuannya yang spektakuler telah memberi kontribusi yang sangat besar akan perkembangan ilmu pengetahuan dunia terutama dalam bidang kimia dan fisika.


Awal

John Tyndall lahir di Leighlinbridge, County Carlow, Irlandia pada  2 Agustus 1820. Ia berasal dari keluarga kurang berada namun sangat perduli dan memandang penting ilmu pengetahuan dan pendidikan. Setelah lulus sekolah, profesi John Tyndall sebelum menjadi ilmuwan adalah surveyor. Surveyor adalah seseorang yang kerjanya melakukan survey, membuat data, denah dan peta.


Penelitian

Sekitar tahun 1859, Tyndall mulai meneliti radiasi panas uap air yang membentuk awan, ozon, hidrokarbon, dan gas CO2. Dengan spectrophotometer rakitannya, ia mengukur daya serap gas-gas di udara. Dari hasil penelitiannya Tyndall menemukan fakta bahwa ozon, hidrokarbon, dan karbondioksida menyerap panas lebih banyak dibandingkan gas lainnya. Namun yang terbesar dari semuanya itu adalah uap air yang menyelimuti bumi. Melalui penelitian ini Tyndall menemukan gejala penghamburan sinar oleh partikel koloid yang kemudian di kenal dengan efek Tyndall. Pada peristiwa efek rumah kaca dan pada fenomena langit berwarna juga dapat ditelaah penyebabnya dari efek tyndall tersebut.

Efek rumah kaca yang menyebabkan bumi makin lama makin panas. Itu merupakan suatu hal yang mengerikan buat kita yang hidup di bumi. Tetapi di satu sisi sebenarnya efek rumah kaca ini yang membuat kita terus hidup. Kenapa demikian? Karena menurut hasil pengukuran spectrophotometer Tyndall, gas-gas yang berada di atmosfer memiliki kemampuan berbeda dalam menyerap panas. Gas-gas yang memiliki daya serap panas yang tinggi disebut gas-gas rumah kaca, karena menyelubungi kita, menyimpan dan menyegel panas sehingga kita tetap hangat pada malam hari.

Efek Tyndall juga dapat menerangkan mengapa langit pada siang hari berwarna biru, sedangkan ketika matahari terbenam di ufuk barat berwarna jingga atau merah. Hal tersebut dikarenakan penghamburan cahaya matahari oleh partikel-partikel koloid di angkasa, dan tidak semua frekuensi sinar matahari dihamburkan dengan intensitas yang sama. Hal inilah yang menjelaskan apa yang terjadi pada warna-warna pelangi.


Hal yang luput dari perhatian
  • Membunuh bakteri dalam susu, disebut Pasteurisasi (penemunya Louis Pasteur). Namun Tyndalisasi di Prancis lebih digemari. Tyndall-lah yang pertama memikirkan ini.
  • Seabad sebelum Alexander Flemming menemukan penicillin Tyndall sudah menjelaskan kerja jamur ini Menghasilkan zat antibiotik, menghambat tumbuhnya bakteri.

Kematian

John Tyndall meninggal di Haslemere, Surrey, Inggris pada 4 Desember 1893 pada usia 73 tahun karena kecelakaan overdosis obat.  (Berbagai sumber)

Daftar 25 Penemuan Terbaik 2014 Versi Time

Tongsis
Tongkat narsis atau disingkat tongsis (Selfie stick)
[Gb dari www.kaskus.co.id]
Majalah Time merilis daftar 25 penemuan terbaik sepanjang 2014, mulai dari mobil listrik, reaktor fisi nuklir, hingga filter virus ebola. Dari ke-25 daftar tersebut terdapat Tongkat Narsis "Tongsis".

Tongkat narsis atau disingkat tongsis adalah alat yang digunakan untuk selfie dari jarak jauh yang berupa tongkat yang dapat dipanjangkan dengan di ujung tongkat terdapat tempat untuk menaruh telepon selular atau perangkat portabel lainnya. Alat ini merupakan modifikasi dari kaki-satu (monopod). Tongsis ramai digunakan seiring perkembangan telepon selular yang semakin beragam. Alat ini pertama kali diciptakan dan dipatenkan oleh orang Indonesia, Anindito Respati Giyardani.

"tongsis yang berbentuk tongkat panjang dengan alat penggenggam smartphone di ujungnya itu menawarkan nilai lebih untuk para pengguna gadget." Demikian Time, Senin (24/11/2014).

"Selfie stick (yang diproduksi oleh banyak merek) memungkinkan pengguna memosisikan smartphone lebih jauh dari rentang tangan sehingga mendapat angle yang lebih baik," tulis Time, mengutip ucapan analis Gartner, Van Baker.

Time (atau TIME) adalah sebuah majalah berita mingguan Amerika Serikat. TIME diterbitkan dalam beberapa edisi, edisi Eropa (Time Europe, dulu bernama Time Atlantic) diterbitkan dari London. Time Europe dijual di Timur Tengah, Afrika dan (sejak 2003) Amerika Latin. Edisi Asia (Time Asia) berpusat di Hong Kong, sedangkan edisi Kanada (Time Canada) berpusat di Toronto.


Daftar lengkap 25 penemuan terbaik 2014 versi Time:
  1. AC hemat daya "Aros"
  2. Action figure "IAMelemental"
  3. Bola basket pintar "94fifty"
  4. Bungkus makanan yang bisa dimakan "Wikipearls"
  5. Cincin reminder "Ringly"
  6. Cip "Lumo Lift"
  7. Filter Ebola "Hemopurifier"
  8. Frame digital "Electric Objects"
  9. Jam tangan pintar "Apple Watch"
  10. Kamar penjara "Blue Room"
  11. Kotak es "Coolest Cooler"
  12. Kotak obat "Pillpack"
  13. Listrik nirkabel "Witricity"
  14. Mobil listrik "BMW i3"
  15. Penerjemah bahasa tubuh "MotionSavvy uni"
  16. Pisang anti kebutaan "Superbananas"
  17. Printer tiga dimensi "3D Systems"
  18. Roda sepeda lisrik "Copenhagen Wheel"
  19. Smartphone Android "Blackphone"
  20. Skateboard tanpa roda "Hoverboard"
  21. Tablet mainan "Osmo"
  22. Tablet "Microsoft Surface"
  23. Tongsis ("Selfie Stick")
  24. Reaktor fisi nuklir "High-beta"
  25. Wahana antariksa "Mangalyaan"

Qutb al-Din al-Shirazi - Ilmuwan Muslim ahli Matematika, Astronomi, obat-obatan, ilmu pengetahuan dan filsafat

Qutb al-Din al-Shirazi
Qutb al-Din Shirazi
Lahir: 1236 Kazerun

Meninggal: 7 Februari 1311 Tabriz

Yurisprudensi: Sufi

Minat utama: Matematika, Astronomi, obat-obatan, ilmu pengetahuan dan filsafat

Karya: Almagest, The Royal Hadir, Pearly Crown, dll
Qutb al-Din al-Shiraz adalah seorang ulama, penyair, dokter dan ilmuwan Muslim Persia abad ke-13, yang membuat kontribusi untuk astronomi , matematika, kedokteran, fisika, teori musi , filsafat dan tasawuf. Ia juga master pemain catur dan memainkan alat musik yang dikenal sebagai Rabab, instrumen favorit dari penyair Rumi Persia.


Biografi

Ia lahir di Kazerun pada bulan Oktober 1236 dari keluarga dengan tradisi tasawuf. Ayahnya, Zia 'al-Din Mas'ud Kazeruni adalah seorang dokter  dan juga memimpin Sufi dari tatanan Kazeruni. Zia Al-Din menerima Kherqanya (jubah Sufi) dari Shahab al-Din Suhrawardi Omar. Qutb al-Din yang berpakaian Kherqa (jubah Sufi) sebagai berkah dari ayahnya pada usia sepuluh. Kemudian, ia juga menerima jubahnya sendiri dari tangan Najib al-Din Bozgush Shirazni, Sufi terkenal di zamannya. Quthb al-Din mulai belajar kedokteran di bawah asuhan ayahnya. Ayahnya melatih dan mengajar kedokteran di rumah sakit Mozaffari di Shiraz. Saat Quthb al-Din berusia 14 tahun, ayahnya meninggalnya dunia, sehingga pamannya dan master lainnya melatihnya kedokteran. Ia juga mempelajari Qanun (the Canon ) yang dikenal karena komentarnya sarjana Persia, Ibnu Sina. Secara khusus ia membaca komentar dari Fakhr al-Din Razi di Canon of Medicine dan Quthb al-Din mengangkat banyak isu sendiri. Hal ini menyebabkan keputusan sendiri untuk menulis komentarnya sendiri, di mana ia memutuskan banyak masalah di perusahaan Nasir al-Din al-Tusi .

Qutb al-Din kehilangan ayahnya pada usia empat belas tahun sehingga menjadi dokter mata di rumah sakit Mozaffari di Shiraz menggantikan posisi ayahnya tersebut. Pada saat yang sama, ia menimba ilmu dari pamanny,a Kamal al-Din Abu'l Khayr, Sharaf al-Din Zaki Bushkani, dan Shams al-Din Mohammad Kishi. Ketiganya adalah guru ahli dari Canon of Avicenna. Dia berhenti dari profesi medis sepuluh tahun kemudian dan mulai mencurahkan waktu untuk pendidikan lanjutan di bawah bimbingan Nasir al-Din al-Tusi. Ketika Nasir al-Din al-Tusi, sarjana-wazir terkenal dari Mongol Holagu Khan mendirikan observatorium dari Maragha, Qutb al-Din Shirazi menjadi tertarik ke kota. Dia meninggalkan Shiraz beberapa saat setelah tahub 1260 dan di Maragha sekitar tahun 1262. Di Maragha Qutb al-din kembali mendapat pendidikan dalam bimbingan Nasir al-Din al-Tusi , dengannya ia mempelajari al-Esharat wa-Tanbihat of Avicenna. Dia membahas kesulitan dia dengan Nasir al-Din al-Tusi pada pemahaman kitab pertama dari Canon of Avicenna. Saat bekerja di observatorium baru, ia belajar astronomi di bawahnya. Salah satu proyek ilmiah yang penting adalah penyelesaian tabel astronomi baru ( zij ). Dalam wasiat (wasiat), Nasir al-Din al-Tusi menyarankan anaknya sil-a-Din untuk bekerja dengan Qutb al-Din dalam penyelesaian Zij.

Selanjutnya, ia melakukan perjalanan ke Khorasan di perusahaan Nasir al-Din al-Tusi di mana ia tinggal untuk belajar di bawah Najm al-Din Katebi Qazvini di kota Jovayn dan menjadi asistennya. Setelah tahun 1268, ia berangkat ke Qazvin, Isfahan, Baghdad dan kemudian Konya di Anatolia. Ini adalah saat ketika penyair Persia Jalal al-Din Muhammad Balkhi ( Rumi ) mendapatkan ketenaran di sana dan melaporkan bahwa Qutb al-Din juga bertemu dengannya. Di Konya, ia mempelajari Jam'e al-Osul Ibn Al-Atsir dengan Sadr al-Din Qunawi. Gubernur Konya, Mo'in al-Din Parvana menunjuknya sebagai hakim Sivas dan Malatya. Selama waktu ini ia menyusun buku-buku Mefta' al-meftah, Ekhtiarat al-mo'affariya, dan komentarnya tentang Sakkaki. Pada tahun 1282, ia utusan atas nama Ilkhanid Ahmad Takudar ke Sayf al-Din Qalawun, Mamluk penguasa Mesir. Dalam suratnya kepada Qalawun, penguasa Ilkhanid menyebutkan Qutb al-Din sebagai hakim ketua. Qutb al-Din selama ini mengumpulkan berbagai kritik dan komentar tentang Avicenna 's Canon dan menggunakannya pada komentarnya di Kolliyat. Bagian terakhir dari karir aktif Quthb al-Din mengajar Canon of Avicenna dan Shefa Avicenna di Suriah. Ia segera berangkat ke Tabriz dan meninggal tak lama setelahnya.

Shirazi mengidentifikasi pengamatan oleh sarjana Avicenna di abad ke-11 dan Ibnu Bajjah di abad ke-12 sebagai transit dari Venus dan Merkurius.  Namun, Ibnu Bajjah tidak bisa mengamati transit Venus, karena tidak terjadi dalam hidupnya.


Wafat

Qutb al-Din al-Shirazi meninggal di Tabriz pada 7 Februari 1311. Ia dimakamkan di pemakaman kota Carandab.


Karya-karyanya
Quthbuddin asy-Syirazi memiliki banyak karya, antara lain:
  • Nihayatu al-Idrak fi Dirayati al-Aflak, sebuah Kitab yang didalamnya terdapat berbagai disiplin ilmu seperti Ilmu Falak, geologi, oseanologi, klimatologi, meteorologi, mekanika dan optik
  • Kitab at-Tuhfatu asy-Syahiyyah, tentang kinematika
  • Kitab at-Tabshirah, tentang kinematika
  • Kitab Nuzhatu al-Hukama' wa Raudhatu al-Athibba, merupakan penjelasan dan komentar terhadap kitab Al-Qanun milik Ibnu Sina, kitab ini merupakan penjelasan tentang kebutuhan terhadap dokter dan adab serta nasehat di bidang kedokteran
  • At-Tuhfatu as-Sa`diyyah, penjelasan keseluruhan kitab Al-Qanun fi ath-Thibb
  • Sebuah tulisan tentang penyakit kusta
  • Tulisan dalam bidang ilmu falak dan berbagai sains lainnya
  • Tulisan dalam ilmu al-Qur'an dan al-Hadits
(Sumber:Wikipedia

Biografi Soemitro Djojohadikoesoemo - Ekonom Indonesia

Soemitro Djojohadikoesoemo
Soemitro Djojohadikoesoemo
Menteri Keuangan Republik Indonesia ke-8
Masa jabatan: 3 April 1952 – 30 Juli 1953
Masa jabatan: 12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956

Menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia ke-7
Masa jabatan: 6 September 1950 – 27 April 1951
Masa jabatan: 6 Juni 1968 – 28 Maret 1973

Lahir: 29 Mei 1917 Kebumen, Jawa Tengah, Hindia Belanda

Meninggal: 9 Maret 2001 (umur 83) Jakarta, Indonesia

Suami/istri: Dora Marie Sigar

Anak: 
  • Biantiningsih Miderawati Djiwandono
  • Marjani Ekowati le Maistre
  • Prabowo Subianto
  • Hashim Sujono

Alma mater: Universitas Sorbonne

Agama: Islam
Prof. Dr. Soemitro Djojohadikoesoemo adalah salah seorang ekonom Indonesia yang terkenal. Murid-muridnya banyak yang berhasil menjadi menteri pada era Suharto seperti JB Sumarlin, Ali Wardhana, dan Widjojo Nitisastro.

Soemitro lahir di Kebumen, Jawa Tengah, Hindia Belanda pada 29 Mei 1917. Ia adalah anak dari Raden Mas Margono Djojohadikusumo, pendiri Bank Negara Indonesia dan Ketua DPAS pertama dan anggota BPUPKI. Soemitro juga merupakan ayah dari Mantan Danjen Kopassus, Prabowo Subianto, ayah mertua dari mantan Gubernur Bank Indonesia, Soedradjad Djiwandono, dan juga besan dari mantan Presiden Indonesia, Soeharto.

Dalam pemerintahan, posisi yang pernah diembannya adalah sebagai Menteri Keuangan, Menteri Perindustrian dan Menteri Riset atau Menristek saat ini.


Karier

Sumitro pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan dan Perindustrian RI dan ikut mendirikan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia saat usianya genap 33 tahun. Ia meraih gelar doktor di Nederlandse Economise Hogeschool, Rotterdam, Belanda pada tahun 1943 dengan disertasi berjudul Het Volkscredietwezen in de Depressie.

Sumitro dikenal aktif menulis, dengan cakupan khusus masalah ekonomi. Buku terakhir ia tulis adalah Jejak Perlawanan Begawan Pejuang, diterbitkan Pustaka Sinar Harapan, April 2000. Selama 1942-1994, Sumitro menulis sebanyak 130 buku dan makalah dalam bahasa Inggris.

Sumitro memperoleh banyak penghargaan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Misalnya, Bintang Mahaputra Adipradana (II), Panglima Mangku Negara, Kerajaan Malaysia, Grand Cross of Most Exalted Order of the White Elephant, First Class dari Kerajaan Thailand, Grand Cross of the Crown dari Kerajaan Belgia, serta yang lainnya dari Republik Tunisia dan Prancis.


Meninggal dunia

Soemitro Djojohadikoesoemo meninggal di Jakarta, Indonesia pada 9 Maret 2001 (umur 83). (sumber: Wikipedia)

Biografi Luis Federico Leloir - Penemu Jalur Metabolisme Dalam Laktosa

Luis Federico Leloir
Luis Federico Leloir
[Gb. Wikipedia]
Lahir: 6 September 1906, Paris, Prancis

Meningga: 2 Desember 1987 Buenos Aires, Argentina

Tempat tinggal: Buenos Aires, Argentina

Kebangsaan: Argentina Argentina

Bidang: Biokimia

Lembaga:
  • University of Buenos Aires
  • Washington University di St Louis (1943-1944)
  • Columbia University (1944-1945)
  • Fundación Instituto Campomar (1947-1981)
  • University of Cambridge (1936-1943)

Alma mater: University of Buenos Aires

Dikenal untuk:
  • Galaktosemia
  • Intoleransi laktosa
  • Metabolisme karbohidrat

Penghargaan:
  • Louisa Gross Horwitz Prize (1967)
  • Nobel Kimia (1970)
  • Legion of Honour (1982)
Luis Federico Leloir adalah seorang dokter dan Biokimiawan Argentina yang menerima penghargaan Nobel Kimia tahun 1970 untuk penelitiannya pada nukleotida gula dan perannya dalam biosintesis karbohidrat.

Leloir lahir di Perancis namun ia menerima sebagian besar pendidikannya di Universitas Buenos Aires dan menjadi direktur di grup penelitian swasta Fundación Instituto Campomar hingga kematiannya pada tahun 1987. Meski laboratoriumnya sering terganggu oleh kurangnya bantuan uang dan peralatan tingkat dua, penelitiannya tentang nukleotida gula, metabolisme karbohidrat dan hipertensi ginjal mendapatkan perhatian dan kepopuleran internasional dan telah menimbulkan langkah maju dalam pemahaman, diagnosis dan penanganan penyakit bawaan galaktosemia.


Biografi

Luis Federico Leloir lahir di Paris, Prancis pada 6 September 1906, dari pasangan Federico Leloir dan Hortensia Aguirre de Leloir. Ia lahir di sebuah rumah tua di Jalan Víctor Hugo no. 81 di Paris, beberapa blok jauhnya dari Arc de Triomphe.

Sejak kecilnya, Luis senang mengamati fenomena alam dengan kepentingan tertentu. Di sekolah ia senang membaca buku tentang hubungan antara ilmu alam dan biologi. Ia pernah mengenyam penmdidikan di Escuela General San Martín (SD), Colegio lacordaire (sekolah menengah), dan selama beberapa bulan di Beaumont College di Inggris.

Di tahun 1920 Leloir menemukan salsa golf (golf saus). Setelah udang disajikan dengan saus yang biasa menjadi menu saat makan siang dengan teman-temannya di Ocean Club di Mar del Plata, Leloir datang dengan kombinasi aneh dari saus tomat dan mayones untuk membumbui makanannya.

Luis Federico Leloir meninggal di Buenos Aires, Argentina pada 2 Desember 1987.


Nukleotida gula

Pada awal tahun 1948, Leloir dan timnya mengidentifikasi mendasar tentang nukleotida gula untuk metabolisme karbohidrat, mengubah Instituo Campomar menjadi lembaga biokimia terkenal di seluruh dunia. Segera setelah itu, Leloir menerima Argentine Scientific Society Prize, salah satu dari banyak penghargaan yang ia terima baik di Argentina maupun internasional. Selama ini, timnya mendedikasikan dirinya untuk mempelajari glikoprotein ; Leloir dan rekan-rekannya menjelaskan mekanisme utama metabolisme galaktosa (sekarang diciptakan jalur Leloir) dan menentukan penyebab galaktosemia, kelainan genetik serius yang mengakibatkan intoleransi laktosa.

Tahun berikutnya, ia mencapai kesepakatan dengan Roland Garcia, Kepala Departemen Ilmu Pengetahuan Alam di UBA, yang bernama Leloir, Carlos Eugenio Cardini dan Enrico Cabib sebagai profesor tituler di Universitas yang baru didirikan Institut Biokimia. Institute akan membantu mengembangkan program ilmiah di perguruan Argentina serta menarik peneliti dan akademisi dari Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Perancis, Spanyol, dan negara-negara Amerika Latin lainnya.


Karir selanjutnya

Leloir melanjutkan posisi mengajar di Departemen Ilmu Pengetahuan Alam di Universitas Buenos Aires, mengambil cuti hanya untuk menyelesaikan studinya di Cambridge dan di Laboratorium Penelitian Enzim di Amerika Serikat.

Pada tahun 1983, Leloir menjadi salah satu anggota dari pendiri Third World Academy of Sciences, kemudian berganti nama menjadi  TWAS.


Hadiah Nobel

Pada tanggal 2 Desember 1970, Leloir menerima Hadiah Nobel untuk Kimia dari Raja Swedia untuk penemuan jalur metabolisme dalam laktosa, menjadi orang Argentina ketiga untuk menerima penghargaan bergengsi dalam bidang apapun.


Penghargaan
  • 1943 Third National Science Award
  • 1958 T. Ducett Jones Memorial Award
  • 1965 Bunge and Born Foundation Award
  • 1966 Gairdner Foundation Award
  • 1967 Columbia University's Louisa Gross Horwitz Prize
  • 1968 Benito Juárez Award
  • 1968 Honorary Doctorate from Universidad Nacional de Córdoba
  • 1968 Argentina Chemistry Association's Juan José Jolly Kyle Award
  • 1969 Honorary member of the English Biochemical Society
  • 1970 Nobel Prize in Chemistry
  • 1971 Legion de Honor “Orden de Andrés Bello”
  • 1976 Bernardo O'Higgins en el Grado de Gran Cruz
  • 1982 Legion of Honour
  • 1983 Diamond Konex Award: Science and Technology


Karya yang diterbitkan
  • "Suprarrenales y Metabolismo de los hidratos de carbono", (1934)"Farmacología de la hipertensina", (1940)
  • "Hipertensión arterial nefrógena, (1943)
  • "Perspectives in Biology", (1963)
  • "Renal Hipertensión", (1964)
  • Mordoh J, Leloir LF, Krisman CR (January 1965). "In vitro Synthesis of Particulate Glycogen". Proc. Natl. Acad. Sci. U.S.A. 53: 86–91. doi:10.1073/pnas.53.1.86. PMC 219438. PMID 14283209.
  • Parodi AJ, Krisman CR, Leloir LF, Mordoh J (September 1967). "Properties of synthetic and native liver glycogen". Arch. Biochem. Biophys. 121 (3): 769–78. doi:10.1016/0003-9861(67)90066-5. PMID 6078102.
  • — (1983). "Far away and long ago". Annu. Rev. Biochem. 52: 1–15. doi:10.1146/annurev.bi.52.070183.000245. PMID 6351722.
  • "Lipid-bond Saccharides containing glucose and galactose in agrobacterium tumefaciens", (1984)
  • Zorreguieta, A.; Ugalde, R.A.; Leloir, L.F. (January 1985). "An intermediate in cyclic beta 1-2 glucan biosynthesis". Biochem. Biophys. Res. Commun. 126 (1): 352–7. doi:10.1016/0006-291X(85)90613-8. PMID 3970697.
  • Tolmasky, M.E.; Staneloni, R.J.; Leloir, L.F. (1982). "Structural correspondence between an oligosaccharide bound to a lipid with the repeating unit of the Rhizobium meliloti". Anales de la Asociación Química Argentina 70: 833–842.
  • Tolmasky, M.E.; Takahashi, H.K.; Staneloni, R.J.; Leloir, L.F. (1982). "N-glycosilation of the proteins". Anales de la Asociación Química Argentina 70: 405–411.
  • Staneloni, R.J.; Tolmasky, M.E.; Petriella, C.; Leloir, L.F. (November 1981). "Transfer of Oligosaccharide to Protein from a Lipid Intermediate in Plants". Plant Physiology 68 (5): 1175–9. doi:10.1104/pp.68.5.1175.
  • Staneloni, R.J.; Tolmasky, M.E.; Petriella, C.; Ugalde, R.A.; Leloir, L.F. (10 January 1980). "Presence in a plant of a compound similar to the dolichyl diphosphate oligosaccharide of animal tissue". Biochemical Journal 191 (1): 257–260. PMC 1162206. PMID 7470095.
  • Tolmasky, M.E.; Staneloni, R.J.; Ugalde, R.A.; Leloir, L.F. (August 1980). "Lipid-bound sugars in Rhizobium melilotii". Archives of Biochemistry and Biophysics 203 (1): 358–364. doi:10.1016/0003-9861(80)90187-3.
(Sumber: Wikipedia)

Nasiruddin Al-Tusi - Ilmuwan Muslim Serba Bisa Abad Ke-13

Oberservatorium Maragha
Oberservatorium Maragha karya Al-Tusi
[http://en.wikipedia.org/wiki/Maragheh_observatory]
Nasiruddin Al-Tusi atau yang bernama lengkap Abu Jafar Muhammad ibn Muhammad ibnu al-Hasan Nasiruddin al-Tusi, adalah seorang ilmuwan serbabisa yang berasal dari Persia.  Beragam ilmu pengetahuan dikuasainya, seperti  astronomi, biologi, kimia, matematika, filsafat, kedokteran hingga ilmu agama Islam.


Awal

Al-Tusi lahir di kota Tus yang terletak di dekat Meshed,  Persia  sekarang sebelah timurlaut Iran pada 18 Februari 1201 (awal abad ke-13 M). Ia terlahir ketika dunia Islam tengah mengalami masa-masa sulit. Pada era itu, kekuatan militer Mongol yang begitu kuat terus menginvansi wilayah kekuasaan Islam. Satu demi satu, kota-kota Islam dihancurkan dan jatuh ke tangan bangsa Mongol. Dihadapkan pada situasi sulit seperti itu, al-Tusi pun tak dapat mengelak. Al-Tusi tetap belajar dengan segala keterbatasan yang dihadapi.


Pendidikan

Ayahnya adalah guru pertama baginya. Sejak belia, al-Tusi  digembleng ilmu agama oleh sang ayahnya yang berprofesi sebagai seorang ahli hukum di Sekolah Imam Keduabelas. Selain digembleng ilmu agama di sekolah itu, al-Tusi juga mempelajari beragam topik ilmu pengetahuan lainnya dari sang paman.

Pengetahuan tambahan yang diperoleh dari pamannya itu begitu berpengaruh pada perkembangan intelektual al-Tusi. Pengetahuan pertama yang diperolehnya dari sang paman antara lain; logika, fisika, metafisika. Ia begitu tertarik pada aljabar dan geometri.

Ketika menginjak usia 13 tahun, kondisi keamanan kian tak menentu. Pasukan Mongol dibawah pimpinan Jengis Khan yang berutal dan sadis mulai bergerak cepat dari Cina ke wilayah barat. Sebelum tentara Mongol menghancurkan kota kelahirannya, dia sudah mempelajari dan menguasai beragam ilmu pengetahuan.

Untuk menimba ilmu lebih banyak lagi, al-Tusi hijrah dari kota kelahirannya ke Nishapur sebuah kota yang berjarak 75 km di sebelah barat Tus. Di kota itulah, sang saintis agung menyelesaikan pendidikannya filsafat, kedokteran dan matematika. Dia sungguh beruntung, karena bisa belajar matematika dari Kamaluddin ibn Yunus. Kariernya mulai melejit di Nishapur.


Menjadi pejabat di Istana Ismailiyah

Pada tahun 1220, invasi militer Mongol telah mencapai Tus dan kota kelahiran Nasiruddin pun dihancurkan. Ketika situasi keamanan tak menentu, penguasa Ismailiyah Nasiruddin Abdurrahim mengajak sang ilmuwan itu untuk bergabung. Tawaran itu tak disia-siakannya. Nasiruddin pun bergabung menjadi salah seorang pejabat di Istana Ismailiyah.

Selama mengabdi di istana itu, ia mengisi waktunya untuk menulis beragam karya yang penting tentang logika, filsafat, matematika serta astronomi. Karya pertamanya adalah kitab Akhlag-i Nasiri yang ditulisnya pada 1232.

Pasukan Mongol yang dipimpin Hulagu Khan  cucu Jengis Khan  pada tahun 1251 akhirnya menguasai istana Alamut dan meluluh-lantakannya. Nyawa al-Tusi selamat, karena Hulagu ternyata sangat menaruh minat terhadap ilmu pengetahuan. Hulagu yang dikenal bengis dan kejam memperlakukannya dengan penuh hormat. Dia pun diangkat Hulagu menjadi penasihat di bidang ilmu pengetahuan.

Meski telah menjadi penasihat pasukan Mongol, sayangnya al-Tusi tak mampu menghentikan ulah dan kebiadaban Hulagu Khan yang membumihanguskan metropolis intelektual dunia, Baghdad pada tahun 1258. Terlebih, saat itu Dinasti Abbasiyah berada dalam kekuasaan Khalifah Al-Musta'sim yang lemah. Terbukti, militer Abbasiyah tak mampu membendung gempuran pasukan Mongol.

Meski tak mampu mencegah terjadinya serangan bangsa Mongol, paling tidak Nasiruddin bisa menyelamatkan dirinya dan masih berkesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Hulagu sangat bangga karena berhasil menaklukkan Baghdad dan lebih bangga lagi karena ilmuwan terkemuka seperti Al-Tusi bisa bergabung bersamanya.


Membangun Observatorium di Malagha

Hulagu juga amat senang, ketika Nasirrudin mengungkapan rencananya untuk membangun Observatorium di Malagha. Saat itu, Hulagu telah menjadikan Malagha yang berada di wilayah Azerbaijan sebagai ibu kota pemerintahannya. Pada tahun 1259, al-Tusi pun mulai membangun observatorium yang megah. Jejak dan bekas bangunan observatorium itu masih ada hingga sekarang.

Observatorium Malagha mulai beroperasi pada tahun 1262. Pembangunan dan operasional observatorium itu melibatkan sarjana dari Persia dibantum astronom dari Cina. Tekonologi yang diunakan di observatorium itu terbilang canggih pada zamannya. Beberapa peralatan dan teknologi penguak luar angkasa yang digunakan di observatorium itu ternyata merupakan penemuan Nasiruddin, salah satunya adalah kuadran azimuth.

Selain itu, dia juga membangun perpustakaan di observatorium itu. Koleksi bukunya tebilang lengkap, terdiri dari beragam ilmu pengetahuan. Di tempat itu, al-Tusi tak cuma mengembangkan bidang astronomi saja. Dia pun turut mengembangkan matematikan serta filsafat.

Di Observatorium yang dipimpinnya itu, al-Tusi berhasil membuat tabel pergerakan planet yang sangat akurat. Kontribusi lainnya yang amat penting bagi perkembangan astronomi adalah kitab  Zij-i Ilkhaniyang ditulis dalam bahasa Persia dan lalu diterjemahkan dalam bahasa Arab. Kitab itu disusun setelah 12 tahun memimpin obeservatorium Malagha.

Selain itu, al-Tusi juga berhasil menulis kitab terkemuka lainnya berudul Al-Tadhkira fi'ilm Al-hay'a (Memoir Astronomi). Nasiruddin mampul memodifikasi model semesta episiklus Ptolomeus dengan prinsip-prinsip mekanika untuk menjaga keseragaman rotasi benda-benda langit. Ia wafat pada 26 Juni 1274 di Baghdad. Meski begitu, jasa dan kontribusinya dalam pengembangan ilmu pengetahuan masih tetap dikenang.  hri


Karya dan Pencapaian Sang Ilmuwan Besar

Selama mendedikasikan hidupnya dalam pengembangan ilmu pengetahuan, Nasiruddin Al-Tusi telah menulis beragam kitab yang mengupas bermacam ilmu pengetahuan. Di antara kitab yang berhasil ditulisnya itu antara lain; kitab Tajrid-al-'Aqaid, sebuah kajian tentang Ilmu Kalam; serta Al-Tadhkirah fi'ilm al-hay'ah, sebuah memoir tentang ilmu astronomi.

Kitab tentang astronomi yang ditulis Nasiruddin itu banyak mendapat komentar dari para pakar astronomi. Komentar-komentar itu dibukukan dalam sebuah buku berjudulSharh al-Tadhkirah (Sebuah Komentar atas Al-Tadhkirah) yang ditulis Abd al-Ali ibn Muhammad ibn al-Husayn al-Birjandi dan Nazzam Nishapuri.

Selain itu, Nasiruddin juga menulis kitab berjudul Akhlaq-i-Nasri yang mengupas tentang etika. Kitab lainnya yang terbilang populer adalah Al-Risalah Al-Asturlabiyah (Risalah Astrolabe). Kitab ini mengupas tentang peralatan yang digunakan dalam astronomi. Di bidang astronomi, Nasiruddin juga menulis risalah yang amat populer, yakni Zij-i ilkhani (Ilkhanic Tables). Ia juga menulis Sharh Al-Isharat, sebuah kritik terhadap hasil kerja Ibnu Sina.

Selama tinggal di Nishapur, Nasiruddin memiliki reputasi yang cemerlang, sebagai ilmuwan yang beda dari yang lain. Pencapaian mengagumkan yang berhasil ditorehkan Nasiruddin dalam bidang matematika adalah pembuatan rumus sinus untuk segitiga, yakni; a / sin A = b / sin B = c / sin C.  hri


Kontribusi

Astronomi - Ia menulis beragam kitab yang mengupas tentang Astronomi. al-Tusi juga membangun observatorium yang mampu menghasilkan tabel pergerakan planet secara akurat. Model sistem plenaterium yang dibuatnya diyakini paling maju pada zamannya. Dia juga berhasil menemukan sebuah teknik geometrik yang dikenal dengan al-Tusi-couple. Sejarah juga mencatat, al-Tusi sebagai astronom pertama yang mengungkapkan bukti observasi empiris tentang rotasi Bumi.

Biologi - Ia juga turut memberi sumbangan dalam pengembangan ilmu hayat atau biologi. Ia menulis secara luas tentang biologi.  Al-Tusi  menempatkan dirinya sebagai perintis awal dalam evolusi biologi. Dia memulai teorinya tentang evolusi dengan alam semesta yang terdiri dari elemen-eleman yang sama dan mirip. Menurutnya, kontradiksi internal mulai tampak , dan sebagai sebuah hasil, beberapa zat mulai berkembang lebih cepat dan berbeda dengan zat lain.

Dia lalu menjelaskan bagaimana elemen-elemen berkembang menjadi mineral kemudian tanaman, kemudian hewan dan kemudian manusia. Di juga menjelaskan bagaimana variabilitas heriditas merupakan faktor penting dalam evolusi biologi mahluk hidup.

Kimia - Al-Tusi  mengungkapkan versi awal tentang hukum kekekalan massa. Inilah salah satu kontribusinya yang paling penting dalam ilmu kimia. Zat dalam tubuh tak bisa sepenuhnya menghilang. Zat itu hanya mengubah bentuk, kondisi, komposisi, warna dan bentuk lainnya yang berbeda.

Matematika - Selain menghasilkan rumus sinus pada segitiga,  al-Tusi  juga  seorang  matematikus pertama yang memisahkan trigonometri sebagai disiplin ilmu yang terpisah dari matematika.


Wafat

Abu Jafar Muhammad ibn Muhammad ibnu al-Hasan Nasiruddin al-Tusi wafat di Baghdad, Irak pada 26 Juni 1274. (Sumber: www.suaramedia.com)